HOME

Kata “Sinergi” banyak dipakai oleh para pimpinan dan Kata “Selaras” banyak dipakai oleh tokoh masyarakat…

Apakah ucapan itu dimengerti dan difahami?…

Apakah ucapan itu tulus dan ikhlas?…

Sudah puluhan tahun yang lalu saya sering mendengar dua patah kata itu selalu diucapkan, akan tetapi sudah puluhan tahun pula dua patah kata itu tidak pernah terlaksana dan terwujud, bahkan keretakan dalam masyarakat semakin melebar, kebebasan semakin mengganggu kebebasan yang lain, perbedaan pendapat semakin meruncing, bahkan setiap saat pertikaian tidak dapat dielakkan lagi, baik pada tingkatan masyarakat umum maupun para pimpinan politik.

Apakah tidak ada lagi manusia yang memiliki cita-cita membangun “Sinergi” dan “Selaras”?….

Saya sangat prihatin dengan kenyataan dalam kehidupan ini, karena :

1. Moralitas manusia semakin rendah

2. Individualitas manusia semakin tinggi,

3. Mentalitas manusia semakin rendah,

4. Pandangan hidup tidak jelas.

Sesungguhnya, akan kemanakah hidup dan kehidupan ini?…

Secara teori semua ucapan dan slogan sangat terpuji, akan tetapi sangat sulit dalam mewujudkannya.

Dalam hal ini, tidak ada yang dapat disalahkan dalam penyampaiannya, akan tetapi tidak adanya contoh konkret pelaksanaannya. Menurut anda kata “Sinergi” dan “Selaras” adalah kata yang sangat tinggi nilai harkatnya. Sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan pada orang-orang terdahulu, konsistensi hubungan antar manusia, disaksikan oleh alam semesta sebagai hakim yang tidak terlihat, berpatokan pada nilai dan implementasi “SINERGI” dan “SELARAS”.
Kedua kata tersebut sering sekali diucapkan dan diperdengarkan, baik dari kalangan atas hingga kalangan bawah. Juga sering kali kedua kata ini menjadi kendaraan martabat dunia, sehingga kata “SINERGI” dan “SELARAS” menjadi kata-kata yang biasa diperdengarkan tanpa kejelasan arti dan implementasi nyata. Bahkan tidak mempengaruhi cita-cita bersama, karena sudah banyak yang menganggap hanya sebatas ucapan dan penghias bibir saja.

Hanya Bangsa Indonesia yang pernah dan memiliki nilai “Sinergi” dan “Selaras” yang sangat tinggi harkatnya, yang telah disusun dan dibakukan oleh para pendahulu negeri ini. Dan ditinggalkan untuk para penerusnya. Sedangkan saya hanya penggali nilai-nilai luhur yang ditinggalkan oleh para leluhur, yang telah dibakukan pada Pancasila sebagai FALSAFAH bangsa dan dasar Negara Republik Indonesia.
Sedangkan pelaksanaannya dibakukan secara ringkas dan jelas pada Undang-Undang Dasar 1945.

Sinergi mengandung arti mengerti dan memahami peran fungsi pribadi masing-masing dan ikut berproses sesuai dengan peran fungsi.
Selaras mengandung arti mengerti dan memahami proses sinergi dari peran fungsi dengan tidak meninggikan atau merendahkan peran fungsi.
Sedangkan Pancasila sebagai indikator keselarasan dan UUD 1945 sebagai indikator Sinergi.
Jadi Keselarasan dalam bersinergi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Kalaulah anda pernah menghubungkan antara Kitab yang tersurat dan kitab yang tersirat dengan Pancasila dan UUD 1945. Maka anda akan menemukan benang merah yang sangat banyak.
Secara tertulis anda akan mengatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang beragama (patuh pada firman Alloh) dan menjunjung tinggi Hak Azasi Manusia.
Tapi Implementasi belum ada, belum menemukan manusia yang Amanah (Jujur, Benar, Welas Asih. Yaqin terhadap diri sendiri). Kenapa?..

Karena Kendala terbesarnya sesuai dengan firman NYA “Sungguh banyak manusia yg menuhankan keinginannya, dan siapakah yang sanggup menjadi penolong bagi manusia yang menuhankan keinginannya..”

Harapan kedepan, kami berserah diri kepada MU yang Maha Kuasa, tunjukan kepada kami manusia yang dapat memimpin negeri ini sesuai yang ENGKAU janjikan..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s