Spiritual Quotient

Kecerdasan spiritual… Ketenangan dan kebahagian

PENGANTAR

Pada zaman Rasulullah Ilmu Tauhid belum ada, Rasulullah memberikan contoh watak dan perilaku teladan (dalam hal ini kita sebut sebagai perilaku bertauhid). Lama setelah Rasulullah wafat para ulama sependapat bahwa Tauhid adalah dasar yang paling pokok dalam ajaran Islam.

Selama 22 Tahun sejak Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai Rasulullah, selama 12 tahun Rasululloh di Makkah menerima wahyu yang berhubungan dengan ketauhidan (disebut sebagai ayat-ayat Makkiah), dan kebanyakan dari ayat ini tergolong dalam Mutasyabihat. Kemudian Rasululloh hijrah ke Madinah. Selama di Madinah Rasul menerima wahyu yang berhubungan dengan hukum, tata negara dan sosiologi.

Demikian secara singkat Rasul menerima wahyu.

Mengapa pada masa kepemimpinan Islam dipegang oleh sahabat-sahabat Rasululloh dapat mencapai kejayaan ?

Jawabnya :

  • Kepemimpinan beliau-beliau tidak perlu diragukan lagi, karena sesuai dengan hakekat dan kehendak Alloh SWT.
  • Ketauhidan beliau-beliau benar-benar konsisten (tetap dan terus menerus), hal inilah yang menimbulkan kekuatan lahir bathin terpancar.

Dibawah ini merupakan ringkasan cerita mengenai ketauhidan yang berhubungan erat dengan masa kejayaan kaum muslimin.

Flash Back (Kilas-balik):

Diakhir hayat Rasulullah, setelah ayat terakhir dari Al Qur’an, beliau menyusun barisan yang akan dikirim ke Utara demi mengamankan daerah tersebut dari ancaman tentara Romawi Timur, namun sebelum barisan ini terkirim, Rasul jatuh sakit. Sehingga pengiriman barisan ini terpaksa ditunda sampai beliau sembuh. Tapi taqdir Alloh SWT menghendaki Rasul tidak sembuh lagi. (*). Setelah beberapa hari sakit beliau wafat. Dan Siti Aisyah menyampaikan berita wafatnya Rasul itu hanya kepada orang yang kebetulan ada didekat masjid Rasul. Ketika usaha orang ini menyiarkan berita duka kepada yang lain terdengar oleh Umar. Sebagai orang yang berdarah militer, yang senantiasa berfikir dalam rangka keamanan dan ketertiban, karena umar menyangka, bahwa berita buruk dibuat oleh agen-agen subversi. Segera memberi reaksi yg agak berlebihan : “Barang siapa yang mengatakan Muhammad Wafat akan kupenggal lehernya” sambil menghunus dan mengacungkan pedang. Dan secara diam-diam orang itu mencari abu bakar untuk mengabarkan berita duka, dan menceritakannya kepada Abu bakar atas kejadian tersebut.

Abu Bakar RA menghampiri Umar RA dengan dimulai membaca:

QS:3:144    “Muhammad itu hanya seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu Rasul-Rasul. Apabila ia wafat atau terbunuh, apakah kamu berbalik menjadi murtad ? Tapi barang siapa berbalik menjadi murtad, sedikitpun tiada merugikan Alloh, Alloh memberi pahala kepada orang yang bersyukur”

Setelah selesai mengucapkan ayat ini, kemudian Abubakar berkata : “Barang siapa menyembah Muhammad, ketahuilah, bahwa Muhammad telah wafat, tetapi barang siapa menyembah Alloh, ketahuilah Alloh hidup selama-lamanya”

Mendengar hal itu Umar bergetar dan lemas tangannya jatuh kebawah sambil mengucap istighfar dan pedang tersebut segera disarungkan. Seolah Umar baru mendengar pertama kalinya.

Pada masa khalifah Abubakar As Shiddik, beliau mengirim surat kepada Panglima Hurmuzan (kerajaan Persia), sebagai berikut :

  1. Damai, dengan syarat masing-masing menghormati perbatasan negara yang ada.
  2. Menerima ajaran Islam, yang akan menjalin ukhuwah Islamiyah antara kedua rakyat yang ada. Maka tidak akan ada soal perbatasan.
  3. Jika kedua pilihan itu tak dapat diterima, maka bersiaplah kalian menghadapi kami yg datang dengan lasykar yang berani hidup, namun ingin mati syahid karena kerinduan mereka kepada Alloh.

Akhirnya peperangan dimenangkan oleh tentara Islam.

Dan pada masa itu memasuki bulan Zulhijjah, timbullah kerinduan Khalid untuk menunaikan Ibadah Haji, Khalid segera berangkat untuk menunaikan Ibadah Haji. Akan tetapi Khalifah Abubakar mengetahuinya, maka beliau segera menulis surat untuk Khalid, yang isinya sebagai berikut :

“Disamping rasa syukurku kepada Alloh SWT dan tanpa mengurangi rasa hormat ku atas keteguhan iman dan kecintaanmu kepada Alloh, aku wajib memperingatkan engkau, bahwa meninggalkan medan sebelum mengadakan pengamanan seperlunya bukanlah tindakan seorang panglima yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, kami perintahkan agar engkau pulang keposmu secepat-cepatnya.”

Sadar akan kekeliruan ini, maka Khalid segera mematuhi saran atau himbauan khalifah.

Setelah selesai melakukan pembersihan di Persia, pada masa itu pula Khalid bin Walid diperintahkan untuk segera ke Romawi untuk menaklukkannya. Setelah sampai disana beliau langsung mengadakan rapat Strategi Militer untuk menghadapi tentara Romawi yang sangat canggih. Berselang beberapa hari kemudian Khalifah Abubakar wafat dan diganti oleh Khalifah Umar bin Khathab. Ketika sedang memimpin rapat datang utusan dari Umar memberikan surat yang isinya mengenai pemberhentian Khalid sebagai panglima dan perintah agar menyerahkan pimpinan kepada bawahannya, kemuliaan tauhid Khalid yang begitu baiknya, beliau tidak membacakan surat dari rasul didepan hadirin (dengan kata lain beliau tidak mempunyai buruk sangka walaupun khalid begitu pandainya sebagai panglima). Khalid tetap memimpin rapat sambil menilai bawahannya yang cocok menggantikannya. Setelah Khalid menyerahkan kepemimpinan sebagai panglima, la segera menghadap Khalifah Umar empat mata (face to face), dan menanyakannya: “Aku bersumpah dengan nama Alloh, bahwa aku tak pernah mengambil satu senpun dari dana yang disediakan oleh negara, bahkan uang pribadiku banyak yang kusumbangkan untuk perjuangan ini”

Khalifah Umar menjawab : “Aku yakin sungguh akan kejujuran dan keikhlasanmu, wahai saudaraku sehingga aku tidak pernah merasa curiga akan manajemen dana perjuangan ini, walaupun aku yakin, bahwa sebagai panglima engkau tetap merupakan tanggung jawab terakhir terhadap manajemen dana ini”

Khalid : “Lantas, mengapa sampai aku dipecat tanpa alasan yang tepat?”

Umar : ”Aku sekedar melakukan tugasku menyelamatkan tauhidnya ummat”

Karena pada masa itu ummat mengelu-elukan Khalid.

Khalid sadar betul tentang tauhid, beliau telah melakukan dakwah secara tidak langsung. Kemudian khalid berpamitan dengan Khalifah Umar untuk berangkat kembali ke Romawi sebagai prajurit yang gagah berani mencari mati syahid.

Kalau kita resapi lebih dalam lagi dengan perasaan yang paling dalam, maka kita akan mengetahui, betapa beratnya mempertahankan nilai-nilai tauhid apabila kita telah menyatakan diri menjadi seorang muslim. Dan mungkin beratnya mempertahankan nilai-nilai tauhid bertentangan dengan kaedah umum yang menyatakan bahwa “Apabila kita telah menyatakan diri menjadi seorang muslim dan mengucapkan dua kalimah syahadah, maka kita dapat masuk surga / Jannah”.

Kalau saja kita mau merenungkan nilai-nilai tauhid, makna yang terkandung secara umum adalah Tauhid versus dari Syirik (Mempersekutukan Alloh). sedangkan syirik adalah perbuatan (dosa) yang tidak diampuni oleh Alloh.

Astagfirullah …..  WAllohu a’lam bishawab … !!!

Kilas balik diatas merupakan sebagian contoh perilaku yang didasari oleh tauhid yang telah sempurna dan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap Alloh SWT. Pada masa itu islam dapat menguasai kurang lebih 8 abad.

Dibawah ini merupakan ringkasan cerita mengenai merosotnya nilai-nilai ketauhidan yang berhubungan erat dengan masa kehancuran kaum muslimin.

Berdasarkan sejarah kehancuran Islam dikarenakan pergesaran nilai Tauhid, yang diawali dengan sloganistis yang membuai Umat Muslim pada waktu itu (Selama 1,5 abad). Dengan membuat hiasan pada dinding masjid di Cordoba (Spanyol) bertahtakan permata dan Zambrud yang nilainya sangat tinggi. Hiasan-hiasan tersebut berlafadzkan Kaghaliban Illah (Tiada kejayaan selain Alloh), dan pada akhirnya terjadilah penurunan nilai (Derivated Value) Tauhid. Pada saat nilai-nilai tauhid turun timbullah kekacauan dan perbedaan pendapat yang disulut dan direkayasa oleh Karl Martin.

Mulailah pengikut-pengikut tokoh ilmuwan yg satu menyalahkan pengikut-pengikut tokoh ilmuwan yang lain.

Pada puncaknya murid Abu-al-Hasan ‘Ali bin Ismail al Asy’ari mulai mengkafirkan murid Al Hambali dan sebaliknya. Umat yang awam tentu semakin bingung. Walaupun kecintaan dan kemesraan mereka terhadap Islam terus saja berkembang.

Perubahan pemikiran Karl Martin:

Sebelum Karl Martin memegang kekuasaan, di Erapo berkembang agama kristen ortodox, yang mengharamkan untuk membaca dan mengkajii ilmu pengetahuan, banyak sekali para ilmuwan pada waktu itu dihukum pancung dan dipenjara dengan didera seratu kali setiap hari sampai meninggal dunia.

Karl Martin mencoba menyusup dengan mengikuti perkembangan umat-umat muslim dan para pengikutnya diperbolehkan untuk membaur. Dan banyak sekali para pengikut Karl Martin yang menjadi orang munafikin, sebagai politik adu domba / pecah belah. Pada saat bersamaan Karl Martin menyusun strategi dan kekuatan untuk menghancurkan umat muslim.

Dan akhirnya pada tahun 1495 M, di Cordoba terjadi perang salib yang dipimpin oleh Karl Martin, dampaknya umat muslim tersingkirkan dan perpustakaan Islam terbesar dan terlengkap di masjid, Cordoba dibumi hanguskan / dibakar.

Berdasarkan sejarah secara ringkas, kita perlu jadikan motivasi untuk mengkaji kembali mengenai sejarah-sejarah yang lain karena sesuai dengan firman Alloh. QS.3:137; QS:6:11; QS.12:109; QS.22:46; QS.27:69; QS.30:42

Soekarno mengatakan :

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu sejarahnya”

“Bangsa yang melupakan sejarah pasti akan mengulangi kesalahan yang sama”.

Diawali dengan kejadian perang salib, kehancuran umat muslim terus berlanjut hingga kini. Umat muslim sudah tidak mempunyai lagi khalifah dan selalu bertentangan satu sama lain yang berorientasi pada golongan tertentu.

Akankah kita sebagai umat muslim yang menurut Alloh SWT :

  1. Adalah bersaudara, kita harus berseteru ?
  2. AKU (Alloh) tuhan kita, kita men-tuhan-kan pada hawa nafsu ?
  3. Berpegang pada Al Qur’an dan Hadits, kita harus mengikuti yang lain ?

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang timbul sesuai dengan kondisi saat ini.

Mengamati kondisi zaman khalifah dan sekarang sangat terbalik, antara lain:

Dulu Sekarang
Umat muslim mempunyai Khalifah. Umat muslim tidak memiliki khalifah, akan tetapi nasrani memiliki khalifah yang disebut sebagai Paus Paulus.
Damai menghormati batas negara, menerima Islam dengan tidak mempersoalkan perbatasan negara. Umat nasrani di Eropa sudah menyatukan diri, walaupun terdiri dari 250 lebih golongan Nasrani.
Umat muslim memiliki manajemen Baitul ma’al dengan baik dan benar karena Alloh SWT. Umat muslim tidak memiliki bahkan tidak manajemen Baitul ma’al, yang ada hanya kepentingan pribadi dan golongan. Akan tetapi umat Nasrani memiliki dana umat dengan manajemen yang baik.

Tabel-1

Dan masih banyak lagi, tetang manajemen islam yang telah ditinggalkan oleh umat muslim, akan tetapi digunakan oleh non-muslim.

 –o0o–

RUKUN IMAN DAN RUKUN ISLAM

Sebelum kita membahas mengenai Tauhid, perlu mengulas dulu secara ringkas mengenai 2 perkara, yaitu Rukun Iman dan Rukun Islam.

Sebelum kita mengenal Islam ada beberapa persyaratan yang harus kita penuhi terlebih dahulu, yaitu Rukun Iman.

Berbicara mengenai Iman ada bermacam-macam pendapat atau faham mengenai iman. Diantara pendapat-pendapat yang berbeda itu ialah:

  • Pendapatnya Mu’tazilah
  • Pendapatnya Syi’ah
  • PendapatnyaZaidiyyah
  • Pendapatnya Khowarij
  • Pendapatnya Murji’ah
  • Pendapatnya Ahli Feqih
  • Pendapatnya Ahli Hadits
  • Pendapatnya Karomiyyah
  • Pendapatnya Jahmiyyah.
  • Ada yang mengatakan, Iman itu ucapan saja, hati dan tingkah tidak ikut-ikutan, seumpama mengucap “laa ilaaha illallohu”, maka itu sudah cukup dikatakan iman.
  • Ada yang mengatakan, Iman itu di hati saja. Cukup di hati itu percaya, walaupun tidak usah mengucapkan “laa ilaaha illallohu”, tidak usah sembahyang, maka itu sudah cukup dikatakan mukmin.
  • Ada yang mengatakan, Iman itu meliputi ucapan dan hati. Kalau keduanya itu sudah menjadi satu, maka barulah dikatakan mukmin, jika belum menjadi satu maka belum mukmin.
  • Ada yang mengatakan, Iman itu meliputi ucapannya, hatinya, dan tingkahnya. Apabila ketiga-tiganya menjadi satu, maka itulah disebut Iman, dan orangnya disebut mukmin.

Lalu manakah yang benar diantara pendapat-pendapat diatas ?

Jawabannya tertgantung dari kita masing-masing.

Sesudah pendapat-pendapat itu dipelajari satu persatu, maka kita diperintah-kan untuk berfikir sendiri mencari mana yang benar menurut Al Qur’an.

Iman berarti percaya atau mempunyai keyakinan yang pasti dan terus menerus. Kenapa demikian ?

Karena manusia mempunyai kecenderungan mengakui adanya Tuhan yang menciptakan alam jagad raya beserta seisinya (hal ini Mutlak), sesuai dengan firman-NYA QS.29:61, oleh sebab itu Agama Islam mengenal Rukun Iman.

QS.29:61     “Kalau kamu tanyai manusia, siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan, mereka menjawab: ‘ALLOH’”

Dibawah ini persepsi Rukun Iman, pada tabel

Rukun Iman

Islam

Hindu

Kristen

Animisme

Pencipta Alloh Sang Hyang Widi Alloh Tuhan
Pembantu sang pencipta Malaikat Dewa Rohul Kudus & Anak Tuhan Sesuatu yang memiliki unsur magic
Pesuruh / utusan Nabi/Rasul Sidarta Gautama Judas, Matius dll Manusia yang mempunyai kekuatan magic
Kitab KitabullahZabur, Taurat, Injil & Al Qur/an Weda Perjanjian Lama dan Baru Isim (tulisan yang mengan-dung magic)
Ghaib Hari Kiamat/PengadilanSurga dan neraka,

Hari Esok.

Kematian reikarnasi (Kesempur-naan dan Nirwana) Kiamat (Syurga dan Neraka) Kematian (pengawasan dari keluarga yang telah meninggal)
Ketentuan Qada’ dan Qadar Ketentuan kehidupan Penebusan dosa. Nasib/kutukan

Tabel-2

 Pada dasarnya setiap manusia memiliki iman karena adanya kecendurungan mencari Tuhan apapun alasannya. Jadi Agama Islam tidak mengenal faham Komunis dan Atheis (tidak bertuhan), karena tidak sesuai dengan dengan firman Alloh.

Banyak terjadi unsur ketuhanan dimanifestasikan kepada hal-hal yang dianggap oleh manusia sebagai tempat berlindung dan didominir oleh keinginannya sendiri, kondisi ini sangat dilarang oleh Alloh SWT, karena akan membawa manusia kearah perlakuan Syirik.

Sebab Alloh telah memperingatkan pada Al Qur’an:

QS.45:23     “Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-NYA dan Alloh telah mengunci mati pendengaran hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatan-nya, maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?”

QS.25:43     “Terangkanlah pada KU tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, maka apakah kamu dapat men-jadi pemelihara atasnya.”

Tidakkah kamu perhatikan betapa manusia meng-ilah-kan (mentuhankan) keinginan-keinginan pribadi mereka.

Demikianlah definisi Tuhan yang dijelaskan oleh Alloh SWT, apakah kita ingin menjadikan hawa nafsu / keinginan kita sebagai tuhan kita ?

Astagfirullah … Tetapkanlah aku pada tali ridha MU, dan peliharalah kecintaanku pada MU, ya Alloh.

Asalnya agama itu satu, akan tetapi karena dipengaruhi sifat dhohir manusia maka terjadilah berbagai agama, yang kesemuanya itu intinya adalah berbuat baik terhadap lingkungan, manusia dan sang pencipta.

Alloh SWT menerangkan pada Surat Al Anbiya’ : 92, dan Al Mu’minun : 52.

Q.S. 21:92   “Ummatukum Ummatan Waahidatan”

Q.S. 23:52   “Ummatukum Ummatan Waahidatan”

Q.S. 23:53   “Maka menjadi bagian-bagian / pecahan-pecahan / putus-putus perkaranya umat tadi, diantara mereka betul-betul pecah, tiap-tiap pecahan merasa bangga dengan agamanya masing-masing”

PENYIMPANGAN

Asalnya agama-agama itu satu, kemudian pecah menjadi bermacam-macam agama. Dan yang menjadi sebab adanya perpecahan itu karena timbul tafsiran yang bermacam-macam, akibatnya terjadi penyimpangan, sehingga antara umat beragama yang satu dengan yang lain lupa, bahwa agamanya itu asalnya adalah satu.

Jadilah sekarang ini:

  • Di Hindu banyak penyelewengan.
  • Di Budha banyak penyelewengan.
  • Di Nasroni banyak penyelewengan.
  • Di Shobi’in banyak penyelewengan.
  • Di Dahriyyin banyak penyelewengan.

Termasuk di Islampun sekarang ini juga banyak penyelewengan, jangan dikira tidak ada penyelewengan, jadi sama saja banyak penyelewengan.

Dari penyelewengan yang dilakukan oleh yang dianggap tokoh-tokoh agama itu, kemudian dianggap ajaran agama.

Sebagai contoh :

Biasanya berhubung orang itu fanatik dengan bahasa arab, maka kalau ada kitab yang ditulis dengan bahasa arab lalu dianggap bahwa kitab itu pasti isinya asli agama islam, padahal tidak (Belum tentu. Red)

Agama Hindu, Budha, Khonghucu, Nashroni, Shobi’in, Lauchin, Yahudi, Majusi, Dahriyyin, Zarasutra, dan Agama Islam adalah agama besar, yang artinya pengikutnya besar (banyak).

Rasululloh bersabda:

“Hendaklah kau mencari ilmu walau ilmu itu dinegeri cina. Maka sesungguhnya mencari ilmu itu adalah wajib tiap-tiap orang muslim”.

Didalam hadits diatas menerangkan, bahwa Rasululloh menekankan kepada kita untuk mencari ilmu, walaupun ilmu itu ada di negeri cina.

Mengapa demikian ? Coba kita renungkan, ada apa di negeri cina waktu itu.

Agar umat Islam memiliki pengetahuan yang luas dibidang agama dan di bidang yang lain.

Pada waktu itu (zaman Rasululloh), disana akan mengetahui bahwa :

  • Ada agama yang namanya agama Khonghucu, yang dibawa oleh seorang yang bernama Khonghucu, yang lahir pada tahun 551 SM, (sebelum Nabi Isa AS lahir), di kota Luch, masuk wilayah propinsi santong di timur laut daratan cina.
  • Pada tahun 400 SM (sebelum nabi Isa AS lahir), lahirlah seorang manusia yang bernama Lau Ching, yang menyusun kitab Tau Te King.

Dua orang inilah yang dianggap pembawa permulaan adanya agama “Khonghucu” dan agama “Lau Ching”. Adapun agama Islam masuk ke negeri Tiongkok yakni pada zaman shohabat Utsman menjadi Kholifah. Dan membawa agama Islam ke negeri Tiongkok, oleh rombongan yang berjumlah 35 orang, yang dipimpin oleh shohabat Abi Waqqos, dan sebagian orang dari rombongan tersebut ada yang wafat di Tiongkok. Jadi masuknya agama Islam ke negeri Tiongkok itu lebih dulu dari pada masuk ke Indonesia.

Diatas telah diterangkan bahwa asalnya agama-agama itu adalah satu, kemudian setelah terjadi perpecahan-perpecahan, karena adanya penafsiran-penafsiran dan penyelewengan-penyelewengan. Dan mungkin saja yang kita ketahui sekarang ini adalah perkembangan-perkembangannya dan penyele-wengan-penyelewengannya, sehingga yang dijadikan pedoman-pedoman adalah penyelewengan dari para tokoh-tokoh agama tersebut.

Satu contoh umpamanya dalam agama hindu itu mempunyai tiga Tuhan yang disebut Trimurti, adapun tiga tuhan itu adalah:

  1. Tuhan Brahma, Tuhan Pencipta
  2. Tuhan Wisnu, Tuhan Pemelihara
  3. Tuhan Syiwa, Tuhan Perusak.

Jadi didalam agama Hindu, dianggap tuhan itu ada 3 macam, padahal itu cuma salah tafsir saja. Sebagaimana diketahui bahwa lakon manusia secara garis besar ada 3, yakni: Lahir, Hidup dan Mati.

Manusia diciptakan dengan dilahirkan, setelah dilahirkan (hidup) dipelihara, setelah itu dirusak (mati). Dan yang melahirkan, yang memberi hidup sampai yang mematikan itu adalah satu jadi Cuma istilah saja tiga, tetapi sebenarnya yang melahirkan, memberi hidup dan yang mematikan itu tidak tiga, tapi satu.

Kalau contoh dalam tumbuh-tumbuhan, pertama : wujudnya daun, setelah itu terus kedua : Trubusnya daun, kemudian ketiga : Jatuhnya daun, ini juga Trimurti.

–o0o–

RUKUN IMAN

1.     Beriman Kepada Alloh SWT

Kalau kita telah mengakui beriman kepada Tuhan, maka kita hendaknya mencari keberadaan Tuhan, yang sangat mempengaruhi hidup dan kehidupan manusia.

No

Pertanyaan

Jawaban

1

Apakah Tuhan ada ?

Ada,

2

Bagaimana Bentuk Tuhan ?

Bentuk Tuhan tidak seperti bentuk Manusia yg dhaib ini, akan tetapi bentuk dari Tuhan adalah Absolut (pasti ada).

Manusia hanya dapat merasakan, yaitu rasa Senang, Gembira, Bahagia, Damai dan rasa takut yang bercampur menjadi satu. Allohu a’lam bishawab …!!!

3

Apa yang dapat kita rasakan terhadap keberadaan Tuhan?

Selalu ingin ingat dan dekat dengan-NYA, seperti layaknya dua insan (pria dan wanita) sedang jatuh cinta, ada rasa sir dan ingat selalu.

4

Apa Tugas Tuhan?

Menaikan dan menurunkan derajat manusia.

5

Siapakah Tuhan Kita?

Nama Tuhan Kita Adalah Alloh SWT

Tabel-3

Landasan keimanan kepada Alloh SWT yang Maha Esa, telah dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Ikhlash ayat 1-4, dan;

QS.6:1        “Segala puji bagi Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka”

QS.6:2        “Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematian) mu, dan ada lagi sesuatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-NYA (yang DIA sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).

QS.6:3        “Dan DIA-lah Alloh (yang disembah), baik dilangit maupun dibumi; DIA mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan”

QS.2:21      “Yang Merasa dirinya (Hai) manusia sembahlah (tunduk-patuh) pada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi (termasuk) orang-orang yang bertaqwa”

Kita mengetahui nama Tuhan kita adalah Alloh, dijelaskan dan diterangkan oleh Alloh SWT sendiri pada Al Qur’an. Yaitu: sifat-sifat Alloh, Keberadaan Alloh, Tugas Alloh, Ketentuan / peraturan Alloh, dan Janji-janji Alloh.

Marilah kita bahas sedikit tentang janji-janji Alloh, karena hal ini sangat penting, dan mengandung 3 Unsur yang perlu kita fahami, yaitu:

  1. Dapat dijadikan motivasi untuk mendekatkan diri kita kepada Alloh SWT dan berbuat kebaikan sesuai dengan ketentuan / hukum-hukum Alloh sunnatullah). Dengan kata lain Amal Shaleh.
  2. Dapat dijadikan harapan yang hakiki, untuk menimbulkan rasa ketentraman jiwa dan menekan hawa (keinginan) kita, pada hal-hal yang berlebihan akan dapat mempengaruhi kita pada kondisi-kondisi yang tidak baik.
  3. Merupakan kepastian mutlak, karena Alloh Maha Benar dan tidak pernah menyalahi janji.

Kita yang kurang peka dan bijak atas aturan yang telah ditetapkan untuk menuju kepada ketaqwaan. Sedangkan beriman kepada Alloh SWT di implementasikan ke dalam syahadat, yang menjadi dasar atau pondasi segala aktifitas hidup dan kehidupan.

Alloh Maha Kuasa dan Maha Besar, Alloh Pula yang menjadi Maha Raja seluruh alam semesta termasuk Raja-nya manusia, apabila Alloh Raja, maka Alloh mempunyai peraturan-peraturan yang dituangkan pada kitab-NYA, yaitu Zabur, Taurat, Injil dan Al qur’an yang tertulis, dan peraturan yang tidak dituangkan kedalam kitab, yaitu : Sunnatullah dan Ruh (pada manusia).

Saat ini kita selalu menyaksikan ketertiban alam semesta yang telah diatur berdasarkan Sunatulloh. Hal ini dapat dijadikan prinsip yang pertama yaitu Prinsip Perbintangan (Star Principle). Seluruh alam semesta berputar (tawaf) pada satu titik yang sebut dengan Black Hole. Yang pada akhirnya semua benda-benda dialam semesta masuk ke dalam Black Hole yang menimbulkan ledakan yang sangat dahsyat. Diameter Black Hole 18.000 tahun cahaya.

Tubuh Kita dibandingkan dengan Bumi ? Bumi dibandingakan dengan tata surya ini ? Tata Surya dibandingkan dengan Alam Semesta ?

Sungguh Alloh Maha Besar, karena dikolong langit ini sungguh maha luas dan apabila kita bandingkan, besar kita tidak lebih besar dari debu bahkan lebih kecil, yang menempel pada bumi

Silahkan untuk memperdalam dengan tadabur alam semesta.

2.     Beriman Kepada Malaikat-Malaikat

Yakin akan keberadaan Malaikat, keyakinan ini timbul dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul mengenai segala urusan Alloh yang berhubungan dengan manusia. Misalnya:

  • Siapa yang mencabut Ruh pada manusia?
  • Siapa yang mengantarkan Rizki dari Alloh?
  • Siapa yang mengatur hujan ?

Maka berdasarkan Al Qur’an Jawabannya adalah Para Malaikat atas kehendak dan Kuasa Alloh yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Pada pertanyaan, Bagaimanakah malaikat Izrail AS mencabut Ruh / nyawa manusia pada saat yang bersamaan?

Jawaban nya : Karena Malaikat Izrail AS tidak dibatasi oleh dimensi waktu.

Secara ilmiah jawabannya adalah:

Malaikat dari cahaya = C   —>  C = V2

Malaikat tidak dibatasi oleh dimensi waktu, sebab akhir dari persamaannya ialah :  T0 = t1 x 0

Sifat Cahaya :

  • Dapat menembus benda pada misalnya Kaca,
  • Cenderung mencari celah dan dapat berpantul,
  • Kecepatan Cahaya 1.3 x 108 M/detik

Beriman Kepada Malaikat disebut juga dengan Prinsipil Malaikat (Angle Principle), kita dapat mengambil pelajaran yang sangat mendalam, bahwa Malaikat tidak pernah membantah, tunduk dan patuh kepada perintah Alloh SWT. Seluruh para malaikat berdzikir  sesuai dengan peran dan fungsinya kepada Alloh SWT.

Silahkan untuk memperdalam dengan tadabur alam semesta yang ada di diri kita masing-masing.

3.     Beriman Kepada Rasul-Rasul

Jika manusia telah meyakini adanya Malaikat-Malaikat, maka kita secara naluri akan menyatakan bahwa Rasul adalah penerima dan penyampai risalah dari Alloh melalui Malaikat.

Hal ini berhubungan dengan syahadatain dan firman Alloh: Al A’raaf  ayat 62, 68, 93,  Al Anfaal ayat 27,  Al Mu’minun ayat 8,  dan Al Ma’arij ayat 32.

Marilah sejenak kita memahami kata “Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah”

QS. 14:4      “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberikan penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Alloh menyesatkan siapa yang DIA kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang DIA kehendaki. DIA-lah Alloh yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”.

“Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu Muhammad, melainkan beberapa orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui”.

Jumlah Nabiyulloh ada 124.000 orang, dan dari 124.000 Nabiyulloh ada 25 Rasul Alloh, dan dari 25 Rasul Alloh ada 5 ‘Ulul Adzmi.

Mengimani para Nabi dan Rasul, ada pembelajaran yang sangat ber-harga untuk kita yakni Prinsipil Kepemimpinan (Leadership Principle). Kita banyak mendengar dan membaca kisah Kepeminpinan Rasululloh, mengapa kita tidak mengambil hikmahnya dan prinsip kepemimpinannya. Sudah jelas Rasululloh merupakan seorang pemimpin yang paling sukses.

Silahkan untuk memperdalam dengan tadabur alam semesta yang ada di diri kita masing-masing dan Al Furqon.

4.     Beriman Kepada Kitab-Kitab

Beriman kepada Kitab-Kitab Alloh merupakan kepercayaan tahap ke empat, yang perlu kita perlu buktikan untuk menumbuhkan keyaqinan dan  untuk menjelaskan keberadaan Alloh. Melalui Kitab Alloh.

Kitab yang diwahyukan kepada para Nabi-Nabi yang begitu banyaknya, itu tidak semuanya berbahasa Arab, tapi ada yang berbahasa Suryani dan ada yang berbahasa Ibroni.

Nabi Ibrohim AS itu Shuhufnya bukan berbahasa Arab, tapi berbahasa Ibroni, sedangkan nabi Idris AS ke atas Shuhufnya berbahasa Suryani.

Alloh memberikan kepada manusia 2 bentuk kitab, yaitu:

A.  Kitab yang tersirat

Kitab yang tidak tertulis. Kitab ini untuk pengertian ruhaniah manusia, dan waktu proses / reaksi dari terjadinya relatif sangat singkat (lebih pendek dari usia manusia hidup) dan sesuai dengan Sunnatullah.

QS.3:137     “Telah berlaku sebelum kamu sunnah KAMI (Alloh SWT  dan Alam Semesta), maka jelajahilah muka bumi ini dan telitilah bagaimana akibat perbuatan orang-orang yang telah mendustakannya (melanggar sunnah KAMI itu)”

Hal inilah yang disebut dengan formula Ilmu Pengetahuan, seperti: Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi.

Kitab yang tersirat ada 2 bentuk, yaitu:

  • Kitab Alam Semesta

Alam semesta adalah implementasi dari Hukum-hukum Alloh (Sunnatullah) yang bersifat “Exact“ / pasti. Hal ini diterangkan didalam beberapa ayat yang mukhamat didalam al Qur’an, sebagai berikut:

QS.22:18    “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa kepada Alloh telah Sujud segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi: matahari, bulan dan bintang-bintang, gunung-gunung, flora dan fauna, dan banyak diantara manusia, namun banyak pula yang memang pantas di’azab, karena siapa yang dihinakan Alloh, maka tiada siapapun yang memuliakannya; sungguh Alloh melakukan apapun sekehendak-NYA”.

QS.25:2      “DIA-lah Penguasa langit dan bumi, DIA tidak memerlukan anak, dan tak perlu bagi-NYA rekan dalam kerajaan-NYA itu, IA menciptakan segalanya, dan DIA yang MEMASTIKAN setiap ketentuan”

QS.65:3      “… Sesungguhnya Alloh telah menjadikan segala sesuatu dengan KEPASTIAN”

QS.41:11    “Kemudian IA berpaling kepada Langit yang ketika itu masih berbentuk gas (zarrah yang bertaburan tanpa bentuk), maka ia berfirman kepadanya dan kepada Bumi (yang merupakan bahagian dari gas itu): ‘Tunduklah kamu sekalian senang atau terpaksa’, keduanya (langit dan bumi) menjawab: ‘Kami tunduk dengan patuh’”

Dari hal tersebut diatas dapat diambil makna:

-  Sujud (Tunduk-patuh) adalah Islamnya alam semesta.

-  Ditemukan “Big Bang Theory” atau “Expanding Universe” oleh Hubble, tahun 1929.

-  Jika alam semesta ini tidak mengikuti kepastian Alloh, maka manusia akan sangat sulit sekali mengenal Alloh SWT.

Allohu Azza Waajalla …!!!

  • Kitab yang ada pada diri manusia

Setelah penciptaan Nabi Adam disempurnakan, Alloh memberi penjelasan secara langsung (jasmani dan ruhani menghadap Alloh) kepada Adam tentang “Asmaa-Kullaha” dan “Asma Al Husna”.

Dan kepada seluruh Manusia, pada saat sebelum ruh itu ditiup-kan pada rahim ibu. Ruh itu diberi penjelasan tentang “Asmaa-Kullaha” dan “Asma Al Husna” dan diberi pertanyaan sekaligus diambil janjinya mengenai keimanan terhadap Alloh.

Kalau saja kita dapat merasakan kata hati (timbul dari ruh), maka kita akan selalu berbuat baik dan mengabdikan diri kita kepada Alloh SWT.

Sebagai pembuktian:

Apabila kita melakukan hal-hal yang merugikan orang lain, maka kita akan merasa salah, gelisah, tidak tentram.

Apa yang kita rasakan apabila kita akan mencuri ?

“Apabila kita melakukan kebajikan, maka kita akan merasa senang dan bahagia”

Jika kita mendengar orang membaca Al Qur’an, seakan-akan kita pernah mengetahui / hafal. Akan tetapi perasaan itu di tutup-tutupi, bahkan dibiarkan larut dengan hal-hal lain.

Tidak menutup kemungkinan kitab yang ada pada diri kita (Ruh), adalah paling lengkap, tinggal bagaimana kita mengolahnya ….

Subhanallohu  …!!!

Dari hal tersebut diatas secara singkat, kiranya dapat disimpulkan bahwa Ruh mempunyai fungsi untuk berfikir, sedangkan otak yang ada dikepala kita adalah pusat syaraf sensorik dan motorik, bukan tempat berfikir.

Pengertian “Asmaa-Kullaha” dan “Asma Alhusna” :

  • Asma berarti Attribute atau keberadaan dan sifat-sifatnya.
  • Kullaha berarti nama-nama segala.
  • Al Husna berarti sifat-sifat yang indah. (QS.59:24)

Jadi Asmaa-Kullah paling tepat diterjemahkan dengan sebutan Ilmu Pengetahuan atau “Science”, yaitu ilmu yang mempelajari sifat-sifat atau hukum-hukum yang dipatuhi oleh Alam.

Hal inipun sebagai media untuk mengenal dan mengetahui keberadaan Alloh SWT.

Dari kedua bentuk kitab yang tersirat mungkin saja kita belum meyakini adanya Alloh, maka kita perlu membuktikannya pada kitab yang lain yaitu kitab yang tertulis/tersurat.

B.    Kitab yang tersurat

Membahas mengenai sosiologi manusia dan Rukun Iman secara eksplisit. Sosiologi manusia menurut Al Qur’an bersifat Exact, Immutable dan Objective, akan tetapi “Time Response”-nya panjang, lebih panjang dari usia manusia, dan variabel yang mempengaruhi sangat banyak.

Dan pada akhir proses (kesimpulan) dari bentuk sosiologi itu sama.

Contoh : Pada Zaman Fir’aun sekarangpun terjadi Zaman Fir’aun (hanya saja pelakunya berbeda, Waktunya berbeda, daya-fikirnya berbeda, dan Iklimnya berbeda, banyak da’i yang ditangkap, akan tetapi hasil akhirnya sama yaitu pemerintahan yang berkuasa penuh.

Kitab yang berbentuk tulisan ada 4 macam, yaitu:

  • Kitab Zabur
  • Kitab Taurat
  • Kitab Injil
  • Kitab Al Qur’an

Dari ke-empat kitab yang tertulis secara keseluruhan telah dicakup / dijabarkan dalam Al Qur’an. Sesuai dengan firman Alloh:

QS.21:105      “Telah KAMI tetapkan (tuliskan) sejak dari kitab Zabur, sesudah peringatan-peringatan (wahyu tak tertulis sebelum Zabur), Bahwa sesungguhnya Dunia Ini Akan Diwarisi Oleh Hamba-Hamba KU Yang Shalih”

QS.41:53       “KAMI akan perlihatkan kepada mereka bukti-bukti alam raya dan didalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka akan kebenaran (Islam) ini, apakah belum cukup (bagi mereka) Tuhan-mu Yang Menyaksikan segala sesuatu”

QS.4:82         “Mengapa tidak mereka teliti AlQur’an, jika ia bukan dari pada ALLOH pasti mereka jumpai banyak kesalahan didalamnya”.

Al Qur’an secara global adalah aturan hidup dan tata kehidupan manusia dalam hubungan dengan Alloh (Vertikal) dan hubungan sesama makhluk hidup dan alam semesta (Horizontal).

Kiranya seperti layaknya peraturan / keputusan dimuka bumi ini yang dibuat oleh manusia (pemimpin perusahaan / negara), peraturan yang dapat dipakai dan dilaksanakan adalah peraturan yang terakhir. Begitu pula dengan kondisi kitab-kitab Alloh,. Jelaslah Al Qur’an Kitab tersurat yang terakhir (lebih lengkap, akurat, terbaru dan terpercaya / ”up to date”)

Mengapa kita tidak kembali kepada Al Qur’an sedangkan kekuatan / kemampuan dari Al Qur’an sungguh sangat dahsyat, dapat meng-getarkan alam jagad raya ini.

QS.13:31   “Dan sekiranya ada sesuatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara (tentu al Qur’an itulah dia), sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Alloh. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu me-ngetahui bahwa seandainya Alloh menghendaki (semua manusia beriman), tentu Alloh memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senan-tiasa ditimpa bencana disebabkan oleh perbuatannya atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Alloh. Sesungguhnya Alloh tidak menyalahi janji”.

QS.27:1     “Thaa Siin, (Surat) ini adalah ayat-ayat Al Qur’an, dan (ayat-ayat) kitab yang menjelaskan”

QS.27:2     “Untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman”

Hadits : Jamius Shoghir Bab Alif hal 97

“Anzalal Qur’ana ‘ala sab’ati ahrufin likulli harfin minha Dhohirun wa Bathinun”

Artinya   :        “Menurunkan Alloh akan Kitab Al Qur’an atas tujuh huruf. Bagi tiap-tiap huruf dari padanya ada makna Dhohir dan Bathinnya”

Keberadaan kitab-kitab tersebut diatas melalui kondisi sebagai berikut:

  • Tidak diwahyukan

Kitab yang tidak diwahyukan tidak melibatkan manusia dan “Time Response”-nya (waktu reaksi) relatif singkat, dapat difahami dengan cepat.

  • Diwahyukan

Kitab yang diwahyukan melibatkan manusia dan “Time Response”-nya (waktu reaksi) relatif panjang. Perlu pengkajian dan referensi yang lain.

Dari 124.000 Nabi yang terpilih menjadi Rasul 25, dan dari 25 Rasul yang terpilih untuk menerima wahyu Alloh ada tujuh Rasul, diantaranya:

  1. Nabiyulloh Syits AS bin Adam AS, di turunkan 50 Kitab.
  2. Nabiyulloh Idris AS, diturunkan 30 Kitab.
  3. Nabiyulloh Ibrohims AS, diturunkan 10 Kitab.
  4. Nabiyulloh Musa AS, diturunkan 10 Suhuf, sebelum Kitab Taurot.
  5. Nabiyulloh Dawud AS, diturunkan 1 Kitab (Zabur)
  6. Nabiyulloh ‘Isa AS, diturunkan 1 Kitab (Injil)
  7. Nabiyulloh Muhammad SAW, diturunkan 1 Kitab (Al Qur’an)

Jadi jumlah kitab yang diturunkan kepada tujuh Nabi/Rasul itu ada 104 Kitab. Ini pernah diterangkan oleh Nabi Muhammad SAW, ketika ditanya oleh Shohabat Abi Dzarrin Al Ghiffari RA.

Cara Nabi-Nabi yang tidak diturunkan kitab menghukumi ummatnya.

Bagi Nabi-Nabi yang tidak dituruni kitab dalam menghukumi ummatnya memakai kitab sebelumnya. Sebagaimana diterangkan didalam Al Qur’an

QS.5:44      “Sesungguhnya AKU menurunkan kitab Taurot, didalamnya petunjuk dan cahaya, menghukumi dengannya (Taurot) para Nabi-Nabi, Nabi-Nabi yang Islam”

Penjelasan :

  1. Para Nabi antara Nabiyulloh Syits AS sampai Nabi Idris AS, seperti Nabi Anwas, Nabi Qinan, Nabi Mahlail, Nabi Harif, ini menggunakan kitab yang diturunkan kepada Nabiyulloh Syits AS.
  2. Para Nabi antara Nabiyulloh Idris AS sampai dengan Nabiyulloh Ibrohim AS, seperti : Nabi Nuh AS, Nabi Hud AS, Nabi Sholeh AS, ini menggunakan kitabnya Nabiyulloh Idris AS.
  3. Para Nabi antara Nabiyulloh Ibrohim AS sampai dengan Nabiyulloh Musa AS, seperti : Nabi Luth AS, Nabi Ismail AS, Nabi Ishaq AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Syu’aib AS, Nabi Ayub AS, ini menggunakan kitabnya Nabiyulloh Ibrohim AS.
  4. Para Nabi antara Nabiyulloh Musa AS sampai dengan Nabiyulloh Dawud AS, seperti : Nabi Yasa AS, Nabi Harun AS, Nabi Dzulkifli AS, Nabi Ilyas AS, ini menggunakan Kitabnya Nabiyulloh Musa AS.
  5. Para Nabi antara Nabiyulloh Dawud AS sampai dengan Nabiyulloh ‘Isa AS, seperti : Nabi Yunus AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS, ini berpedoman kepada Kitabnya Nabiyulloh Musa AS.
  6. Para Nabi antara Nabiyulloh ‘Isa AS sampai dengan Nabiyulloh Muhammad SAW, seperti : Nabi Yuhana, Nabi Sam’un, Nabi Bulisun, ini menggunakan kitabnya Nabiyulloh ‘Isa AS.
  7. Setelah Injil turun selang beberapa ratus tahun, turunlah Kitab Al Qur’an. Dan Al Qur’an ini kitab penutup. Setelah Al Qur’an turun sampai hari qiyamat semuanya berpedoman kepada kitab Suci Al Qur’an.

Kenapa adanya kitab (buku)? Karena untuk referensi, agar manusia mempelajarinya dan memperhatikannya berdasarkan hukum kepastian dari Alloh. Kitab dapat juga dijadikan referensi titik balik yang menjelas-kan penjelasan-penjelasan dari Ilmu pengetahuan (berhubungan dengan Sunnatullah).

Sesuai dengan wahyu pertama surat Al Alaq, yaitu:

Iqra … , Iqra… , Iqra bismirabika ladzi khalaq. …,

  • Igra …, Bacalah kitab Alam semesta
  • Iqra …, Bacalah kitab yang ada pada diri Manusia
  • Iqra …, Bacalah kitab Alloh yang tertulis (Zabur, Taurat, Injil, dan Al Qur’an) sebagai titik balik semua kitab-kitab Alloh.

Urutan ini sesuai dengan kondisi pada umumnya manusia.

Mengimani Kitab-Kitab Alloh SWT, juga ada pembelajaran hakekat yang sangat berharga untuk kita, mengarahkan kepribadian kita pada Prinsip Pembelajaran (Learning Principle).

5.     Beriman Kepada Hari Akhir

Diciptakannya Manusia pada permulaan pasti akan ada akhirnya.

Keyakinan ini yang akan mendorong manusia selalu ada keinginan bertemu dengan ALLOH, dan akan menumbuhkan rasa sir (keinginan yang sangat dan konsisten berhubungan dengan cinta) kepada Alloh.

Hari Akhir merupakan tujuan dari kehidupan manusia (baik atau buruk), sebagai konsekwensi hari pengadilan dari perbuatan dan perilaku manusia itu sendiri. Sesuai dengan firman Alloh:

QS.22:1.     “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan mu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat)”

QS.22:2.     “Ingatlah pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan semua wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Alloh sangat keras”.

QS.17:71    “(ingatlah) suatu hari (yang dihari itu) kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya, dan barang siapa yang diberikan kitab amalannya ditangan kanannya, maka mereka itu akan membaca kitabnya itu dan mereka tidak dianiaya sedikitpun”

Dan masih banyak ayat yang bercerita tentang Persiapan, Kondisi dan keadaan Hari Akhir, kesemua ini akan membentuk kepribadian kita pada Prinsip Visi (Vision Principle).

6.     Beriman Kepada Qada’ dan Qadar

Memahami keyakinan kita tentang Qada’ dan Qadrat merupakan dasar untuk menumbuhkan rasa keikhlasan dan pemahaman kepada Alloh Yang Maha Menentukan dan Berkehendak atas segala sesuatu.

Seorang mu’min harus memiliki keyakinan akan hal ini, karena banyak hal yang berhubungan dengan ketentuan dan kehendak Alloh. dibawah ini merupakan tabel dari Qada’ dan Qadrat.

KONDISI

QADA’

QODRAT

Nyata Alam semesta dengan segala isinya merupakan ketentuan (kepastian) dari Alloh, yang disebut sebagai Sunnatullah.Dan dapat diketahui / dipelajari. Perubahan dari bentuk bumi dan manusia, merupakan kehendak dari Alloh.Tidak dapat diketahui / dipelajari.
Contoh :
  • Terjadinya
Ghaib Kehancuran (Kematian). Kiamat

Tabel-4

Pada akhirnya kesemua ini akan membentuk kepribadian kita pada Prinsip Keteraturan/Organisasi (Organized Principle).

Seluruh Alam semesta berjalan sesuai dengan ketetapan Alloh, dan kehendak Alloh SWT Yang Maha Pengatur.

Iman berarti pula percaya dengan penuh akan baik atau buruknya akibat dari pelaksanaan atau pengingkaran sunnatullah yang diwahyukan.

HAKEKAT IMAN

Hakekat Iman adalah “Qobuulir Ruuh”, yakni “Menerimanya Ruh akan Tauhid Rubuubiyyah”.

Kalau dalam Ilmu Kalam diistilahkan “Hadiitsun nafsi tabii’un lil ma’rifati”, arti-nya “Iman adalah bicaranya/percayanya hati, tapi hati itu percaya setelah me-ngetahui (ma’rifat)”.

Rumus:

Jadi Iman adalah mengetahui dahulu, setelah tahu kemudian percaya.

Ada yang percaya dulu tetapi tidak mengetahui, ini namanya TAQLID.

Seumpama ditanya: “Kamu percaya adanya cangkir?”

Jawabnya: “Ya, saya percaya”

Lalu ditanya lagi : “Apakah kamu sudah tahu cangkir?”

Jawabnya: “Belum tahu”

Maka kepercayaan seperti ini adalah taqlid,

yakni: Percaya akan adanya sesuatu, tetapi tidak mengetahui sendiri, namun hanya katanya-katanya saja.

Dan ada lagi orang itu percaya akan sesuatu setelah mengetahui terlebih dahulu.

Seumpama ditanya: “Kamu tahu Cangkir?”

Dijawab: “Ya, saya tahu cangkir”

Ditanya lagi: “Apakah kamu percaya akan adanya cangkir itu?”

Dijawab: “Ya, saya percaya”

Maka kepercayaan ini karena telah mengetahuinya, disebut Iman Ma’rifat.

Jadi iman itu ada 2 macam, Iman Taqlid dan Iman Ma’rifat.

Perhatikan komunikasi dibawah ini:

A:  “Kamu percaya Alloh?”

B:  “Percaya”

A:  “Yaqin ?”

B:  “Yaqin, bahkan ‘ainul yaqin, haqqul yaqin”.

A:  “Berapa Alloh itu ?”

B:  “Hanya Satu”

A:  “Kalau dipaksa mengakui ada dua?”

B:  “Tidak!!. Seandainya saya dipaksa agar berkata bahwa Alloh itu lebih dari satu, walaupun saya dipotong-potong seperti terong, dirajang-rajang seperti kembang, pastilah aku tetap berkata bahwa Alloh itu hanyalah Satu, bukan dua.

Alloh itu hanya Satu, tidak ada yang lainnya, kalau ada orang yang mengatakan bahwa ada Tuhan lainnya Alloh, itu adalah musyrik, itu najis:

“Innamal musyrikuuna najasun” (At Taubah), artinya: “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu adalah najis”

A:  “Sebentar …., kamu kok sangat metiti, seperti demikian bahkan sampai berani mati segala itu lho, apakah kamu sudah tahu Alloh?”

B:  “Sudah”

A:  “Hebat kamu, bagaimana keadannya ?”

B:  “Gemuk.”

Kalau jawabannya seperti ini, ya percuma saja metiti seperti itu, hanya metiti sesuatu yang salah.

Dalam hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda:

Laa iimaana liman laa amaanata lahu” artinya “Tidak ada iman bagi orang yang tidak melaksanakan amanat

Jadi hakekatnya Amanat yang sampai jagad tidak sanggup menerimanya adalah Tauhid Rubbubiyyah.

TIDAK ADA YANG MAMPU MENIMBULKAN IMAN

Apakah haqiqotul imannya orang kafir itu hilang?, jawabnya tidak hilang dan tidak akan hilang. Nabi Muhammad SAW bersabda:

Kullu mauluudin yuuladu ‘alal fithroh” artinya : “Tiap-tiap anak yang lahir itu mesti lahir membawa fithrotul Iman”.

Jadi hakekat iman itu sudah pembawaan.

ö  Iman itu Bukan timbul dari ajaran seorang guru.

ö  Iman itu Bukan timbul dari dalil Al Qur’an

ö  Iman itu Bukan timbul dari dalil alam.

Sebab iman itu memang sudah pembawaan Ruh dari alam Arwah (Amr), sebelum Ruh memakai jasmani, oleh sebab itu begitu lahir langsung membawa Fithrotul Iman. Sedemikian dalamnya masalah iman ini, sampai Alloh berfirman dalam surat Al An’am:

QS. 6:111    “Dan andaikan Kami turunkan kepada mereka seluruh malaikat tujuh langit, dan seandainya seluruh orang-orang mati (dari nabi Adam dibangkitkan lagi) untuk bercakap-cakap dengan mereka, dan seandainya Kami himpunkan kepada mereka tiap-tiap sesuatu dengan berhadapan, niscaya tiadalah mereka beriman”.

Jadi marilah kita renungkan, masalah keimanan manusia, hanya manusia itu sendiri yang dapat membangkitkan atau menghidupkan.

Iman itu ada 2 macam :

  1. Iman GHORIZI
  2. Iman MUKTASABI

Iman GHORIZI

Seluruh manusia di dunia ini, Imannya adalah sama, tidak pandang dia itu nabi, Rasul, Ulama, Aulia dan Syuhada, semua imannya sama. Inilah dinamakan Iman GHORIZI.

Iman Ghorizi ini tidak ada hubungannya dengan ikhtiar manusia, hal ini adalah pembawaan RUH. Dan iman Ghorizi itu tidak ada tingkatannya.

Iman MUKTASABI

Iman Muktasabi ialah iman yang ada hubungannya dengan ikhtiar manusia. Dan mempunyai tingkatan. Adapun yaqin itu adalah tingkatan iman, atau yaqin itu adalah martabatul iman “yu’ minuuna bilghoibi” ada juga “wabil aakhirotihum yuuqinuun”

“Yu’ minuuna” adalah orang yang beriman, sedangkan “yuuqinuun” adalah orang yang yaqin.

YAQIN

Soal        : “Maa aqollul asy yaa-a” artinya : “apakah sesuatu yang paling sedikit di dunia ini ?”

Jawab     : “Ammaa aqollul  asy yaa fa alyaqiin” artinya : “Adapun sesuatu yang paling sedikit di dunia ini ialah Yaqin ?”

YANG PALING DITAKUTI RASULULLOH TERHADAP UMATNYA

JS/I/Alif Kho/20     “Akhsyaa maa khosyiitu ‘alaa ummatii kibarul bathni wa mudaa wamatun naumi walkasalu wadlo’ful yaqiin”

Artinya :                “Yang paling ditakutkan sesuatu yang paling aku takutkan atas umatku ialah : Besar Perutnya, Lama Tidurnya, Malas dan keyaqinan yang lemah”

1.     Banyak Makan

Yang paling ditakuti Rasululloh terhadap umatnya, yang pertama adalah Kibarul Bathni, yang maksudnya kebanyakan makan atau makan secara berlebihan. Mengapa ?

Karena sesuatu itu pasti ada batasnya :

  • Minum lebih dari batas kemampuan kerongkongan, bisa muntah.
  • Makan lebih dari batas kemampuan perut bisa muntah.
  • Mengangkat melebihi batas kemampuan badan, bisa patah.
  • Berfikir lebih dari kemampuan akan fikir, bisa gila.

Semua itu ada batas kemampuannya, oleh sebab itu jangan sampai berlebihan.

Rasul       :  saya tidak membutuhkan dokter.

Sahabat   :  mengapa Rasul tidak membutuhkan dokter probadi ?

Rasul       :  Karena saya tidak akan makan sebelum lapar, dan saya kalau sudah makan maka berhenti sebelum kenyang. Oleh sebeb itu saya tidak membutuhkan dokter.

Coba kita renungka tentang sabdanya Rasul ini …

Rupanya pusat penyakit itu ada diperut, sedangkan perut adalah lambang keinginan manusia.

Rasululloh selama hidupnya hanya sakit dua kali, itupun sakit panas saja, yaitu pada usia 63 tahun. Dan sakit kembali sampai akhirnya wafat.

Lain dengan kita, berapa kali kita terkena penyakit, mungkin sudah tidak terhitung jumlahnya.

Bagaimana dengan metode makan kita ? Apalagi sedang berpuasa.

Kalau banyak makan pasti banyak ngantuknya, tapi alhamdulillah kita masih diberi ngantuk, coba bayangkan kalau kita tidak diberi ngantuk. Tiba tiba saja kita tertidur, mungkin sedang berjalan langsung tidur dijalan dan untuk mengontrolnya sangat sulit. Ngantuk itu bisa aman. QS.3:154.

2.     Banyak Tidur

Terlalu banyak tidur, ternyata kurang baik untuk kesehatan. Kalau kita menuruti ahli kesehatan, waktu tidur yang baik dalam sehari semalam itu 8 jam. Sehari semalam 24 Jam di bagi 3, yaitu : 8 Jam bekerja, 8 Jam ibadah, dan 8 jam tidur.

Imam Ghozali menerangkan dalam kitab Bidaayah: seandainya usia manusia 60 tahun, apabila tidurnya 8 jam sehari semalam, maka kalau waktu tidurnya dikumpulkan, berarti tidurnya saja selama 20 tahun. Jadi 20 tahun hanya tidur saja. Sehingga didalam buku amaliyahnya kosong atau tidak ada tulisannya, yang ada Cuma garis-garis saja. Dan tidak di hisab karena orang tidur tidak ada kewajiban sholat.

Namun ada tidur yang dinilai ibadah yaitu tidurnya orang yang berpuasa Romadhon. Selain puasa Romadhon tidur yang tidur tidak dinilai sebagai ibadah). Akan tetapi kadang-kadang disalah artikan, hadits ini dipakai alasan supaya tidak sholat, seumpama diingatkan:

“Kang, sholat kang, sudah dhuhur kok masih tidur terus”

Lalu di jawab :

“Aku ini puasa, tidurnya orang yang berpuasa itu juga ibadah. Kamu tidak tahu dalil nabi ya !.” “Annaumu shooimin ‘ibaadatun”

Dari kebanyakan tidur akhirnya timbul malas.

3.     Malas

Malas mengkaji, malas dzikir, malas sholat lima, malas sholat tahajud apalagi sholat fajar meskipun Cuma 2 raka’at. Orang yang seperti ini kok minta syurga.

Kalau sudah malas akhirnya keyakinan melemah sampai batas ambang yang dikhawatirkan.

4.     Keyaqinan yang lemah

  • Lemahnya keyaqinan inilah yang paling berbahaya dari pada banyak makan, banyak tidur dan malas. Karena banyak sekali manusia yang beriman kepada Alloh atau percaya tidak ada Tuhan lainnya Alloh, jutaan manusia bahkan sampai ratusan juta manusia beriman kepada Alloh, akan tetapi kenyataannya didalam prakteknya masih bertuhan kepada lainnya Alloh. Ada yang bertuhan kepada jin, ada yang bertuhan kepada malaikat, ada yang bertuhan kepada hawanya sendiri, padahal sudah mengucapkan syahadat. Apa sebabnya ?
  • Banyak orang orang Islam yang tahu dan percaya bahwa sholat 5 waktu itu wajib ‘ain, tetapi mengapa masih banyak orang Islam yang tidak mengerjakan sholat 5 waktu. Apa sebabnya ?
  • Banyak orang yang percaya atau beriman bahwa puasa Romadhon itu puasa wajib, tetapi mengapa kok masih banyak orang yang tidak mau melaksanakan puasa Romadhon. Apa sebabnya ?
  • Banyak orang percaya akan taqdir Alloh, tetapi mengapa mereka itu tidak ridlo. Apa sebabnya ?
  • Masalah Tawakal, banyak manusia yang mengucapkannya, tetapi tidak dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa sebabnya ?

Kesemuanya ini disebabkan karena mereka itu hanya iman saja, tetapi tidak yaqin. Memang yaqin itu adalah sesuatu yang sangat sedikit.

Hadits : “Kafaa bil yaqiini ghinaa” artinya : “Cukup dengan yaqin kamu menjadi kaya raya”

Jadi kalau hati ini terisi yaqin, itu adalah hati yang kaya kebaikan.

Apakah Yaqin ?

JS/II/Kho/11    “Khoiruzzaadit taqwa, wakhoiru maa ul qiya fil qolbial yaqiinu”.

Artinya :          “Sebaik-baiknya bekal ialah Taqwa, dan sebaik-baiknya sesuatu dijatuhkan kedalam qolbu ialah yaqin

Adapun tingkatan yaqin, sebagai berikut :

  1. Yaqin, ditingkatkan keatas menjadi:
  2. ‘Ainul Yaqin, ditingkatkan lagi keatas menjadi:
  3. Haqqul Yaqin.

Yaqin, ‘Ainul Yaqin, dan Haqqul Yaqin itu adalah tingkatan iman.

Sebagaimana juga nafsu, memiliki tingkatan : Amarah, Lawwamah, Muthmainnaj. Ketiga ini bukan nafsunya tetapi tingkatannya.

Terkadang tingkatan iman ini diremehkan, yang pada akhirnya membiaskan makna dan pengertian yang sebenarnya.

Pemetaan tingkatan iman antara keyakinan dengan derajat seseorang.

Demikianlah sekilas mengenai Rukun Iman sebagai langkah awal untuk mendalami ketauhidan terhadap Alloh SWT.

CARA MENINGKATKAN IMAN

Adapun cara-cara menurut Al qur’an untuk meningkatkan iman sampai menjadi tingkat yaqin, ada 3 cara :

Pertama : Tekun beribadah

QS.15:99     “Wa’bud robbaka hatta ya’tiyakal yaqiin” artinya : “Dan beribadah lah kepada Tuhanmu sehingga datang kepadamu yaqin”

Banyak kitab tafsir yang menafsiri bahwa lafadz “Yaqin” dalam ayat ini makna nya adalah mati. Alasannya adalah kalau sudah mati itu maka semua sudah nyata. Akan tetapi, penafsiran kita tidak demikian.

Jadi untuk meningkatkn iman menjadi yaqin melalui tekun beribadah, apapun amal ibadahnya dilaksanakan dengan tekun. Akan tetapi tekun itu sulit, andaikan mudah maka semua orang pasti bisa.

“Wa an lawistaqoomuu ‘alath thoriiqoti la asqoinaahummaa an ghodaqoo”

“Dan jika kamu tetap diatas jalan thoriqoh, niscaya Aku akan memberikan kepadamu Maa-an Ghodaqoo”

Tapi kalau ibadah itu hanya musiman, jangan harap bisa mencapai yaqin, setengahnya saja tidak.

Ada satu qishoh tentang tiga orang yang sangat tekun beribadah, kemudian diuji oleh Alloh Ta’ala, bagaimana tingkatan iman mereka. Apakah setelah diuji itu mereka akan tetap tekun beribadah ataukah tidak ?

Tiga orang Bani Isroil itu tekun beribadah siang-malam, kalau malam sholatnya tekun dan kalau siang berpuasa, wirid dan dzikir.

Ketiganya bertempat dipuncak gunung yang berbeda, lalu malaikat diperintah oleh Alloh untuk menguji kekuatan iman tiga orang Bani Isroil tersebut.

Alloh berfirman kepada Malaikat:

“Itu ada tiga orang hamba KU yang ada di puncak gunung, mereka itu ibadahnya tekun-tekun, maka datangilah dan beritahukan kepada mereka akan beberapa hal untuk menguji seberapa kuat iman mereka”

Maka Malaikat itupun melaksanakan perintah Alloh tersebut dengan mendatangi ketiga orang Bani Isroil itu satu persatu.

Kepada orang Bani Isroil yang pertama itu Malaikat berkata :

“Hai fulan, meskipun ibadahmu itu tekun siang-malam beberapa tahun, tapi toh kamu akhirnya tidak dapat masuk syurga atau tidak akan memperoleh syurga”

Bani Isroil 1, menjawab :

“Orang bekerja itu yang dipentingkan adalah hasilnya, bukan kesulitannya. Kalau saya ibadah terus menerus tapi tidak akan mendapat syurga, berarti ibadah saya selama ini adalah sia-sia saja. Kalau hanya dapat suasana payahnya saja, ya lebih baik tidak usah ibadah. Untuk apa saya ibadah kalau tidak ada hasilnya apa-apa”

Akhirnya orang Bani Isroil 1 tidak mau ibadah, imannya berubah, karena ibadahnya itu didorong supaya bisa masuk syurga.

Kemudian orang Bani Isroil ke 2 yang sedang berada dipuncak gunung lainnya juga didatangi oleh Malaikat untuk diuji imannya.

Kepada orang Bani Isroil yang kedua itu Malaikat berkata :

“Hai fulan, meskipun kamu itu ibadah samapi habis umurmu, kamu tetap tidak akan bisa bebas dari neraka, kamu tetap masuk neraka”

Bani Isroil ke 2, menjawab :

“Ibadahku tekun selama ini adalah supaya aku bisa selamat dari neraka, tetapi ternyata apa yang saya harapkan tidak akan tercapai. Bila demikian, maka untuk apa saya sulit-sulit ibadah”

Akhirnya orang Bani Isroil ke 2 tidak mau ibadah, imannya berubah, karena ibadahnya itu didorong supaya terbebas dari neraka. Akan tetapi, ibadah yang ditekuninya tidak ada manfaatnya apa-apa.

Kemudian orang Bani Isroil ke 3 yang sedang berada dipuncak gunung lainnya didatangi juga oleh Malaikat untuk diuji imannya.

Kepada orang Bani Isroil yang ketiga itu Malaikat berkata :

“Kamu telah tekun beribadah selama 30 tahun, tapi ibadahmu itu tidak akan mendapat syurga, tapi justru kamu akan menjadi bahan bakarnya neraka, bagaimana kamu ?”

Bani Isroil 3 :

“Saya ini hamba Alloh, saya ini kawulonya Alloh, dan Alloh itu Tuhan Saya. Kewajiban sebagai hamba adalah mengabdi kepada Tuhannya, bukan persoalan syurga dan neraka. Seandainya saya nanti masuk neraka, maka itu bukan karena ibadah saya tapi karena Rohman Rohimnya ALLOH, sebab sebelum diperintah ibadah itu saya sudah diganjar diberi mata, aqal, fikir, diberi alam ini, dan sebagainya. Jadi saya tidak minta bayaran, karena kewajiban saya sebagai hamba adalah mengabdi, kalau tidak mengabdi maka itu namanya bukan hamba. Seandainya saya mati saya masuk neraka maka itu adalah karena keadilannya Alloh sendiri, itu haknya Alloh, dan saya tidak mencampuri haknya Alloh. Saya mementingkan kewajiban azasi saya terhadap Alloh, bukan persoalan surga dan neraka”.

Malaikat :

“Jadi kamu tetap ibadah ?”

Bani Isroil 3 :

“Tetap”

Malaikat :

“Seandainya kamu dimasukan neraka ?”

Bani Isroil 3 :

“Ya, tetap ibadah. Kamu kok macam-macam sih ?”

Malaikat :

“Ya sudah, kalau begitu ?”

Demikianlah malaikat itu diutus untuk mengukur tingkat keimanan tiga orang Bani Isroil tersebut, dan ternyata hasilnya :

  • Bani Isroil 1, jadi mutung dan sudah tidak mau ibadah lagi, sebab tidak akan mendapat syurga.
  • Bani Isroil 2, juga mutung, karena walaupun tekun ibadah, toh tetap masuk neraka.
  • Sedangkan Bani Isroil 3, tetap teguh dalam beribadah, walaupun tidak mendapat syurga dan walaupun akan dijadikan bahan bakar api neraka.

Sekarang jelaslah, alasan kita beribadah.

Firman Alloh :

“Yang nomer satu dan nomer dua ini bukan hamba KU / kawula KU yang sejati, tapi imitasi / palsu. Mereka berdua hanya percaya saja bukan yaqin kepada KU.

Seumpama AKU tidak membuat syurga, maka dia tidak akan ibadah. Karena tak ada yang diinginkan

Seumpama AKU tidak membuat neraka, maka dia tidak akan ibadah. Karena tidak ada yang ditakuti.

Adapun yang nomer tiga itulah yang benar-benar hamba KU, dia itu “Abdul haq” atau Abdul Yaqin”. Biarpun syurga dan neraka ada atau tidak, dia tetap ibadah karena ibadahnya itu bukan karena syurga dan neraka, tapi semata-mata karena AKU”

Menurut Bani Isroil 1 dan 2, Alloh hanya dijadikan perantara saja, yang dituju adalah Syurga, dan menghindari neraka. Manusia yang semisal ini masih banyak, bahkan jumlahnya jutaan.

Kalau ibadah dilisannya mengucapkan “lillaahi ta’ala” (karena Alloh Ta’ala), tapi prakteknya “liljanah” (karena Syurga). Apakah ini bukan musyrik Halus ?

Tidak cocok dengan surat Al Fatehah, ayat 4.

“Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” artinya: “Kepada MU aku Meng-Hamba, dan Kepada MU aku mohon pertolongan”.

Menurut Tashawuf, kalau orang ibadah itu yang dituju selain Alloh, maka itu adalah orang laki-laki haidl. Berarti orang laki-laki haidh itu banyak.

Jadi kita harus berusaha, karena meningkatnya iman kita kepada yaqin itu ada hubungannya dengan ikhtisab atau usaha kita.

Berhati-hatilah dengan kondisi diatas, tanpa terasa Iman MUKTASABI kita akan mengalami pergeseran menjadi syirik halus.

La haula walaa quwwata illaa billah ….

Kedua : Berfikir

Berfikir disini maksudnya bukan sekedar berfikir, tapi berfikir secara Islam. Adapun yang menggunakan jalan berfikir ini diterangkan dalam Al Qur’an pada surat Adz Dzariat, ayat 21:

QS.51:21     “Wafil Ardli aayatul lil muuqiniina, wafii anfusikum afalaa tubshiruuna”

Artinya :       “Dibumi ini banyak ayat-ayat untuk orang-orang yang ingin mencapai yaqin. Didalam dirimu masing-masing, mengapa kamu tidak melihatnya ?”

Kata “FII” ditujukan pada 2 hal, yaitu :

  1. “FIL ARDLI” = didalam Bumi, ayat yang diluar diri kita yaitu di bumi, adalah untuk mencapai tingkat yaqin.
  2. “FII ANFUSIKUM” = didalam diri mu sendiri (semua manusia). Ayat yang didalam diri kita ini lebih dari ayat yang di bumi.

Ayat-Ayat di Bumi

Marilah kita melihat bagaimana ayat-ayat yang ada di bumi ini. Ayat-ayat ini juga meliputi Bumi Luar dan Bumi dalam.

Sadarkah kita sebagai manusia merupakan Inti Alam semesta ?

Bumi adalah Inti Alam semesta, Manusia adalah Inti Bumi.

Al Qur’an adalah Inti Alam Semesta, Al Fatehah adalah Inti Al Qur’an.

Langit mempunyai tujuh lapis, Bumi mempunyai tujuh lapis, dan manusia mempunyai tujuh lapis. Al Qur’an mempunyai mempunyai tujuh lapis, dan Al Fatehah mempunyai tujuh lapis. Bagaimana ini kok bisa begini ?

(Mohon di cari sendiri, karena berhubungan dengan Rubbubiyyah)

Kalau kita masuk ke dalam bumi diri kita sendiri, fikiran kita masuk ke dalam bumi diri kita sendiri, maka kita akan bertemu yang dinamakan “ANFUS

Dalil diatas ini dikhususkan untuk orang yang berfikir, yang tidak puas dengan dalil-dalil yang ada diluar. Dalam hal ini Al Qur’an menyertai aqal manusia, karena aqal tiap-tiap manusia itu tingkatannya berbeda.

Ada yang tingkatan aqalnya itu mendekati panca indera, untuk tingkat ini Al Qur’an pun menyertainya, maka dicari saja dalil-dalil yang mudah-mudah, Misalnya : pada surat Al Ghoosyiyah ayat 17 sampai dengan ayat 21.

QS.88:17     “Tidakkah kamu perhatikan onta, betapakah onta itu dijadikan ?”

QS.88:18     “Dan perhatikan langit, bagaimana langit ditinggikan?”

QS.88:19     “Dan perhatikan gunung, bagaimana gunung ditegakkan?”

QS.88:20     “Dan perhatikan bumi, bagaimana bumi itu dihamparkan ?”

QS.88:21     “Maka berilah mereka peringatan, karena engkau adalah pem-beri peringatan”.

Bagi orang orientalis, ayat ini justru dipakai peluang untuk melemahkan orang Islam sendiri. Karena menurut ayat ini jelaslah bahwa agama Islam itu khusus untuk orang arab saja. Dan kalaupun orang itu bukan orang arab maka dia masih mepunyai garis keturunan orang Arab. Dan sesuai dengan kebudayaan orang Arab.

Astaghfirulloh aladzim…

Karena onta itu adanya di Timur Tengah atau di negeri Arab, sedangkan disini adalah kerbau dan lembu. Apabila agama Islam itu ditujukan untuk kita, pastilah bunyi ayatnya “Afalaa Yandhuruuna ilal kebo” jadi jelasnya bahwa agama Islam itu hanya khusus untuk orang arab saja, kita yang bukan orang arab tidak boleh ikut masuk agama Islam.

Astaghfirulloh aladzim…

Pendapat tersebut sangat keliru, dan tidak sesuai dengan hajatnya manusia.

Sedangkan hajat utama manusia adalah ingin hidup bahagia, dan untuk mencapai kebahagiaan tidak ada jalan lain kecuali masuk ke agama Islam secara totalitas.

Masuk ke dalam Anfus

Apabila kita masuk ke dalam bumi kita sendiri, maka kita akan bertemu Anfus. Lalu kalau sudah bertemu dengan Anfus, bagaimana ? ya harus masuk lagi kedalam Anfus. Jadi fikiran harus masuk kedalam hati sampai bisa bertemu.

Fikiran kita bertemu dengan fikiran. Bagaimanakah maksudnya fikiran bertemu dengan fikiran ?

Kalau kita tidak berfikir berarti kita tidak ada, maka oleh sebab itu kita berfikir berarti kita ada. Dimanakah fikiran itu ? fikiran itu Ghoib.

Bicaranya fikiran itu tidak bersuara, tidak berbentuk, dan tidak berupa tulisan. Bila kita akan berbuat sesuatu, tangan kita sudah faham apa yang sedang kita fikirkan, lalu bagaimanakah tangan itu mendengarnya ? ya tidak didengarkan, karena fikiran itu tidak ada suaranya.

Misalkan : bila fikiran ingin menulis, semua yang dikatakan di dalam fikiran itu tangan bisa menulisnya.

Jadi fikiran itu ada tapi tidak berbentuk, tidak berupa, tidak berbau, tidak terasa dan tidak diketahui dimana tempatnya, namun semua manusia pasti mengakui bahwa fikiran itu ada.

Oleh sebab itu kalau mata kita tidak dapat mengetahui sesuatu, jangan dikira sesuatu itu “tidak ada”.

  • Apakah fikiran itu ada rasanya, misal : manis, asam atau pahit ? jawabnya tidak.
  • Apakah fikiran itu ada baunya, misal : harum, busuk ? jawabnya tidak.
  • Apakah fikiran itu ada bentuknya, misal : bulat, persegi, tebal, tipis ? jawabnya tidak
  • Apakah fikiran itu ada warnanya, misal : hijau, kuning ? jawabnya tidak
  • Apakah fikiran itu ada suaranya, misal : kresek ? Jawabnya tidak.
  • Apakah fikiran itu bisa didengar ? Jawabnya tidak.

Kenapa ? Karena : “Bilaa Harfin Bilaa Shautin”, hal ini ada rahasianya dalam ayat pertama turun : “allama bilqalam”. Maka kalau kita sudah masuk ke dalam Anfusikum, maka kita akan bisa itu tadi.

Ketiga : Mujahadatul Hawa

Apakah yang manjadi sebab paling mudah sampai meningkat pada yaqin, tapi justru paling sulit ? yaitu dengan cara : Mujahadatul Hawaa.

“Berperang melawan hawanya sendiri”.

Dikatakan mudah   :  Karena musuhnya ada di dalam diri kita sendiri.

Dikatakan sulit       :  Karena kita tidak pernah menang melawan hawa, setiap sholat ikut, wiridan ikut.

Alloh Ta’ala berfirman dalam surat Al Ankabut ayat terakhir :

QS.29:69     “Walladziina jaahaduu fiinaa lanahudiyannahum subulanaa”

Artinya :       “Dan orang-orang yang sungguh-sungguh mujahadah, akan AKU tunjukkan jalan menuju kepada KU”

  • Jalan Mujahadah inilah yang ditempuh oleh orang-orang tashawuf.
  • Jalan berfikir adalah yang ditempuh oleh orang filsafat.
  • Jalan ibadah adalah jalan yang ditempuh oleh orang mukmin awam.

Beribadah yang tekun inipun juga terasa berat. Tetapi yang mengatakan berat adalah nafsu kita.

Kadang-kadang Mujahadah baru 4 hari saja sudah terasa lamanya seperti 40 hari. Tidak sarapan pagi saja katanya sudah tirakat, karena biasanya itu pada waktu subuh sudah sarapan 2 piring.

Didalam jalan mujadah ini, diantaranya yang dipentingkan ialah sebagaimana yang disebutkan disurat Ar Ro’du :

QS.13:28     “Alaa bidzikrillaahi tathmainnul quluub”

Artinya :       “Ingatlah, dengan dzikir kepada Alloh, tenang hati”

Yang dimaksud dengan “tathmainnul quluub” itu adalah yaqin, yaitu hati tidak akan berubah.

Tetapnya hati dalam satu keyakinan adalah sulitnya sulit, karena hati menghadapi gempurannya dunia ini.

  • Kadang hati itu kuat digempur dengan penderitaan, kemudian ujian penderiataan dihilangkan dan ganti digempur oleh kemewahan dan kesenangan, akhirnya jebol.
  • Kadang ketika faqir hati itu kuat, contohnya pada Zaman Rasululloh SAW yang bernama Tsalabah, ketika faqir tekun beribadah, kalau berjama’ah sholatnya sering ketinggalan atau terburu-buru, karena hanya punya sehelai sarung saja yang dibuat gantian oleh istrinya. Maka tsalabah mohon kepada Rasululloh SAW supaya di do’akan menjadi orang yang cukup. Kemudian Rasululloh SAW memberikan seekor kambing (yang sudah dibacai do’a oleh Rasululloh SAW, itu adalah kambing barokah) kepada Tsalabah untuk dibawa pulang dan diternak, akhirnya kambing itu berkembang menjadi dua, tiga, empat dan seterusnya sampai menjadi ribuan ekor. Oleh karena sibuk mengurusi ribuan kambing, sehingga sudah tidak pernah lagi muncul. Inilah contoh untuk orang yang kuat ketika faqir, tetapi tidak kuat menghadapi gempuran kekayaan. Waktu faqir kuat, tapi waktu kaya jebol, akhirnya tidak “tathmainnul quluub”.
  • Ada lagi sewaktu kaya kuat, kemudian kekayaannya itu dihilangkan dan di hantam kefaqiran, akhirnya jebol. Misal kondisi seperti ini :

“Bagaimana ini, badan saya sakit, istri sakit, anak saya sakit, butuh berobat tapi uang tidak ada, hutang sudah banyak, mencari pekerjaan sulit, siapa yang tahan ?

Menggerutu terus akhirnya berubah. Asalnya baik kemudian menjadi tidak baik, berani menipu dan sebagainya.

Ini contoh orang yang tidak kuat dihantam oleh gelombang kefaqiran.

Jadi “tathmainnul quluub” itu sulitnya sulit.

  • Tenang menghadapi harta yang berlimpah-limpah.
  • Tenang menghadapi musibah yang bertubi-tubi.

Kita hidup didunia ini jangan takut dicaci dan jangan minta dipuji. Cacian dan pujian orang itu biasa, dan pasti berubah-ubah, kadang dicaci dan kadang di puji. Mau ikut pengajian takut di cela orang, kuatir dicemooh sok sumuci suci, akhirnya tidak jadi berangkat. Hanya duduk dirumah dicemooh, iku pengajian dicemooh. Sama-sama dicemooh yang lebih baik ikut pengajian.

Kumpul dengan orang tapi tidak mau dicaci, itu aneh namanya. Ya kumpul dengan gudel saja supaya tidak dicaci orang.

DITENTANG URUSAN ALLOH, JANGAN TAKUT KEPADA MANUSIA.

DITENTANG URUSAN MANUSIA, TAKUTLAH KEPADA ALLOH.

Lalu bagaimanakah untuk mencapai “tathmainnul quluub” itu ?

Adapun caranya telah diterangkan dalan surat Ar ra’du, ayat 28

QS.13:28     “Alaa bidzikrillaahi tathmainnul quluub”

Artinya :       “Ingatlah, dengan dzikir kepada Alloh, tenang hati”

Kalau kita dzikir dengan sungguh-sungguh, maka hati menjadi tenang. Dzikir itu maknanya : Ingat.

  • Ingat akan perintah-perintah Alloh, untuk apa ? untuk dilaksanakan.
  • Ingat akan larangan-larangan Alloh, untuk apa ? untuk dijauhi.
  • Ingat akan nikmat Alloh yang begitu banyak, untuk apa ? untuk di syukuri.
  • Ingat akan musibah atau ujian-ujian Alloh, untuk apa ? untuk di shobari.

Jadi tidak ingat saja, tapi ada untuknya. Kalau ingat saja tapi tidak ditindak lanjuti, maka tidak bisa “tathmainnul quluub”.

Setelah kita mengenal keberadaan Alloh (Ma’rifatullah), baru kita akan membahas mengenai Rukun Islam.

–o0o–

RUKUN AGAMA (Islam)

Apabila anak cucu Adam mempunyai keinginan untuk memeluk agama Islam yang pertama kali dibaca adalah BasmAlloh yaitu: “Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

BasmAlloh adalah kunci kehidupan manusia, dan tidak tertera pada Al Qur’an (surat apa dan ayat berapakah ?)

Apabila kita kaji BasmAlloh, maka kita akan mengerti kelemahan-kelemahan manusia.

A.    “Dengan Nama Alloh…”

Segala sesuatu dan kegiatan apapun kita mulai dengan BasmAlloh.

B.    “… Yang Maha Pengasih …”

Alloh mempunyai sifat Maha pengasih, Apa yang dikasih oleh Alloh ?

  1. Alloh memberikan 4 unsur zat beserta sifat-sifatnya.

Unsur

Pembentuk

Sifat

Air Sperma, Daging, Darah dan seisi didalam rongga dada QS.23:12-14; QS.75:37; QS.22:5; QS.21:30 Syirik, pidik, kibir, Ananiah, Ria, Hasad, dengki, nrimo
Api Tulang (tembikar=tanah yang keras dibakar oleh api) QS.23-14

QS.55:14Amarah, dendam.AnginO2 (Oksigen) Oksidasi untuk menimbulkan energi.QS.23:12MengkhayalTanah (Bumi)Seluruh unsur tubuh manusia dari tanah.QS.22:5; QS.38:71Tamak, loba, serakah, rasa ingin memiliki.

Tabel-5

Catatan:

  • Sari pati tanah adalah Carbon, Hydrogen, Oxygen dan Nitrogen.
  • Keberadaan manusia terdiri dari sifat 4 unsur yang seakan-akan bentuknya seperti equilizer. Ada yang tinggi di sifat air, ada yang tinggi disifat api, ada yang tinggi disifat angin, dan ada yang tinggi disifat bumi. Variasi dari kesemuanya ini merupakan hukum sosiologi pada bidang psikologi.
  • Alloh memberikan alam jagad raya ini untuk dimanfaatkan oleh umat manusia (baik Islam maupun non-Islam).
  • Alloh Menentukan hukum (sunnatullah), baik hukum Alam yang tingkat reaksinya cepat, yang berhubungan dengan Fisika, matematika dan Kimia. Maupun hukum sosial yang tingkat reaksinya lambat lebih panjang dari usia manusia, akan tetapi kedua hukum tersebut (hukum Alam dan sosial) bersifat pasti. Akan dibahas kemudian.

C.    “… Yang Maha Penyayang …”

Alloh Maha Penyayang, Siapa yang disayang oleh Alloh ?

Sifat Maha Penyayang Alloh tidak diberikan oleh semua manusia, atau hanya manusia tertentu, yaitu manusia yang sempurna, yang selalu ingat dan dekat dengan Alloh. Jika kita ingin disayang oleh Alloh maka kita harus bertaqwa, dalam arti kata:

  1. Menjalankan peritah dan menjauhi larangan Alloh.
  2. Sanggup mengendalikan sifat-sifat dari 4 unsur zat tersebut. Untuk dapat mengendalikannya, hanya dengan cara zikrullah (shalatnya ruhaniah). Zikrullah dilakukan seirama dengan nafas kehidupan kita.
  3. Dapat memanfaatkan dengan baik (amal shaleh) fasilitas yang telah Alloh berikan dan sediakan.
  4. Dapat memahami dan menyesuaikan dengan sunnatullah.

La haula wa la quuwata illa billah ….

Alloh sangat menyayangi kepada hambanya yang taqwa. Amiin.

1.   SYAHADATAIN

Syahadat merupakan Pernyataan Tugas Hidup (Mission Statement).

Setelah membaca basmAllah, kita mengucapkan Syahadatain. Yaitu:

“Aku Menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Alloh, dan aku Menyaksikan Manusia Mulia (Muhammad) Utusan Alloh (Rasulullah)”

Mari kita fahami satu-persatu:

a.     “Aku Menyaksikan …”

  • Kita pernah bersaksi di alam ruh, menyaksikan langsung dan bersumpah dihadapan Alloh, bahwa “Alloh sebagai tuhan-ku”.
  • Saat ini kita bersaksi, dialam dunia ini. Mengingatkan ruh kita dan penyaksian diri secara jasmani. (peganglah kuat-kuat sumpah ini ditangan kanan kita)
  • Seluruh manusia cenderung mencari tuhan dan harus benar-benar tuhan yang maha atas segalanya. (dalam hal ini tidak ada faham komunis dan atheis)
  • Unsur ketuhanan sangat melekat pada diri manusia dan tidak dapat dihindari dan dipungkiri.

b.     “… tiada Tuhan …”

Segela bentuk yang dituhankan oleh manusia, termasuk yang ada didalam diri manusia itu sendiri ( yang tergolong Najis didalam diri manusia, seperti : menuhankan Keinginan, menuhankan Hawa Nafsu, Menuhankan Keangkuhan dan Kesombongan (Kekuatan dan Kemampuan).

c.     “… selain Alloh …”

Kita telah mengetahui Alloh melalui Rukun Iman diatas. Jadi kita tidak akan merasa ragu-ragu lagi atas keberadaan Alloh.

Akan tetapi, kita baru sebatas mengetahui adanya Alloh sebagai tuhan kita. Mungkin belum membuktikan keberadaan Alloh SWT.

d.     “… Muhammad Rasulullah”

Kita telah mengenal dan mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah melalui Rukun Iman diatas. Jadi kita tidak akan merasa ragu-ragu lagi atas kebenaran Nabi Muhammad SAW.

Akan tetapi, kita hanya sebatas mengenal dan mengakuinya saja, belum sanggup menyimak dan mengikutinya.

Pada dasarnya, Nabi Muhammad SAW adalah manusia biasa seperti kita, akan tetapi beliau mendapat gelar langsung dari Alloh SWT sebagai Nabi dan Rasulullah. Jika kita mengakui adanya persamaan sebagai manusianya, berarti kita telah meyakini tunduk dan taat pada firman Alloh SWT.

Akan tetapi Nabi Muhammad SAW dan semua manusia mempunyai tugas kemanusiaan yaitu menerima dan menyampaikan Amanah. maka selayaknya kita perlu memperhatikan firman Alloh;

QS.33:72     “Sesungguh Alloh telah mengemukakan amanah (tugas keagamaan) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul AMANAH dan  mereka khawatir akan menghianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia sesungguhnya manusia itu amat Zalim dan amat bodoh” 

Jika kita mengakui persamaannya, sebagai manusia, maka kita akan dapat membedakan secara baik dan benar.

AMANAH

Manusia

Nabi Muhammad SAW

Kita

Penerimaan Dari Alloh SWT melalui Malaikat Jibril AS. Dari Rasulullah melalui para sahabat dan para alim ulama. Sekarang berbentuk Al Qur’an.
Penyampaian Kepada umatnya pada saat itu, disampaikan secara berantai. Kepada umatnya pada saat ini, disampaikan secara berantai.

Jadi setiap manusia yang mengakui bahwa dirinya muslim, secara langsung ataupun tidak langsung telah menerima tugas, yaitu menerima dan menyampaikan Amanah yaitu firman Alloh.

Amanah dapat diartikan sebagai

  • Menjaga keimanan (Tauhid Rububiyyah) dan sanggup untuk di implementasikan dengan keimanan (Tauhid Ubudiyyah).
  • Menerima dan menyampaikan firman Alloh, atau sebagai pemberi peringatan saja, karena perintah dan larangan adalah hak mutlak milik Alloh SWT.
  • Mengarahkan kemerdekaan yang diberikan oleh Alloh agar tidak mengganggu kemerdekaan orang lain, berdasarkan amal ibadah.

Syahadatain adalah pangkal utama dari Rukun Islam, karena letaknya pada urutan pertama. Apa yang dapat kita ambil dari Syahadatain ini?

Sebelum manusia muncul dipermukaan bumi ini, manusia itu sudah ada.

Dimana ?    ya.. di alam arwah (amr)

Ketika alam semesta ini sudah lengkap diciptakan, sudah ada langit, bumi, gunung-gunung dan sebagainya. Tetapi manusia belum ada di permukaan bumi ini, maka sebenarnya ketika itu manusia sudah ada di alam arwah (amr), manusia masih belum memakai baju (jasmani), masih berupa Ruh.

Belum ada rasul, belum ada nabi, seluruhnya berbentuk ruh, kedudukan-nya sama. (kalau satu orang itu ruh, kalau banyuak itu arwah).

Maka disitulah Alloh SWT berfirman kepada langit, kepada bumi dan kepada seluruh gunung-gunung yang ada didunia ini.

Firman Alloh SWT sebagaimana tersurat pada Al Ahzab.

QS. 33:72     “Sesungguhnya Kami / Alloh telah menawarkan AMANAH (tugas keagamaan) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan memikulnya, dan  mereka takut menerima amanah tersebut, kemudian manusia sanggup membawa amanah itu. Sesungguhnya manusia itu amat dholim dan amat bodoh” 

Marilah sejenak kita renungkan lagi …

Dalam ayat ini menyebut 4 makhluq, yakni Langit, Bumi, Gunung dan Manusia.

Adapun yang ditawari oleh Alloh SWT untuk membawa amanat itu hanya tiga makhluq, yakni Langit, Bumi dan Gunung, sedangkan manusia tidak ditawari. Akan tetapi jangan ditanya memakai bahasa apakah Alloh menawarkan amanat kepada ke tiga makhluq tersebut, atau loh kok, mereka bis berbicara ?

Tidaklah perlu kita bertanya seperti itu, karena ini mengenai hakekat.

Alloh berfirman kepada langit : “Wahai langit, terimalah amanat KU”

Alloh berfirman kepada bumi : “Wahai bumi, terimalah amanat KU”

Alloh berfirman kepada gunung : “Wahai gunung, terimalah amanat KU”

Akan tetapi semua yang ditawari itu menjawab tidak sanggup membawa amanat tersebut, karena begitu beratnya amanat itu.

Didalam ayat tersebut, manusia tidak termasuk yang ikut ditawari amanat, akan tetapi kemudian Ruh manusia angkat tangan dan menyatakan sanggup membawa amanat itu. (“Wa hamalahaal insaanu”)

Akan tetapi lucunya, diakhir ayat ini, manusia yang sanggup membawa amanat itu justru disebut “amat dholim dan bodoh” (“Innahu kaana dholuuman jahuulaa”)

Loh, mengapakah yang sanggup membawa amanat itu justru dikatakan dholim dan bodoh? Mestinya dipuji-puji.

Dan mengapakah langit, bumi, dan gunung yang tidak sanggup menerima amanat justru tidak disebut dholim dan bodoh?

Tafakaruun …

AMANAT

Kemudian timbul pertanyaan lagi : “Apakah amanat yang ditawarkan oleh Alloh Ta’ala ?”

Kalau kita pernah membaca di buku-buku dan kitab-kitab tafsir, maka amanat Alloh tersebut ditafsirkan bermacam-macam, yang membuat kita dapat untuk memfokuskan diri. Dan kita harus memakluminya, namanya juga tafsir, yang dibahas juga banyak, seperti membahas : Kalau memang langit, bumi dan gunung tidak sanggup, lalu kuat manakah diantara ke tiga makhluq dengan manusia ?

“Kalau memang kamu (manusia) sanggup menerima amanat, maka terimalah amanat KU ini”

Penawaran ini tidak memakai perantara Nabi dan Rosul, tetapi langsung antara Alloh SWT dengan Seluruh Ruh Manusia.

Jadi, seluruh Ruh Manusia, termasuk Ruh Saya dan Ruh Anda, tidak pandang bulu, tanpa Hijab, tanpa aling-aling, tanpa perantara Nabi / Rosul / Malaikat, pada waktu itu belum ada Nabi dan Rosul, semua sama derajatnya (sebagaimana halnya bila kita pergi ibadah haji, pada saat di Arafah semuanya sama).

Apakah Amanat Alloh tersebut?  Jawabnya di surat Al A’raf

Amanatnya ialah : “Alastu Birobbikum“ Artinya : “Apakah Aku ini bukan Tuhan mu?

Lalu bagaimanakah jawaban Ruh?

Qooluu Balaa Syahidnaa  ‘alaa Anfusinaa”, artinya : “berkata semua (Ruh),Yaa, aku menyaksikan atas diriku

Setiap diri manusia membawa amanat secara pribadi, mempertahankan dan menyampaikan penyaksian atas dirinya, bahwa Alloh SWT adalah Tuhan manusia dan melaksanakan perintah dan larangannya, yang telah disaksikannya di alam ruh.

Jadi jelasnya :

“A Lastu Birobbikum”                      , ini namanya IJAB

“Qooluu”                                                , Ini namanya IQROR

“Bala”                                                      , ini namanya QOBUL

“Syahidnaa ‘ala anfusina”              , ini namanya Syahadatnya Ruh

“Syahidalloohu Annahu                  , ini namanya Syahadat Hakekat

Laa ilaha Illaa huwa”

Asyhadu an laa ilaaha illalloohu,      , Syahadat Ruh dan Jasmani.

wa asyhadu anna Muhammadan

Rosuululloh”

Jadi syahadat kita sekarang ini adalah syahadatnya RUH dan JASMANI, adapun Syahadatnya RUH dan JASMANI adalah pantulan dari Syahadat RUH, dan Syahadat RUH adalah pantulan dari Syahadat HAKEKAT.

Inilah yang disebut dengan TAUHID RUBBUBIYYAH, yang tertanam didalam RUH seluruh manusia.

Dan seluruh manusia turun kedunia, didalam ruhnya sudah tertanam Tauhid Rubuubiyyah, yang langsung berhadapan dengan Alloh, tidak memakai perantara Nabi, tidak memakai dalil Al Qur’an, dan juga tidak memakai dalil alam, tapi langsung. Disinilah sumbernya Ladunii, inilah sumbernya segala sumber. Sesuai dengan firman Alloh SWT,

QS.7:158     “Katakanlah: “hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepadamu semua, yaitu Alloh yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia (Alloh), yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kepada Alloh dan Rasul-NYA, Nabi yang ummi yang beriman kepada Alloh dan kepada kalimah-kalimah-NYA (kitab-kitab NYA) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”

QS.7:172     “Dan (ingatlah), ketika Tuhan-mu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, seraya berfirman: ‘Bukankah Aku Tuhan mu?’, mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esa-an Tuhan)”

QS.7:173     “Atau agar kamu tidak mengatakan: ‘sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang sesudah mereka, maka apakah engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?’”.

Jadi Kalimat Tauhid timbul dari Ilmu Tauhid, dan Ilmu Tauhid timbul dari Hakekat Tauhid.

Ada kalimat Tauhid, ada Ilmu Tauhid, dan ada Hakekat Tauhid.

Dan jangan dikira orang yang banyak membaca “Laa ilaha illa allooh” itu adalah sudah Ahli Tauhid, tidak. Karena yang dibaca itu hanyalah kalimat tauhid, yang timbulk dari Ilmu Tauhid.

Dan kalimat itu sendiri ada bermacam-macam:

ö  Kalau kalimat itu disusun dengan ucapan, maka namanya Kalimatul ‘ibarot.

ö  Kalau kalimat itu tersusun dari tulisan, maka namanya Kalimatul Maktabat.

ö  Kalau kalimat itu disusun dengan gerakan, maka namanya Kalimatul Isyaroh.

ö  Kalau kalimat itu disusun didalam hati saja, maka namanya Kalimatun Nafsi.

Jadi ada kalimat ‘ibarat, Maktabat, Isyarah, dan Kalimatun Nafsi, dan ada juga Kalimatul Hakekat.

SYARAT-SYARAT SYAHADAT

1.   Mengetahui maknanya yaitu apa-apa yang di-nafyi-kan dan ditetapkannya: Alloh Ta’ala berfirman :

QS.47:19      “Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada ilah kecuali Alloh”

Sabda Rasululloh SAW : HR. Muslim.

“Barang siapa yang meninggal sedang ia mengetahui bahwa tidak ada ilah kecuali Alloh, maka ia akan masuk Jannah”

2.  Yakin tanpa ragu-ragu, yaitu yakin apa yang terkandung dalam syahadat dengan sebenar-benarnya. Karena iman akan sempurna kecuali apabila dilengkapi dengan ilmu dan yakin bukan dhon (ragu).

QS.49:15      “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rasul-NYA kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Alloh. Mereka itu orang-orang yang benar”

Sabda Rasululloh SAW : HR. Muslim

“Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Alloh, dan sesungguhnya aku adalah Rasululloh, tidaklah seorang hamba menjumpai Alloh dengan kedua kalimat tadi tanpa keraguan didalamnya, kecuali ia pasti masuk Jannah”.

3.  Menerima tuntutan kalimat tersebut dengan hati dan lisannya. Alloh Ta’ala telah mengisahkan kepada kita berita masa lalu tentang keselamatan orang yang mau menerimanya dan siksaan bagi orang yang menolaknya.

QS.37:36      “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepa-da mereka, “La ilaha illalloh” mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila”.

4.  Tunduk dan patuh dengan memenuhi hak-haknya, yaitu dengan men-jalankan perintah-perintah Alloh tanpa sedikitpun keberatan.

QS.39:54      “Dan kembalilah kamu kepada Rabb-mu, dan berserah dirilah kepada-NYA, sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi”

Sabda Rasululloh SAW : HR. Nawawy, diriwayatkan dari Al Hujjah dengan sanad Shohih:

“Tidak sempurna iman seseorang dari kalian sampai hawa nafsunya tunduk (mengikuti) apa-apa yang telah aku sampaikan”

5.  Shiddiq (jujur) tidak mendustakan. Maksudnya : hendaklah ia mengucapkan kalimat ini dengan tulus dari hatinya. Apa yang diucapkan dilidah dibenarkan oleh hatinya.

QS.29:2-3     “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami Telah Beriman”, sedang mere-ka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.

Dari Mu’adz bin Jabal RA dari Rasululloh SAW bersabda : HR Bukhori

I/226,MI/61    “Tidak seorangpun bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang haq selain Alloh dan Muhammad adalah hamba dan rasul-NYS benar-benar dari hatinya kecuali Alloh akan mengharamkan atas Neraka”

6.  Ikhlas, dengan cara membersihkan amal dan niat dari semua hal yang membawa kemusytikan, Alloh Ta’ala berfirman :

QS.98:5        “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-NYA dalam (menjalankan) dien yang lurus”.

Dari Abu Huroiroh RA, Rasululloh SAW bersabda :

HR Bukhori   “Manusia yang paling beruntung mendapatkan syafa’at ku pada hari kiamat adalah yang mengatakan Laailaha illalloh dengan ikhlas dari hati dan jiwa”.

HR Muslim    “Sesungguhnya Alloh mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan Laailaha illalloh demi mencari ridho Alloh semata”.

7.  Cinta terhadap kalimat tauhid ini dan apa-apa yang menjadi tuntutan-nya serta cinta kepada orang-orang yang beriltizam serta memenuhi syarat-syaratnya, juga dengan membenci hal-hal yang membatalkan-nya.

Dengan demikian Insya Alloh kalimat Tauhid masuk kedalam tubuh kita merembah ke dalam anfus kita dan akan membentuk jiwa tauhid.

2.   Shalat

Shalat Merupakan Membangun Watak dan Sifat (Character Building)

Mata adalah tiangnya tubuh, Tauhid Rubbubiyyah adalah tiangnya Syahadat, Syahadat adalah tiang Sholat, dan Sholat adalah tiang agama.

Sholat merupakan bentuk ibadah yang sangat tinggi nilainya, karena sholat merupakan tiang Agama Islam.

Bagaimana mungkin orang tersebut mengaku beragama Islam, sementara dia tidak melaksanakan sholat.

Sedangkan banyak diluar Islam tidak melakukan Sholat, akan tetapi perilakunya baik dan diterima oleh masyarakat umum.

Kita semua dapat merasakan bagaimana ketidak mampuan kita dalam pengendalian diri terhadap sesuatu permasalahan dunia, hal yang membuat kita susah, sedih dan gelisah. Bagaimanakah mengatasinya ?

Apabila kita mengatasinya dengan menggunakan cara yang ada di dunia, maka kita tidak akan berhasil. Karena masalah ditutup dengan masalah yang baru. Begitu seterusnya. Sampai kita dibuat pusing tujuh keliling.

Yang jelas dengan metode sholat yang benar semua permasalahan dunia akan dapat teratasi dengan baik, dan tidak akan timbul masalah baru.

Benarkah demikian? Jawabnya : sangat benar.

Contoh   :

Ada sesuatu kasus, pernah seorang mengalami suatu per-masalahan dunia yang sangat pelik, orang tersebut mengatasinya dengan sholat. Akan tetapi, masalah tersebut tidak teratasi.

Akhirnya orang tersebut mengalami prustasi dengan menyatakan bahwa sholat tidak menjamin permasalahannya selesai, dan tidak benar untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Dari contoh ini, kita akan bertanya-tanya.

Apakah sudah tidak sesuai lagi pada zaman kita, yaitu zaman Fatroh (zaman kekosongan Nabi/Rasul) ?

Jawabnya :  Sholat masih sesuai dengan Zaman Sekarang sampai dengan akhir Zaman.

Sholat merupakan ibadah yang mempunyai thoriqoh (metode) penyatuan Jasmani dan Rohani. Dan Sholat juga merupakan suatu media penyatuan antara Jasmani dan Rohani untuk berkomunikasi langsung antara Alloh SWT dengan Hambanya, bagi yang memahaminya.

Sholat merupakan suatu ibadah yang sangat dibutuhkan untuk kesehatan Jasmani dan Rohani.

Kanzul ‘Ummal, Bab Al Ima wal Islam, Huruf H, hal 38.

KU/Ha/38     “Assholatul khomsu ‘umuudul islam”

artinya           : “Sholat lima itu tiang Islam”

JS/Lam/334  “Laa dina liman laa sholaata lahu”

artinya           : “Tak ada agama bagi orang yang tidak ada sholat padanya”

JS/Alif/101   “Wa awwalu maa iftarodlollohu ta’ala ‘alaa ummati ash sholawaatul Khomsi”

artinya           : “Awalnya sesuatu yang di fardhu kan Alloh Ta’ala atas ummatku ialah Sholat Lima”

“Wa awwalu maa yurfa’u min a’maalihim ash sholawaatul khomsi”

artinya            : “Dan awalnya sesuatu yang dinaikkan dari amal-amal mereka ialah Fardhu Lima”

“Wa awwalu maa yus’aluna ‘anish sholawaatil khomsi”

artinya             : “Dan awalnya sesuatu yang ditanyakan ialah Sholat Lima”

JS/Alif/100     “Awwalu maa yuhaasabu bihil’abdu yaumal qiyaamati ash sholaatu, fain sholahat sholaha saa’iru ‘amalihi, wain fasadat fasada saa’iru ‘amalihi”

artinya             : “Awalnya sesuatu yang dihitung bagi hamba pada hari kiamat ialah sholat. Maka apabila baik sholatnya, baiklah seluruh amalnya. Dan apabila rusak maka rusaklah seluruh amalnya”

JS/Alif/41     “U’budulloha la tusyrikubihi syai’an wa aqimish sholaatal maktubata”

artinya              : “Beribadahlah kepada Alloh, jangan me-musyrikkan DIA akan sesuatu dan tegakkanlah sholat fardhu”

JS/Alif/44         “Afdlolul a’maali ash sholaatu liwaqtiha wa birrul walidaini waljihadu fi sabilillah”

artinya               : “Seutama-utamanya amal itu ialah sholat pada waktunya dan berbaik kepada ibu bapak dan jihad di jalan Alloh”

JS/Alif/8              “Ittaqulloha fish sholaati, ittaqulloha fish sholaati, ittaqulloha fish sholaati”

artinya               : “Taqwalah kepada Alloh dalam sholat, Taqwalah kepada Alloh dalam sholat, Taqwalah kepada Alloh dalam sholat”

“Ittaqulloha washollu khomusakum washumu syahrokum wa addu zakaata amwaalikum thoyyibatan biha anfusakum wa athi’u dza amrokum tadkhulu jannata robbikum”

artinya:

“Ber-taqwalah kepada Alloh dan hendaklah kamu sholat lima waktu. Dan berpuasalah pada bulanmu dan tunaikan zakat hartamu akan bersih dengan zakat itu dirimu. Dan taatlah ke pada pemerintahmu. Engkau masuk syurga Tuhan-mu”

Beberapa tukilan keutamaan sholat menurut padangan para ahli tasawuf, dari buku Tambihul Ghofilin, Babushsholawaatil Khomsi, halaman 101 :

Menceritakan kepada saya Muhammad bin Dawud. Menceritakan kepada saya Muhammad bin Ahmad, Khotib An Nisaburi. Menceritakan kepada saya Abu ‘Amar Ahmad bin Kholid al Haroni. Dari Ya’kub bin Yusuf, dari Muhammad bin Ma’an, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya dari neneknya, Rodliyallohu Ta’ala ‘anhu. Berkata neneknya Ja’far bin Muhammad. Telah bersabda Rosululloh SAW :

  1. Sholat itu keridhoan bagi Alloh Tabaroka wa Ta’ala.
  2. Dan kesukaannya Malaikat.
  3. Dan sunnahnya para nabi-nabi.
  4. Dan cahaya Ma’rifat.
  5. Dan Pokoknya Iman.
  6. Dan ijabah-nya Do’a.
  7. Dan sebab diterimanya amal-amal.
  8. Dan sebab berkahnya rizki.
  9. Dan kesegaran Badan.
  10. Dan menjadi senjata bagi menghadapi musuh.
  11. Dan kebencian syetan.
  12. Dan jadi syafa’at bagi orang yang mempunyainya (sholat).
  13. Dan jadi tanda bagi malaikat maut.
  14. Dan menjadi lampu di alam kuburnya.
  15. Dan menjadi tikar dibawah lambungnya.
  16. Dan menjadi jawaban pertanyaan malaikat Munkar AS dan Nankir AS.
  17. Dan menjadi teman di kuburnya sampai hari kiamat.
  18. Ketika pada hari kiamat adalah sholat itu menjadi naungan diatasnya.
  19. Dan menjadi mahkota di kepalanya.
  20. Dan menjadi pakaian atas badannya.
  21. Dan menjadi cahaya jalan di mukanya.
  22. Dan menjadi dinding antara dia dan neraka.
  23. Dan menjadi hujjah bagi orang mukmin dihadapan Alloh Tabaroka wa Ta’ala.
  24. Dan Menjadi berat dalam timbangan.
  25. Dan menjadikan sebab terlaluinya Sirothol Mustaqim.
  26. Dan menjadi kunci pembuka bagi syurga.

Karena sholat itu adalah Ibadah Tasbih, Taqdis, Ta’dhim, Qiro’ah, Do’a, dan seutama-utamanya amal keseluruhannya ialah SHOLAT TEPAT PADA WAKTUNYA.

Asy Syaikh Ibnul Qoyyim RA, dalam kitabnya : ATH THIBBUN NABAWI – Bab huruf (Shod) halaman : 256.

“Wash sholaatu majlabatun lirrizqi,     Sholat itu dapat menarik rizki

Haafidlotun lish shihhati,                                                 menjaga kesehatan

Daafi’atun lil adzaa,                            menolak yang menyakitkan badan

Mathrodatun lil adwaa’i             menolak bermacam-macam penyakit

Muqwiyyatun lil Qolbi                                                          penguat bagi hati

Mubayyidlotun lil wajhi                                         memutihkan bagi wajah

Mufarihatun lil Nafsi                                                         menyenangkan jiwa

Mudzhibatun lil kasli                                                    menghilangkan malas

Munasysyithotun lil jawaarihi                     merajinkan anggota badan

Mumaddatun lil Quwaa                                      memanjangkan kekuatan

Syaarihatun lish Shodri                                                           meluaskan hati

Mughdiyatun lir Ruhi                                                         makanan bagi ruh

Munawwirotun lil qolbi                                                      cahaya bagi hati

Haafidhotun lin ni’mati                                                     penjagaan nikmat

Daafi’atun lin naqmati                                                           penolakan siksa

Jaalibatun lil barokati                                                         menarik barokah

Mub’idatun lisy syaithoni                                             menjauhkan syetan

Muqorrobatun minar –                                      mendekatkan diri kepada -

Rohmaani                                                                           DZAT AR ROHMAN”

Sholat adalah hal yang utama untuk diketahui dan dipahami. Sewaktu kita akan melaksanakan sholat, maka kita akan menghadap kekiblat atau “Mustaqbilal Qiblati”.

Terkadang ada yang berpendapat kalau sholat harus pas menghadap ke Ka’bah, pendapat ini sangat menyulitkan kita.

Didalam Al Qur’an diterangkan Surat Al Baqarah ayat 144.

Q.S. 2:144   “… Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram …”

Jadi yang dimaksud menghadap kiblat, ialah menghadap arah-arahnya Masjidil Haram, jadi tidak harus pas.

Ada lagi yang berpendapat, kalau sholat tidak melihat gambar Ka’bah, maka tidak mantap, kemudian mencari sajadah yang ada gambar Ka’bah. Kalau sudah begitu, maka ketika sholat sewaktu membaca Takbir, hati itu mantap. Apakah yang disembah orang seperti ini?

Menghadap kebaitulloh (rumah Alloh), apa dikira Alloh itu ada didalamnya.

Jadi, jangan sampai keliru, qiblat itu artinya Masjidil Harom, dahulu kiblat-nya ke Masjidil Aqsho.

Jadi Masjidil Harom itu adalah arah untuk menghadap, sebab kalau tidak diberi arah menghadap, maka kita akan kebingungan karena tidak tahu kearah mana kita akan menghadap pada waktu Sholat. Apalagi ditengah hutan, yang pada waktu itu ada mendung, mau mencari arah timur mencari matahari dulu, dan berhubung mendung maka matahari tidak muncul. Akhirnya tidak menemukan arah timur, dan kebingungan karena tidak tahu kiblat, khawatir kalau sholatnya tidak sah, kemudian mencari dalil qiblatnya orang bingung. Astaghfirulloh ….

Kok masih ada orang seperti itu. Didalam Al Qur’an diterangkan:

Q.S. 2:115    “Maka kemana saja kamu menghadap, disitulah wajah Alloh”

Jadi, disaat kita kebingungan, tidak tahu mana arah kiblat, maka kemana saja kita menghadap itu boleh. Karena ini masalah kiblatnya jasmani. Oleh sebab jasmani itu dari tanah, maka kiblatnya ya kiblat sebangsa tanah atau batu. Yakni berkiblat ke bangunan yaitu Ka’bah.

Adapun ruhani kita itu suci dan baqo’, maka mempunyai kiblatnya sendiri, jadi kiblatnya yang hidup itu ada sendiri, dan kiblatnya tidak kepada benda mati. Kiblatnya ruhani ialah Innii Wajjahtu Wajhiya. Jadi kiblatnya ruhani itu dekat. Dalam al Qur’an diterangkan.

Q.S. 2:186   “Dan apabila hamba-hamba KU bertanya kepadamu tentang AKU, bahwasannya AKU dekat”.

Ayat diatas mempunyai maksud bahwa Alloh itu dekat, bagaimana dekat-nya ? didalam al Qur’an pada ayat lain, diperjelas lagi bahwa Alloh itu dekat kepada hambanya, bahkan lebih dekat dari urat lehernya.

Jadi yang disembah itu lebih dekat dari urat lehernya, tapi ternyata yang menyembah malah menyingkir. Jadi kiblatnya ruhani ya didalam, dan kiblatnya jasmani ya diluar.

Tapi seringkali yang dalam (ruhani) ikut-ikutan keluar, kemana-mana (ke Mal, ke Pasar dan lain-lain). Hal ini keliru, sebab kiblatnya ruhani itu.

QS.6:79       “Sesungguhnya, hadapkanlah wajahmu kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi”

Terkadang supaya bisa kusyu’ ada lagi caranya, yakni Tadabbur makna, atau mengingat-ingat maknanya. Seandainya waktu membaca “Fathoros samaawaati” – yang menggelar langit, lalu ingat langit dan bintang dan lain-lain benda angkasa. Kemudian setelah membaca “Wal Ardlo” – dan bumi, maka kembali ingat bumi, melayang-layang dari langit turun ke bumi begitu seterunya. Katanya kalau seperti itu kusyu’ dan tenang. Apanya yang tenang.

Kusyu’ itu adalah hadirnya Hati.

Menurut Imam Ghozali : Hadirnya hati itulah nyawanya sholat.

Kalau kusyu’nya badan itu lain dengan kusyu’nya hati, terkadang katanya kalu digigit nyamuk, maka harus diam saja, tidak boleh bergerak, kalau bergerak tiga kali maka sholatnya batal. Jadi akhirnya ditahan-tahan. Itu namanya tidak kusyu’.

Ada beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan hasil akhir shalat.

  • Kenapa Umat Muslim melakukan Shalat?
  • Kenapa Umat Muslim yang melakukan Shalat, tapi masih melakukan hal-hal ma’siat?
  • Apakah Shalat merupakan kebiasaan atau kebutuhan?

Dan masih banyak lagi sederatan pertanyaan yang berhubungan dengan shalat.

Shalat adalah bagian dari menyembah kepada Alloh secara bersamaan antara Jasmani dan Ruhani.

Kita mengenal shalat ada 2 macam yaitu:

  1. Zikrullah – untuk Ruhaniah
  2. Shalat lima waktu – Jasmaniah dan Ruhaniah.

Kedua-duanya sama-sama berhubungan langsung dengan Alloh SWT.

Apakah beda dari keduanya?

Zikrullah adalah shalat yang tidak dapat ditinggalkan walau hanya sedetik, karena merupakan implementasi (pelaksanaan) dari keyakinan terhadap Yang Maha Pencipta (Alloh SWT).

Sedangkan shalat lima waktu dapat ditinggalkan/digantikan, pada hal-hal tertentu, Contoh:

  • Tidak setiap detik kita melakukan sholat
  • Jika kita melakukan perjalanan jauh (musafir) shalat lima waktu boleh ditinggalkan (dengan kemudahan meng-qashar atau menjama’ apabila masih ada waktu)
  • Jika kita berperang, sholat dapat dimudahkan secara bergantian setiap satu reka’at.
  • Bagi wanita yang sedang datang bulan dan saat melahirkan.

Firman Alloh QS.4:101-103

QS.4:101     “Dan apabila kamu bepergian dimuka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir, sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu”

QS.4:102     “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka sujud (telah menyempurnakan 1 reka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan kedua yang belum shalat lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata, orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan bersiap siagalah kamu. Sesungguhnya Alloh telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu”

QS.4:103     “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Alloh diwaktu berdiri, duduk, dan berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”

Beda dengan Shalat yang artinya Dzikrulloh, apapun kondisi kita Dzikir tidak dapat ditinggalkan walau hanya sedetik.

Zikrullah adalah tali cinta kasih terhadap Alloh SWT. Seirama dan sejalan dengan kehidupan kita. Sesuai dengan firman Alloh Ta’ala, pada surat Al A’raaf, ayat 205.

QS.7:205     “Dan sebutlah (nama) Tuhan mu dalam hatimu dengan me-rendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeras-kan suara, diwaktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”.

Sebelum Alloh memerintahkan shalat lima waktu kepada Nabi Muhammad SAW, apa yang dilakukan oleh beliau dan Nabi Ibrahim AS ?

Beliau selalu berzikir dengan menyebut nama Alloh didalam hatinya sejak beliau masih berusia remaja. Kapanpun dan dimanapun beliau berada. Sehingga beliau (Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW) selalu diabadikan dan dianugerahkan salawat dalam shalat kita sampai akhir zaman. Allohu ‘alam bishawab …!!!

Hal inilah yang menjadi kunci dari perbedaan diantara manusia.

Alloh memerintahkan shalat kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril AS, bersamaan dengan pengangkatan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, dan lima ayat pertama surat Al Alaq. Malaikat Jibril men-contohkan wudhu dan Shalat kepada Rasulullah.

Sejak saat itu Shalat merupakan kewajiban umat Muslim, dengan ketentuan, sebagai berikut : Isya  2 raka’at, Subuh 2 raka’at, Dhuhur 2 raka’at, Azhar 2 raka’at, magrib 3 raka’at dan Tahajud 2 raka’at.

Pada tahun ke 12, kenabian beliau. Alloh memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril AS, untuk melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj.

Isra’ : Perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho.

Mi’raj : Perjalanan malam dari bumi ke Shidratul Munthaha.

Untuk apakah Isra’ Mi’raj ?

Untuk membuktikan ayat-ayat Alloh SWT, dan menguji keimanan umat Muslim pada saat itu. Dan Alloh menggenapkan shalat 5 waktu.

Sejak saat itu, kewajiban shalat yang dilakukan oleh nabi Muhammad SAW dan umat Muslim dirubah menjadi : Isya  4 raka’at, Subuh 2 raka’at, Dhuhur 4 raka’at, Azhar 4 raka’at, magrib 3 raka’at dan Tahajud 2 raka’at merupakan shalat sunnah khusus.

Dan shalat Isya  2 raka’at, Subuh 2 raka’at, Dhuhur 2 raka’at, Azhar 2 raka’at, dan magrib 3 raka’at ditetapkan untuk umat muslim yang terkena hukum musyafir.

Jika kita petik makna yang terkandung pada shalat, shalat merupakan pelaksanaan ibadah yang sangat komplit.

Secara simple mengandung unsur sosiologi (hubungan ke masyarakatan) atau “ISRA’” dan mengandung unsur ketuhanan (hubungan manusia dengan Alloh SWT) atau “MI’RAJ”

“Shalat adalah Mi’raj nya orang Mu’min”.

Saat kita melakukan shalat, sekiranya kita dapat melakukan / merasakan “Mi’raj” (berhadapan / berkomunikasi langsung dengan Alloh).

Bagaimanakah caranya?

Melakukan “Mi’raj” pada saat Shalat bukan berarti :

  • Kita melihat tulisan Alloh (dalam bahasa Al Qur’an)
  • Kita melihat ka’bah (baitullah)
  • Dan lain sebagainya.

Caranya adalah mengenal Alloh dengan rasa, kita akan merasakan sangat senang, sangat bahagia, dan sangat damai pada saat kita melakukan shalat, tidak terpikirkan (ingat) akan hal-hal lain, seperti: Dimana kunci / dompet saya taruh?.

Dan timbul keinginan kita untuk berlama-lama melakukan shalat.

Peletakan Sholat harus benar, yaitu kita harus menimbulkan perasaan menjadi hamba-NYA dan Alloh adalah Raja (Al Malik).

Kalau kita melakukan shalat melalui perantara dan / atau bukan karena Alloh untuk mencapai khusu’, maka nilai shalat itu tidak ada. Yang ada hanya sifat syirik. Sedangkan syirik dosa yang tidak terampunkan. Sesuai dengan firman Alloh, pada surat Annisaa.

QS.4:48       “Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni orang-orang yang syirik kepada NYA, tetapi ia akan mengampuni kesalahan lain bagi siapa yang diperkenankan-NYA. Barang siapa yang syirik kepada ALLOH, sesungguhnyalah ia telah berdosa sangat besar”

QS.4:116     “Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa memper-sekutukan (sesuatu) dengan DIA, dan DIA mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-NYA. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Alloh, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”

Memang peletakan masalah shalat sangat sulit, kalau tidak didasari dengan zikrullah yang berkesinambungan dengan kehidupan kita.

3.   Puasa

Puasa merupakan Pengontrolan Diri (Self Control).

Sunan KaliJaga pernah berpesan kepada santrinya: “Belajarlah kamu mati selagi kamu hidup”

Apa yang termaksud dengan pesan tersebut?

Maksudnya adalah menahan diri, dari aspek kehidupan yang mendominir manusia. Yaitu dengan berpuasa.

Puasa adalah media yang sangat ampuh untuk mengendalikan sifat dari 4 unsur pembentukan manusia (seperti yang telah diulas diatas).

Marilah kita perhatikan tabel berikut ini.

UNSUR

SIFAT

Hasil PUASA

Air Syirik, pidik, kibir, Ananiah, Ria, Hasad, dengki, nrimo Kebahagian
Api Amarah, dendam. Kedamaian
Angin Mengkhayal Ketenangan
Tanah (Bumi) Tamak, loba, serakah Ketentraman

Tabel-6

Selain sifat dari 4 unsur senyawa yang perlu kita kendalikan ditambah 3 aspek kehidupan makhluk hidup, yaitu:

ASPEK

KEBUTUHAN

Hasil PUASA

Hawa Cenderung kepada keinginan, gejolak kehendak Rasa syukur
Jasad Makan dan Minum Rasa syukur
Hayat / Nyawa Kebutuhan Biologis Rasa Syukur

Tabel-7

Pada tabel-tabel diatas merupakan hasil dari berpuasa, yaitu “rasa” yang kesemuanya bercampur baur menjadi satu tidak dapat didefiniskan dengan kata-kata, hanya kita saja yang dapat merasakannya, yang seakan-akan tidak dapat dipisahkan.

4.   Zakat

Zakat merupakan Strategi Ekonomi (Strategic Economic).

Zakat adalah suatu kegiatan ibadah yang berhubungan dengan materi (kebutuhan hidup). Makna zakat mempunyai 2 manfaat, yaitu:

a.  Secara Individual

Menumbuhkan rasa mencintai sesama dan mengendalikan sifat dari unsur tanah (bumi), api dan air pada diri masing-masing yang melakukan ibadah (zakat). Sesungguhnya sangat sulit sekali menghilangkan rasa kepemilikan pada diri manusia. Karena segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi adalah milik Alloh SWT, manusia sebagai perantara hanya sekedar kebutuhan hidup.

b.  Secara kelompok

Memakmurkan dan meningkatkan taraf kehidupan manusia, dengan tolong menolong melalui kegiatan zakat.

Secara umum, apabila zakat ini benar-benar diatur dengan manajemen yang baik, maka dapat mengentaskan kemiskinan.

5.   Haji (apabila telah mampu)

Haji merupakan Keteguhan/Itiqod Tujuan (Constancy Goal).

kegiatan ibadah yang diperintahkan oleh Alloh dengan syarat ada / mempunyai kemampuan untuk melaksanakan. Kegiatan ibadah ini merupakan tapak tilas para rasul Alloh. Misi dari ibadah haji adalah persatuan dan kesatuan dari tujuan melalui agama Islam.

Ibadah haji dapat juga menjadi kiasan, sebagaimana pada hari akhir nanti manusia dikumpulkan di padang ma’syar. Karena segala perbuatan dan perilaku kita langsung di hizab.

Apakah Hajji itu ?

Tawaf :

Tawaf-lah di dalam Anfus kita agar kita mengetahui, apa yang ada di dalam Anfus kita.

Sa’i :

Sa’i-lah di dalam Anfus kita agar kita mengetahui, kekuarangan dan kelemahan kita. Berapa banyak syaethon yang ada didalam diri kita.

Jumroh :

Jumroh di dalam Anfus kita agar kita mengetahui, kita harus memerangi syaethon yang ada di dalam diri kita. Bagaimana kita dapat memerangi syaethon kalau kita tidak dapat mengetahui Syaethon. Apa yang kita lempari, kena atau tidak ?

Menurut saya penjabaran diatas dapat dikembangkan lagi, lebih luas lagi. karena bagaimana meletakkan pondasi dasar pada diri saya, agar pondasi ini kuat dan kokoh bahkan sanggup menghadapi badai topan dan gempa.

Ya Alloh Hanya Engkau yang aku tuju, dan hanya kepada MU aku mohon Ridho MU.

DEFINISI TUHAN

Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai tauhid, ada baiknya kita mengenal definisi Tuhan secara ringkas. Sebagai referensi kita untuk peletakan tauhid.

Untuk menyamakan persepsi kita mengenai definisi Tuhan, yang paling tepat ialah diambil dari pemahaman akan pengertian tuhan menurut yang dijabarkan didalam al Qur’an. Oleh karena itu, perlu kita sadari dua kenyataan terpenting, yang pasti akan kita peroleh apabila kita kaji dengan sungguh-sungguh kandungan al Qur’an.

Kenyataan pertama, didalam al Qur’an kita tidak pernah menemukan satu ayatpun yang membicarakan atheis atau atheisme. Suatu hal yang kiranya sangat penting kita fikirkan, mengingat kenyataan dizaman modern ini jutaan manusia telah menyatakan diri mereka sebagai atheis atau orang-orang yang tidak bertuhan. Karena setiap orang yang berideologi komunis mengaku, bahwa mereka tidak bertuhan (atheis).

Mendiang Chou Eng Lai, perdana menteri RRC, pernah berpidato, “bahwa kami sebagai komunis dengan sendirinya tidak bertuhan”. Kalau kita jumlahkan penduduk RRC dengan Rusia ditambah dengan negara-negara satelitnya yang menganut faham komunis, maka kira-kira sepertiga penduduk dunia sekarang ini adalah atheist, jika yang dikatakan bekas perdana menteri cina itu benar.

Maka kita sebagai muslim akan bertanya, Mungkinkah Alloh telah lupa menyebutkan kenyataan ini, sehingga al Qur’an tidak menyebut sama sekali mengenai atheis.

Akan tetapi kenyataannya, banyak diantara mereka pada saat mendekati kondisi sakaratul maut, baru mereka mencari tuhan.

QS.45:23     “Tidakkah kamu perhatikan betapa manusia meng-ilahkan keinginan-keinginan pribadi mereka dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya dan Alloh telah mengunci mati pen-dengaran dan hatinya dan meletakan tutupan atas penglihatan-nya?, Maka siapakah yang akan memberikan petunjuk sesudah Alloh (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

QS.25:43     “Terangkanlah kepada KU tentang orang yang menjadikan hawa-nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya”

Kenyataan Kedua, “Ilah” mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi), maupun benda nyata. Jadi faham atheisme / komunis adalah omong kosong, tidak logis dan tidak masuk akal. Karena menurut logika al Qur’an setiap manusia haruslah bertuhan.

Akan tetapi Alloh menginginkan Tuhan hanyalah satu “Dia Alloh SWT”. Keinginan Alloh terkadang ditentang disengaja manupun tidak oleh manusia yang mengaku dirinya muslim. Tanpa kita sadari ternyata Tuhan sangat banyak sekali (apapun yang dapat mendominasi diri kita).

Misalnya: Kita mempunyai keinginan A, maka A ini selalu diingat, dan tidak menutup kemungkinan akan mempengaruhi kekusyu’an ibadah kita kepada Alloh.

Definisi Tuhan adalah segala sesuatu yang mendominasi manusia, dan dijadikan dasar dalam kehidupannya.

Macam-macam Tuhan:

  1. Semua benda yang mengandung unsur Magic dan mempengaruhi kehidupan manusia (Batu cincin, pohon beringin, pekuburan, dan lain sebagainya)
  2. Semua kekuasaan atau pangkat yang mempengaruhi kehidupan manusia (Raja, Presiden, Kepala Desa, Direktur, Manager, Sultan, Kiayi, Haji, gelar-gelar Akademis, gelar-gelar Sosial, Guru-guru)
  3. Segala keinginan / hawa nafsu (Kesombongan, Ria, Wanita, harta benda dan Tabel-2 pada kolom Sifat)
  4. Dan masih banyak lagi yang tanpa kita sadari dapat menimbulkan definisi Tuhan secara disengaja maupun tidak.

Manusia mempunyai ketetapan dalam keterbatasannya, yaitu dibatasi oleh waktu, dibatasi oleh ruang dan masih banyak lagi batasan-batasan yang lain, yang kesemuanya itu secara tidak langsung mempengaruhi cara pandang kita. Dan pada akhirnya manusia akan dipengaruhi oleh masalah-masalah yang terbatas. Kemudian kita akan selalu merasa sempit.

Dari rasa kesempitan ini, banyak sekali membuahkan perilaku syirik terhadap Alloh SWT. Dan disadari atau tidak manusia telah menjauhkan dirinya kepada Alloh SWT.               Astagfirullah …!!!

ADANYA TUHAN

Untuk membuktikan adanya tuhan, Al Qur’an memerintahkan kepada manusia agar memikirkan alam. Dan pada akhirnya sampai pada kesimpulan, bahwa ini semua ada Penciptanya.

Siapakah pencipta alam semesta dan segala isinya?

QS.3:191     “Orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya) berkata: ‘ya Tuhan kami, tiadalah ENGKAU menciptakan ini (semua) dengan sia-sia’, Maha Suci ENGKAU, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Dalam keseharian kita selalu dilindungi oleh udara, apakah kita pernah memikirkannya?

Menurut Ilmu Pengetahuan komposisi udara dibulatkan adalah:

  • Oksigen (O2) 21 %
  • Nitrogen (N) 78 %
  • Gas lainnya 1 %

Kalau saja komposisi O2 turun atau naik 1%, maka semua makhluk hidup akan mati secara perlahan.

Al Baqarah ayat 164, Al Ghasyiyah 17, Adz Dzariat 21, Fushshilat 37.

TUHAN YANG MAHA ESA

Ada disuatu negeri dibawah keinginan dan kekuasaan 2 orang raja, sudah pasti secara logika mengalami kehancuran karena keduanya akan berbeda keinginan. Kalau hal ini terjadi pada tuhan, apakah yang akan terjadi ?

Akan tetapi dualis kepemimpinan tidak akan terjadi pada tuhan kita yaitu Alloh SWT sesuai dengan Surat Anbiya ayat 22.

QS.21:22     “Sekiranya ada dilangit dan dibumi tuhan-tuhan selain Alloh, tentulah keduanya itu telah rusak binasa, maka Maha Suci Alloh yang mempunyai ‘Arsyi dari pada apa yang mereka sifatkan”

Secara akalpun manusia terpaksa mengakui bahwa Tuhan Maha Esa.

Sedangkan ke-Esa-an dari Tuhan sekiranya ada 5 macam:

1.  Ke-Esa-an pada Dzat-NYA

Dzat Tuhan tidaklah dari beberapa bagian yang ada (yang kita kenal) dialam ini. Berarti tidak ada yang menyamai-NYA.

2.  Ke-Esa-an pada Sifat-NYA

Tidak ada sesuatupun (seseorangpun) yang memiliki sifat tuhan secara menyeluruh dan mutlak (penuh)

3.  Ke-Esa-an pada Perbuatan-NYA (Af’al)

Tidak ada sesuatupun yang sanggup meniru (melakukan seperti) perbuatan tuhan.

4.  Ke-Esa-an pada Perwujudan-NYA

Tidak ada sesuatupun yang kekal, terdahulu dan terakhir.

5.  Ke-Esa-an pada Rubbubiyah

Tidak ada sesuatupun yang sanggup menjadi tuhan dari alam semesta dan makhluk hidup, kecuali tuhan Alloh SWT.

Dari ke 5 pemahaman ke-Esa-an Tuhan akan membuahkan pengertian, sebagai berikut:

1.  Ke-Esa-an Uluhiyah/Ubudiyah

Alloh adalah satu-satunya yang wajib diibadati (disembah), secara syariat maupun secara Ruhiyat.

2.  Ke-Esa-an Qoshi

Alloh adalah satu-satunya tujuan dari segala aktifitas hidup dan kehidupan manusia.

3.  Ke-Esa-an Tasyri’

Alloh adalah satu-satunya yang menetapkan semua aturan (hukum-hukum). Baik alam semesta maupun semua makhluk hidup (termasuk manusia).

4. Ke-Esa-an Amali

Alloh adalah satu-satunya pusat/titik balik dari segala tindakan. (segala tindakan harus mencerminkan ke-Esa-an Alloh).

5.  Ke-Esa-an Qauli

Alloh adalah satu-satunya titik balik dari segala perkara/permasalah. (segala perkara dan permasalahan harus mencerminkan ke-Esa-an Alloh).

6.  Ke-Esa-an Iktiqodi

Alloh adalah satu-satunya harus diyakini seyakin-yakinnya.

Selain itu, Alloh yang Maha Pencipta, Penguasa, Pengendali, membimbing segala sesuatu yang ada dialam semesta ini.

Karena hanya kepada DZAT-NYA lah tempat bergantung segala sesuatu dan DIA-lah yang menentukan segala sesuatu.

–o0o–

MENGENAL DIRI

Adalah unsur terpenting sebelum kita mengenal Alam semesta. Karena kita akan mengetahui kelemahan dan kelebihan kita untuk disubtitusikan kepada alam semesta.

QS.30:30     “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Alloh); (tetaplah atas) fitrah Alloh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Alloh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakkan manusia tidak mengetahui”

Tiap-tiap umat mempunyai syari’at tertentu

QS.22:67     “Bagi tiap-tiap umat telah KAMI tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar ada pada jalan yang lurus”

QS.22:68     “Dan jika membantah kamu, maka katakanlah: “Alloh lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan”

QS.22:69     “Alloh akan mengadili diantara kamu pada hari Kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya”

QS.22:70     “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Alloh mengetahui apa saja yang ada dilangit dan dibumi?; bahwa-sannya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Alloh”

Marilah kita bahas sedikit mengenai kondisi manusia, agar kita dapat mencermati dan menginsyafinya.

Kejadian manusia

Pertama kali manusia dibentuk hanya 1-3 sel zygote dari ± 3 cc sperma (250 juta sel zygote). Saat zygote ini terlepas, zygote terus bergerak masuk ke mulut rahim untuk mencari indung telur (sel ovum). Bergeraknya zygote karena adanya hayat (hidup) dan hawa (keinginan) untuk bertemu dengan sel ovum. Ketika zygote bertemu dan masuk dengan sel ovum, maka proses ini disebut pembuahan atau terbentuk janin (nutfah).

Lalu Alloh memberikan hayat (dorongan untuk hidup) dan hawa (keinginan) untuk berkembang (pemecahan) sel. Perkembangan sel ini berlangsung terus sampai membentuk jasad (basyar) secara ilmu pengetahuan disebut biologic, ± 3 x 40 hari, Malaikat menyiapkan tempat Ruh dan menuliskan menuliskan 4 kalimat sesuai dengan perintah Alloh, salah satu kalimatnya adalah peran dan fungsi manusia, lalu Alloh meniupkan sebagian ruh-NYA kedalam basyar.

Setelah basyar ini memiliki ruh baru dapat disebut sebagai Nafs (diri/individu).

Hal inilah yang sering kita dengan sebagai Hawa Nafsu, maka kompletlah sudah komposisi yang disebut sebagai manusia.

Note :   Menurut penelitian ilmu pengetahuan dalam bidang kedokteran, bahwa kita dapat merencanakan bayi laki-laki atau perempuan, dengan asumsi sebagai berikut :

           €                   Ejak   Kondisi                        Janin

+            +                           Basa                            

+             –                      €      Asam                           €

Kejadian Manusia

QS.22:5       “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi,kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah pada kedewasaan, dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) diantara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami telah turunkan air diatasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah”.

QS.23:12     “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah”

QS.23:13     “Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.

QS.23:14     “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk (yang berbentuk) lain. Maka maha sucilah Alloh, pencipta yang paling baik”.

QS.75:37     “Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (kedalam rahim)”.

QS.75:38     “Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Alloh menciptakannya, dan menyempurnakannya”.

QS.75:39     “Lalu Alloh menjadikan daripadanya sepasang; laki-laki dan perempuan”

Jadi manusia terdiri dari 4 unsur yang berbeda, dari masing-masing unsur mempunyai fungsi dan dimensi yang berbeda, adapun 4 unsur tersebut adalah : Hawa / Jiwa, Hayat / Nyawa, Jasad / Tubuh, Ruh

1.     HAWA / JIWA

Hawa telah kita miliki sejak kita masih terdiri dari 1 sel zygote dan 1 sel ovum, sama halnya dengan makhluk hidup lainnya (khususnya hewan / fauna). Hawa adalah ciri kebinatangan / hewani, sedangkan Nafs / Anfus adalah ciri kemanusiaan. Kalau kita memiliki kecenderungan selalu mengikuti hawa-nafsu, maka secara sadar atau tidak, kita akan membentuk kepribadian hewani.

Seperti telah Alloh terangkan dalam Al Qur’an:

QS.4:135    “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Alloh, biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia (orang yang tergugat/terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Alloh lebih tahu kemaslahatannya. Maka jangalah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ingin menyimpang dari kebenaran. Jika jika kamu memutar balikan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Alloh mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”.

QS.18:28    “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya dipagi dan senja hari dengan mengharap ridha-NYA, dan janganlah kedua matamu berpaling dari Tuhan (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta mengikuti hawa nafsunya dan keadaan itu adalah melewati batas”

QS.25:43    “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan-nya. Apakah kau dapat menjadi pemelihara atasnya?”.

QS.38:26    “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) dimuka dibumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Alloh akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.

QS.53:3      “Dan tiadalah yang diucapkannya (nabi Muhammad) itu  menurut kemauan hawa nafsu-nya (akan tetapi Al Qur’an)”.

QS.79:40    “Maka Aku bersumpah dengan Tuhan yang memiliki timur dan barat, sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa”.

2.     HAYAT / NYAWA

Berdasarkan ilmu pengetahuan cabang biologi, Hayat dapat disebut pula dengan Bio-Energy. Hayatpun sudah ada sejak kita masih terdiri dari 1 sel zygote dan 1 sel ovum, iapun berpengaruh besar pula terhadap pertumbuhan sel-sel pada tubuh kita, karena secara langsung membangkitkan energi yang dibutuhkan oleh sel-sel untuk melakukan pemecahan (pembelahan).

Menurut para ahli kimia dan biologi, hayat merupakan suatu hal yang sulit untuk dipahami keberadaanya, karena sanggup mengubah material (zat) kimia menjadi unit biologis (kebutuhan hidup) pada tubuh manusia. Walaupun mereka telah sanggup merekayasa pada bidang physico-chemical dan bidang biologi.

Allohu a’lam bishawab … !!!

3.     JASAD / TUBUH

Jasad/tubuh merupakan bentuk penampilan makhluk hidup (termasuk manusia), dan ada banyak persamaan/kemiripan manusia yang satu dengan yang lain, apalagi apabila ia kembar satu sel ovum (siam). Akan tetapi miliaran jumlah manusia, akan tetapi ada 2 hal yang selalu berbeda diantara miliaran manusia, yaitu; sidik jari dan DNA. Hal ini merupakan cerminan dari ke-Esa-an Alloh dan kewajiban tanggung jawab manusia per-individu.

Didunia manusia dibebankan oleh tanggung jawab individu, apalagi diakhirat, bertanggung jawab langsung dengan Alloh.

Astaghfirullah …..

Jasad dalam bahasa ilmu pengetahuan cabang biologi disebut dengn physico-chemical (kimia organic) yang berbentuk sel, terdiri dari karbohidrat, lemak, protein dan asam inti dihasilkan dari hasil reaksi oksidasi zat Carbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O2) dan Nitrogen (N).

Sesuai dengan apa yang telah di terangkan di Al Qur’an.

QS.15:26    “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”.

QS.23:12    “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah”.

QS.38:71    “(Ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah””.

4.     RUH

Didalam Al Qur’an kata-kata Ruh sering kita jumpai, akan tetapi maknanya berbeda, Ruh dapat diartikan:

  • Wahyu

QS.16:2       “Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-NYA kepada siapa yang Dia kehendaki diantara hamba-hamba-NYA, yaitu: “Peringat-kanlah olehmu sekalian, bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan AKU, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-KU””.

QS.42:52     “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an)dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”.

  • Jibril

QS.26:192   “Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam”.

QS.26:193   “Dia (Al Qur’an) dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Malaikat Jibril AS)”.

QS.97:4       “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan-nya untuk mengatur segala urusan”.

  • Jiwa manusia

QS.32:9       “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke da-lam (tubuh)nya Roh (ciptaan) NYA dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”.

QS.38:72     “Maka apabila telah KU sempurnakan kejadiannya dan KU tiupkan kepadanya Roh (ciptaan) KU; maka hendak lah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”.

Qalbu merupakan tempat bersemayamnya Ruh, ketika manusia itu dikatakan hidup.

QS.8:24      “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Alloh dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh mendinding (memisahkan) antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada NYA lah kamu akan dikumpulkan”.

QS.26:88    ”(yaitu) dihari itu harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna”

QS.26:89    “Kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang bersih”.

Karena Ruh berada diqalbu, maka Alloh berhubungan dengan manusia (dan sebaliknya) melalui qalbu.

Qalbu merupakan penterjemah (converter) Bahasa Ruh, sedangkan keberadaan Ruh cenderung dengan segala hal yang baik-baik. Kalau demikian adanya, keberadaan Ruh dan Qalbu sangat sulit dibedakan (dipisahkan), akan tetapi pengaruh Ruh di qalbu sangat dominan (cenderung) kepada ke-Tuhan-an. Karena Ruh telah mengenal Alloh lebih dulu, jelaslah Ruh yang akan membentuk (mem-format) qalbu tentang ketuhanan dan menjadikannya kesaksian iman, akan tetapi manusia sendiri yang lebih didominasi oleh hawa, mencari tuhan selain Alloh. Seperti yang telah dikutip diatas. Allohu a’lam bishawab … !!!

Mengaqal/berfikir   {QS.22:46}

Memahami             {QS.7:179}

Mengobservasi      {QS.22:46}

Mengimani             {QS.5:41, QS.39:45}

Merasa                  {QS.2:260, QS.40:35,

QS.57:16}

Merenung/dzikir      {QS.50:37, QS.43:36}

Referen:

QS.2:260    “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Alloh berfirman: “Apakah kamu belum percaya ?”. Ibrahim menjawab: “Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya”. Alloh berfirman: “(kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu jinakkanlah burung-burung itu kepadamu, kemudian letakkanlah tiap-tiap seekor daripadanya atas tiap-tiap bukit. Sesudah itu panggillah dia, niscaya dia akan datang kepada kamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

QS.5:41      “Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga diantara) orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka mudah berubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah dirubah-rubah oleh mereka) kepadamu, maka terima-lah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah”. Barang siapa yang Alloh mengkehendaki kesesatanya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Alloh. Mereka itu adalah orang-orang yang Alloh tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka peroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar”.

QS.7:179    “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh) dan mereka mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan-nya untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.

QS.22:46    “Maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar, karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang didalam dada”.

QS.39:45    “Dan apabila hanya nama Alloh saja yang disebut, kesAlloh hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Alloh yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati”.

QS.40:35    “(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Alloh tanpa alas an yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka)di sisi Alloh dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Alloh mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang”.

QS.43:36    “Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulan yang menjadi teman yang selalu menyertainya”.

QS.50:37    “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang mempergunakan pendengaran, sedang ia menyaksikannya”.

QS.57:16    “Belumkah dating waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Alloh dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturun-kan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik”.

NAFS

Bila kita telah mengetahui kejadian/penciptaan manusia, hal yang selalu dikendalikan/dibatasi/dijaga mengenai Hawa, yang pasti bertambah lagi kesulitan kita untuk mengenal dan mengetahui Hawa Nafsu, karena Nafs dibagi menjadi 2 bagian;

  • Nafs Basyariyah (Physic-Biologic)

Nafs yang dikendalikan oleh Hawa, dengan kecenderungan berbagai kemudahan, kenikmatan dan jalan pintas. Bersifat keduniaan. Tidak pernah merasa puas.

Contoh:

Membela Bapak Haji Pulan, dengan mati-matian karena unsur keduniaan semata, tanpa dipertimbangkan secara vertical, Al Qur’an dan Hadits.

  • Nafs Ruhiyyah  (Spiritual)

Nafs yang dikendalikan oleh Ruh, dengan kecenderungan selalu ingin mengenal Tuhan dan berbuat kebaikan. Bersifat religius. Dapat menimbulkan rasa puas dan sesal (atas perbuatan yang salah).

Contoh:

Membela Bapak Haji Pulan, dengan mati-matian karena Alloh semata, dengan mempertimbangkan secara vertical, Al Qur’an dan Hadits.

Kedua contoh kondisi 1 dan 2, juga sangat diperlukan rasa (qalbu) yang telah didominasi oleh unsur ketuhanan yaitu Alloh.

Marilah kita ikuti rangkaian dibawah ini:

  • Jasad bersama Hayat dan Hawa membentuk Basyar.
  • Basyar bersama Ruh membentuk Nafs.

Apabila Hawa yang dibawa oleh Basyar lebih dominan maka Ruh akan tertutup dan tidak dapat lagi menolong kita untuk memperingatkan secara halus. Kondisi ini yang kita takutkan, karena bisa saja qalbu itu mengkristal  dan berkarat. Sulit sekali untuk dibersihkan dan dicairkan kembali.

Hanya Alloh saja yang sanggup. Astaghfirullah ….

Sebab banyak diantara manusia yang tergelincir masuk kedalam jurang kenistaan/kehancuran (berhubungan dengan keimanan) disebabkan oleh Hawa (keinginan). Waspadalah. Semoga Alloh melindungi dan meridhai kita.

Secara explisit Ruh berisi sifat-sifat Alloh, Ilham moralitas, kitab Alloh yang tersirat, selalu mempengaruhi hidup dan kehidupan manusia.

Jadi jika kita ingin sehat dan kuat Ruh kita, maka kita harus selalu menyirami dengan air wudhu, dan berdzikir. Agar Ruh kita sanggup mengendalikan Nafs yang didominasi oleh Hawa, dan mengarahkan kepada kondisi Rububiyyah.

Alloh telah memperingatkan kita, pada:

QS.18:28     “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan meng-harap keridhan-NYA; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”.

QS.25:43     “Terangkanlah kepada KU tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”.

Ada 3 kondisi yang berhubungan dengan Nafsu.

1. Nafsu Amarah

QS.12:53    “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguh-nya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

2. Nafsu Lawwamah

QS.75:2      “Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)”.

3. Nafsu Muthmainnah

QS.89:27    “Hai Jiwa yang tenang”.

 

LAHIR

Lahir merupakan pintu memasuki ke alam fana, yaitu dunia. Menjadi makhluk yang disebut sebagai manusia. Menuju pintu keluar yaitu kematian.

Jadi manusia di dunia ini bagaikan musafir. Berjalan dengan terpaksa atau-pun tidak harus menuju ke pintu kematian.

MATI / WAFAT

Mati merupakan pintu keluar dari alam Fana (dunia), untuk kembali ke alam ruh (amr/akhirat) yang abadi.

Wafat juga batas dari gerak Hayat dan Jasad. Sedangkan Hawa dan Ruh hanya Alloh yang mengetahui.

Diterangkan pada Al Qur’an.

QS.39:42     “Alloh memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati diwaktu tidurnya: Maka DIA tahanlah jiwa (orang) yang telah DIA tetapkan kematiannya dan DIA melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Alloh bagi kaum yang berfikir”.

QS.20:55     “Dari bumi tanah itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan dari padanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain”.

Setelah wafat Ruh dan Hawa (jiwa) disebut sebagai Nafs mempunyai tugas yang sangat berat yaitu mempertanggung jawabkan segala perbuatan semasa hidupnya. Apabila keinginannya untuk masuk surga tidak terpenuhi ia akan sangat-sangat menyesal.

Tapi, apabila keinginannya untuk masuk surga terpenuhi ia akan sangat-sangat bahagia dan sangat puas. Allohu a’lam bishawab … !!!

Kita harus menyambut kedatangan Al Maut dengan senang hati dan kerinduan akan bertemu dengan Alloh SWT, akan tetapi diharamkan untuk melakukan bunuh diri.

 

Semua Manusia akan Mati

Semua manusia tidak pandang jenis, suku, tingkatan, kepandaian dan kedudukkan, semuanya harus mengalami kematian. Akan tetapi tidak semua manusia siap menyambut kedatangan Al Maut.

Ibarat orang yang akan bepergiaan jauh, ada yang telah siap perbekalan dan siap mental, dan ada pula yang tidak mempersiapkan apa-apa. Bagi manusia yang tidak mempersiapkan sesuatu untuk bepergian jauh, tentulah akan mengalami macam-macam kesulitan yang menjadi penderitaan bathinnya.

Dan bagi orang yang telah mempersiapkan cukup untuk bepergian jauh, tentu lah akan mengalami kegembiraan dan terhindar dari macam-macam kesulitan

Demikian juga adanya, semua manusia akan meninggalkan alam dunia ini dan menuju ke alam Barzah, dari alam Barzah akan terus menuju ke alam Akhirat. Pergi kesana tentulah melalui Babul Maut (pintu maut). Al Maut adalah pintu yang menghubungkan Alam Dunia dengan Alam Barzah.

 

Persiapan Untuk Menghadapi Al Maut

Persiapan Pertama

Kita harus memperbanyak ingat akan Al Maut. Hadits, keterangan dari sahabat Abi Huroiroh RA, diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, Nasa’I dan di tash-hih-kan oleh Ibnu Hibban.

“Aktsaruu dzikruhaa damilladzdzatil maut” artinya “Hendaklah kamu banyak ingat robohnya kenikmatan yakni Al Maut”

Hal ini merupakan persiapan dasar, akan menimbulkan hikmah-hikmah yang mendalam, antara lain:

  1. Memperkuat KEIMANAN akan adanya QODARULLOH.
  2. Menjadikan manusia GHONIYYAN SYAKURO (Orang kaya yang Syukur)
  3. Menjadikan manusia FAQIRON SHOBIRO.
  4. Menjadikan manusia rajin ber-IBADAH.

PENJELASAN :

1.     Memperkuat KEIMANAN akan adanya QODARULLOH.

Dengan adanya Al Maut itu Ruh kita pisah dengan Jisim kita. Adanya Ruh dan Jisim pada kita itu, bukan ikhtiar kita. Akan tetapi ketentuan dari Alloh Ta’ala. Bila Ruh Kita keluar dari badan kita, tidaklah akan ada kekuatan di dunia ini yang dapat mempertahankannya. Bila telah keluar tidaklah mungkin dapat dikembalikan kebadan lagi oleh ikhtiar manusia.

  • Adanya satu dengan badan karena Taqdir Alloh.
  • Keluar dari badan karena Taqdir Alloh.
  • Kembalinya ke Badanpun karena Taqdir Alloh.

“TAQDIR BERLAKU, MANUSIA MENERIMA”

Dengan inilah kepercayaan kita akan Taqdir Alloh Ta’ala semakin kuat.

2.     Menjadikan manusia GHONIYYAN SYAKURO.

Dengan Al Maut itu, manusia akan dipisahkan Ruh-nya dengan Badan-nya, dipisahkan dengan keluarganya, dipisahkan dengan masyarakatnya, dipisahkan dengan kekayaannya.

Orang yang kaya raya, apabila Al Maut telah datang, maka ia tidak akan dapat memiliki kekayaannya, ia tidak akan dapat memiliki kekayaan yang dicintai. Dunia mereka kumpulkan sekuat tenaga, sepenuh hidup, tetapi mereka tidak mampu memilikinya. Harta yang mereka cintai sepenuh hati, tetapi mereka tidak bisa memilikinya.Dengan demikian timbullah pertanyaan yang mendalam untuk dhohir kita ?

  • Apakah artinya kita mencintai yang fana ?
  • Apakah artinya kita mencintai fatamorgana ?
  • Apakah artinya kita terbuai sesuatu yang tidak bisa kita miliki ?

Oleh sebab itu, apabila kita ingin dapat memiliki harta benda dengan kekal abadi, satu-satunya jalan adalah kekayaan dunia ini harus kita hubungkan dengan kekekalan. Haruslah kita sambungkan dengan keabadian.

Selama kenikmatan-kenikmatan dunia ini tidak kita hubungkan dengan keabadian, tidak kita sambungkan dengan kekekalan, tidak kita sambung-kan ke perintah-perintah-NYA DZAT Yang Maha Baqo’, maka semua kenikmatan dunia ini akan putus hanya di dunia saja. Padahal Ruhani kita akan tetap ada, tapi putus tidak dapat menikmati kenikmatan dan kebahagian di Akhirat. Dan padahal adanya Rizki dan kenikmatan di Akhirat, semuanya itu adalah dari lanjutan kenikmatan yang ada di dunia.

Orang kaya yang dapat menghubungkan kekayaannya di dunia ini, dengan keabadian di Akhirat melalui saluran Perintah-Perintah Alloh Ta’ala, umpamanya: Infaq, Shodaqoh, Amal Jariyah, dan lain-lainnya. Maka mereka akan tetap kaya di Akhirat dan mereka akan menjadi manusia yang disebut : GHONIYYAH SYAKURO.

3.     Menjadikan manusia FAQIRON SHOBIRO.

Orang kaya di dunia ini adalah orang yang banyak mendapat kesempatan menikmati kekayaan. Orang yang fakir adalah orang yang tidak banyak mendapatkan kesempatan menikmati kekayaan didunia ini, yang banyak adalah penderitaannya. Bagi orang kaya yang mencintai dunia adalah satu kesengsaraan, satu kepedihan yang amat sangat, satu penderitaan yang hebat apabila pisah dengan dunia yang dicintainya. Bagi si faqir sholeh yang memang dunia tidak menggembirakan hidupnya, tidaklah begitu berat meninggalkannya. Ia Sabar menahan penderitaan didunia dengan harapan yang kuat bagi Imannya. Dia percaya akan keadilan Alloh Ta’ala. Dengan adanya Al Maut itu mereka akan bebas dari penderitaan dunia dan kesabaran nya akan menjelmakan kenikmatan di Akhirat yang Abadi.

Tersebut di dalam Al Qur’an : Ar Ra’ad ayat 24.

“Salaamun ‘alaikum bimaa shobartum fani’ma ‘uqbaddaar”

Artinya :        “Selamat sejahtera atasmu sebab sifat shabarmu. Maka alangkah baiknya, tempat kesudahan ini.”

4.     Menjadikan manusia rajin ber-IBADAH.

Kesempatan beribadah, mengabdi kepada Alloh Ta’ala itu hanya waktu kita hidup di Dunia ini. Apabila Al Maut telah datang, kesempatan itu telah habis.

Oleh sebab itu, dengan mengingat-ingat Al Maut itu, ahli ibadah akan mengisi hidupnya dengan ibadah kepada Alloh Ta’ala serajin-rajinnya, sebelum kesempatan itu dipotong oleh pedang Al Maut.

Kesempatan itu tidak akan kita sia-siakan, tidak akan kita pergunakan untuk di luar ibadah.

Inilah persiapan pertama yang harus kita praktekkan dalam rangka persiapan menghadapi Al Maut.

Persiapan Kedua

Rosululloh SAW, adalah bersifat “Ash Shiddiq” yaitu orang yang benar. Bagi orang yang benar tidak bisa berdusta, maka segala apa yng dikatakan “pasti benar”, tidak dusta. Dan kita sebagai orang mu’min wajib percaya, bahkan sampai yakin, akan kebenarannya apa-apa yang dikatakan oleh Rosululloh.

JS/Dal/156   “Ad Duniaa sijnul muukmini wa jannahhul kafirin” artinya “Dunia itu penjara bagi orang mukmin, dan syurga bagi orang kafir”

Dunia ini bagi orang-orang mukmin merupakan penjara, artinya segala aktifitas hidup dan kehidupan dibatasi oleh perintah dan larangan Alloh demi untuk keselamatan orang mukmin. Perkataannya tidak boleh sembarang berkata. Tindakannya, fikirannya, perasaan hatinya, makan dan minumnya, pakaiannya, pergaulannya dan lain-lainnya, semua dikurung dalam batas-batas tembok Amrulloh dan Nahyulloh.

Lain dengan orang kafir, tindakkannya bebas tanpa batas, perkataannya, hatinya, tindakkannya, makan – minumnya, pergaulannya, perekonomiannya, semau-maunya sendiri, bebas mengikuti hawanya. Dari bebasnya, maka baginya dunia ini merupakan syurga.

Maka dengan Al Maut itulah orang mukmin dilepaskan dari “penjara dunia”.

RUH-nya terbang di alam kebahagiaan yang luas, kebahagiaan syurga sejati. Ruhul Mukmin lepas dari ikatan jasmani, lepas dari ikatan materi, lepas dari ikatan hawa, lepas dari kehidupan yang menipu, lepas dari fitnah syetan.

Al hamdulillahi robbil ‘alamiin …

Dengan lepasnya itulah Ruhul Mukmin, dzatnya bertambah bersih. Dan dengan kebersihannya itulah mereka mengalami “Hidup Haqiqi”. Hidup yang senang dan hidup yang penuh dengan cahaya. Begitu sebaliknya bagi orang-orang kafir.

Persiapan yang kedua ini adalah persiapan keyakinan. Yaitu, sebagai orang mukmin haruslah yakin, seyakin-yakinnya, bahwa dengan adanya Al Maut itulah, satu sebab yang menyebabkan orang mukmin dibebaskan dari penjara dunia. Kemudian dimasukkan ke dalam “Kebahagiaan Sejati”.

Tetapi sebaliknya, dengan adanya Al Maut itulah orang-orang kafir dikeluar kan dari syurga dunia. Kemudian dimasukkan ke dalam Neraka yang penuh dengan kepedihan dan kesengsaraan hidup yang abadi.

Seyogyanya. Orang yang yakin bila dia dibebaskan dari penjara, tentulah Al Manut itu haruslah disambut dengan “Hati yang ridlo”, bukan dengan hati yang murung. Sebab-sebabnya ialah :

Dengan Al Maut itu orang mukmin bebas dari kehidupan kesenangan yang bersifat tipuan. Al Imron.

QS.3:185     “Dan tidak lain Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan”

Dengan Al Maut itu Orang Mukmin keluar dari kehidupan main-main dan senda gurau belaka. Al An’am

QS.6:32       “Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan senda gurau saja”

Dengan Al Maut itu Orang Mukmin bebas dari kesenangan yang hanya sedikit. At Taubah.

QS.9:38       “Padahal kenikmatan hidup di dunia ini, di Akhirat hanyalah sedikit”

Janganlah tertipu oleh kehidupan dunia. Luqman.

QS.31:33     “Sesungguhnya janji Alloh adalah benar. Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kamu, dan jangan (pula) penipu memperdaya kamu dalam (menta’ati) Alloh ”

Kemudian setelah orang mukmin terbebas dari kehidupan tipuan, permainan, mereka masuk ke “Alam kehidupan yang haqiqi”

Perhatikan Ayat-ayat ini:

QS.2:3         “Serta mereka yakin adanya kehidupan akhirat”

QS.23:39     “Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal”

QS.87:17     “Dan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal”

QS.7:169     “Dan negeri Akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertaqwa”

QS.29:64     “Dan sesungguhnya akhirat itulah sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahuinya”

JS/Alif/50     “Allohumma laa ‘aysya illaa ‘aysyal aakhiroti” artinya “Ya Alloh, tidak ada kehidupan yang sebenarnya kecuali kehidupan akhirat”

Dari kondisi diatas, maka akan timbul pertanyaan:

  • Siapakah yang tidak senang bebas dari penjara ?
  • Siapakah yang tidak ingin bebas dari kehidupan tipuan ?
  • Siapakah yang tidak bangga masuk ke alam haqiqi ?
  • Siapakah yang tidak senang bila kehidupannya lebih baik ?

Memang Manusia yang baru keluar dari rahim ibunya, kemudian baru mengalami hidup di dunia, dia menangis sepuas-puasnya, seakan-akan ingin kembali ke Alam Arham lagi. Akan tetapi setelah merasakan : keluasan, kebebasan dan kenikmatan alam dunia, dia tidak akan mau dikembalikan ke Alam Arham. Dia ingin hidup tetap di alam Dunia. Orang kafir ingin kembali kedunia, karena ingin beramal sholeh. Karena mereka disana mengetahui, bahwa yang manfa’at di sana hanyalah hasil dari amal sholeh. Akan tetapi itu tidak mungkin terlaksana karena sudah terlambat.

Dan orang mati syahid pun ingin sering kembali hidup di dunia, karena ingin mati syahid beberapa kali. Sebab disana mengetahui sendiri dan mengalami sendiri, betapa senangnya orang-orang yang mati syahid.

Persiapan Ketiga

QS.2:156     “Saya dari Alloh dan kepada Alloh saya kembali”

Kita wajib beri’tikad, bahwa Ruh kita ini adalah dari Dzat Ruh Alloh. Dzat Ruh Alloh itu adalah Dzat yang :

  • Maha Hidup
  • Al Hayyu Al Qoyyuum (Maha Berdiri sendiri)
  • Maha Ilmu
  • Maha Irodah (Maha Kehendak)
  • Maha Qodrat (Maha Kuasa)
  • As Sam’u (Maha Mendengar)
  • Al Bashor (Maha mengetahui)
  • Kalaam (Maha Bicara)
  • Baqaa’ (Maha Kekal)
  • Qodim (Maha Dahulu)
  • Ahad (Maha Esa)
  • Dzat Alloh tidak sebagaimana sesuatu.

Semuanya ini dapatlah kita ringkas dalam dua kalimat : Subhaana alloh, yang artinya Maha Suci yakni :

  • Suci dari Mati (Maut)
  • Suci dari Sandaran (Ihtiyaahun)
  • Suci dari kebodohan (Jahlun)
  • Suci dari kepaksaan (Karaahatun)
  • Suci dari Keapesan (‘ajlun)
  • Suci dari tuli (Shummun)
  • Suci dari bisu (Bukmun)
  • Suci dari kerusakan (fanaa un)
  • Suci dari permulaan (awwalun)
  • Suci dari keakhiran (akhirun)
  • Suci dari bilangan (ta’addadun)
  • Suci dari persamaan (mitslun)

Dari Dzat Yang Maha suci itulah datang kita, dan kepada Dzat Yang Maha Suci itulah kita kembali. “Min subhaanallohi ila subhaanallohi”

Dan Dzat Yang Maha Suci itu tidaklah akan mau menerima kita yang tidak suci, dan tidak akan mau menerima sesuatu dari kita yang tidak suci. Sesuai dengan Sabda Rosululloh SAW :

“Inalloha thoyyibun laa yaqbalu illa thoyyiban” artinya “Sesungguhnya Alloh Ta’ala Maha Baik (Suci), tidak akan menerima kecuali yang baik”

Oleh sebab itu kalau kita ingin bisa diterima oleh Dzat yang Maha Suci, kita wajib mengadakan :

  • Suci I’tikad dari najis Syirik.
  • Suci Rasa Ruhani dari Hubbud dunia.
  • Suci Rasa Hati dari Su-udh dhon ilalloh.
  • Suci Hati dari sifat-sifat hati yang jelek.
  • Suci Panca Indra, pendengaran, penglihatan, perkataan dari hal-hal yang tidak baik.
  • Suci anggota badan dari pekerjaan-pekerjaan yang terlarang (syara’)
  • Suci makan, minum, pakaian dan badan / tempat dari hal-hal yang dilarang.
  • Dan lain-lainnya.

Selesaikanlah haq Anak Adam sebelum wafat.

  • Hak yang mengenai kekhilafan sesama insan, baikpun kepada orang tua, suami/istri, anak, famili, kawan-kawan, murid, guru dan lain-lainya. Harus ma’af-mema’afkan.
  • Hak mengenai harta benda. Pinjam-meminjam, dan lain-lainnya diusahakan menyelesaikan menurut kemampuan.
  • Mengenai wasiat-wasiat sehubungan dengan waris, dan lain-lainnya.
  • Harus memiliki bacaan suratul Ikhlas 100.000 kali, karena apabila ada sangkutan hak-hak Anak Adam yang belum diselesaikan, dengan membaca Suratul Ikhlas 100.000 kali, maka hak-hak Anak Adam akan ditanggung oleh Alloh SWT. Riwayat Imam Bazzari, Kitab Taqribul Usul, halaman 118. Bersabda Rosululloh SAW :

“Man qora a qulhuwallohu ahad mi ata alfi marotin faqodish taraya biha nafsahu minallohi ta’ala wa naada min qibalillah ta’ala fi samaawaatihi wa ardhi alaa anna falaa nan ‘aqiiqullohi fiman lahu qoblahu tabaa ‘atun falya’ khudhaa minallohi ‘azza wa jalla”

artinya “Barang siapa membaca surat (Qul huwallohu ahad 100.000 kali) maka benar-benar telah membeli dengan surat Qul huwallohu ahad akan dirinya dari Alloh Ta’ala, dan ada seruan dari hadapan Alloh Ta’ala kepada seluruh langit NYA dan Bumi NYA : Ingat-Ingatlah, sesungguhnya fulan itu dimerdekakan oleh Alloh Ta’ala. Oleh sebab itu, barang siapa yang baginya belum menerima pengembalian pinjaman, maka ambillah pinjaman itu dari Alloh ‘Azza Wajalla”

Hendaklah menghindari dua perkara, karena dua perkara ini bisa jadi penghalang manusia akan mengucapkan: kalimat Tauhid, menjelang Sakarotul Maut, yaitu :

  • Meremehkan Sholat. Baik sholat Fardlu, maupun sholat sunnah.
  • Menyakitkan hati orang tua, terutama orang tua perempuan. Lihatlah hikayahnya shohabat Alqomah. Irsyadul ‘Ibad, bab : Uququl Walidain, halaman 92.

Itulah sebabnya, waktu Rosululloh SAW di tanya oleh sahabat Ibnu Mas’ud mengenai amal yang paling disukai Alloah Ta’ala. Hadits ini di riwayatkan oleh dua syekh, yaitu Al Bukhori dan Muslim.

Jawabnya demikian :

Ibnu Mas’ud   : “Ayyu al ‘amali ahabbu ilallohi ?”

Rosululloh      : “Asholatu ‘ala waqtahaa qultu”

Ibnu Mas’ud   : “Tsumma ayyum ?”.

Rosululloh      : “Birrulwallidaini qultu”

Ibnu Mas’ud   : “tsumma ayyum ?”.

Rosululloh      : “Al jihadu fi sabiilillah”

Artinya :

Ibnu Mas’ud   : “Manakah amal yang paling disukai Alloh ?”

Rosululloh      : “Yaitu sholat tepat atas waktunya”

Ibnu Mas’ud   : “Kemudian apalagi ?”.

Rosululloh      : “Berbuat baik kepada orang tua kalian”

Ibnu Mas’ud   : “Kemudian apalagi ?”

Rosululloh      : “Jihad fisabilillah”

 

Persiapan Keempat

Dari Anas Ra, dari Rosululloh SAW :

“Yatba’ul mayyita tsalatsa tu ahluhu, wa maa lahu. Wa ‘amaluhu fayarji’uts naani wayab’a waahidun. Fayarjiu ahluhu wa maa lahu wayabqoo ‘amaluhu mataghfu ‘alaihi” artinya : “Mengikuti kepada mayyit tiga perkara : ahlinya, dan harta bendanya, dan amalnya. Maka kembali yang kedua dan yang tetap hanya satu. Yang kembali ahlinya dan harta bendanya dan yang tetap ialah amalnya”.

Orang bepergian jauh harus mempunyai teman yang dapat memberikan pertolongan. Yaitu :

  • Diwaktu gelap, dapat memberikan penerangan.
  • Diwaktu ada bahaya, dapat memberikan perlindungan.
  • Diwaktu ketakutan, dapat memberikan keberanian.
  • Diwaktu lapar, dapat memberikan makanan.
  • Diwaktu haus, dapat memberikan minuman.
  • Diwaktu jatuh, ada yang membangunkan.

Manusia harus mempunyai tiga macam teman / sahabat, yaitu :

  • Teman Ahli-nya
  • Teman Harta Benda-nya
  • Teman Amal-nya

Ketika mayyit diberangkatkan dari rumah menuju ke liang kubur, tiga teman itu semuanya mengikutinya. Akan tetapi dua teman-nya yaitu Ahli dan Harta benda nya hanyalah dapat menemani mayyit sampai ke kubur saja, dua-duanya tidak sanggup menemani mayyit sampai ke liang kubur, apalagi sampai ke Alam Barzah.

Kedua-duanya kembali ke rumah mayyit, dan teman yang ikut sampai ke liang kubur, ke alam Barzah, Ke Mahsyar dan ke akhirat hanyalah Amal.

Amal itulah yang tidak pernah meninggalkan kita dari alam Dunia sampai ke Alam Akhirat, di mana saja, kapan saja, dalam keadaan bagaimana saja, ia senantiasa bersama kita. Orang yang tidak mempunyai teman amal, pastilah dalam perjalanannya menuju akhirat akan sendirian tanpa teman.

 

Teman Amal itu ada dua, yaitu Amal Sholeh dan Amal Salah (Jelek).

Teman Amal Sholeh itulah teman yang sejati, teman yang dapat memberikan pertolongan , teman yang dapat memberikan penerangan, teman yang dapat menjadi perlidungan.

Adapun teman Amal Salah/Jelek, itulah teman yang akan menambah kesulitannya mayyit, teman yang menimbulkan kesusahan mayyit.

Kedua-duanya teman itu timbul dari pribadinya manusia sendiri, sewaktu manusia hidup di dunia.

Oleh sebab itu, sebelum kita berangkat ke Alam Barzah, kita harus mengadakan persiapan mencari teman “Amal Sholeh”, dan kita harus berusaha semaksimal mungkin menyingkirkan “Amal Salah / Jelek” yang tidak ada manfaatnya sama sekali, bahkan membahayakan diri kita sendiri.

Batas waktu kita dalam kesempatan mencari teman “Amal Sholeh” itu, yaitu selama kita belum mengalami Sakaratul Maut. Dan apabila Sakaratul Maut telah datang, maka kesempatan itu sudah habis.

Janganlah seperti orang kafir, sewaktu Sakaratul Maut datang barulah dia minta dikembalikan ke dunia, untuk mencari teman “Amal Sholeh”, untuk menemani dalam perjalanan yang telah di ambang pintu Al Maut.

QS.23:99     “Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka (orang kafir), dia berkata : Yaa Tuhan ku, kembali kanlah aku ke dunia”

QS.23:100    “Agar beramal Sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan, sekali kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan nya saja, dan dibelakang mereka “alam barzah” sampai mereka dibangkitkan”.

Mencari teman Amal Sholeh sedang kematian di ambang pintu, itu adalah hal yang tidak akan terjadi, karena kesempatan sudah habis.

Si alam Barzah bukan waktunya “beramal Sholeh”. Minta kembali ke dunia tidak mungkin dikabulkan. Pasti dia merugi, Pasti dia merugi, Pasti dia merugi. (Al ‘Ashr).

Apakah Amal Sholeh yang menjadi teman Haqiqi itu ?

‘Amalun adalah bahasa Arab, artinya Kerja, dengan syarat Niat dan Ilmu. Sedangkan Sholihun adalah bahasa Arab, artinya Baik ‘Indalloh, baik menurut pandangan Alloh.

Jadi Amal Sholeh ialah Kerja yang didorong oleh niat dan Ilmu yang baik bagi Alloh Ta’ala, bukan Baik bagi Manusia. Akan tetapi baik bagi Alloh sudah tentu baik bagi manusia.

Perhatikan dalil dibawah ini:

“Kammin shoimin hadzuhu min sholatihitto’abu wanashabu” artinya : “Banyak dari orang-orang yang menegakkan sholat, mereka memperoleh dari sholatnya, hanya kepayahan dan kepenatan saja (yakni sholatnya tidak dinilai sebagai Amal Soleh)”.

“Kammin shoimin laisa min siamihi illal juu’a wal athsya” artinya : “Banyak dari orang-orang yang berpuasa, tidaklah memperoleh dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga”

 

“Kammiman ashoobahussilaahu labsa bisyahiidin wal ahamiidin” artinya : “Banyak dari orang yang kena tembak senjata mati dalam peperangan, akan tetapi bukan mati syahid dan tidak terpuji ‘Indalloh”.

Dari keterangan-keterangan Hadits diatas kita dapat mengambil kesimpul an, bahwa sholat yang hanya memperoleh kepayahan, puasa yang hanya memperoleh lapar dan dahaga, dan mati dalam peperangan yang tidak bernilai syahid dan terpuji ‘Indalloh, semuanya itu bukan Amal Sholeh.

Apakah yang dinamakan Sholeh bagi Alloh itu ?

Jawabnya adalah Sholeh bagi Alloh itu ialah “Amal yang Naik Sampai kepada Alloh Ta’ala”. Dan amal yang naik sampai ke Hadlrotillah itu adalah amal yang diterima oleh Alloh Ta’ala.

Wal Hasil, Amal Sholeh itu ialah : Amal Yang Diterima Oleh Alloh Ta’ala.

Dan amal yang ditolak itu semuanya bukan “Amal Sholeh”, akan tetapi Amal Tholeh, apakah itu namanya Sholat, Zakat, Puasa, Hajji dan lain sebagainya.

QS.35:10    “Kepada Alloh Ta’ala, naik Kalimat Thoyyib dan Amal Sholeh itu dinaikan kepada Alloh Ta’ala”

Menurut ayat ini, kalimat Tauhid (Laa ilaaha illalloh) kalimat Thoyyib ini naik sendiri tanpa dinaikkan “Yash’adu”. Adapun Amal Sholeh itu dinaikan, Kalimatnya “Yarfa’u” yang menaikkan Amal Sholeh itu ialah kalimat Thoyyibah atau Tauhid.

Jadi amal-amal yang berdiri diatas “Jiwa Tauhid” pasti naik sampai ke Hadlrotillah, dinaikkan oleh jiwa Tauhid, bukan Ilmu Tauhid. Jadi Ilmu Tauhid tidak bisa menaikkan Amal.

Dan amal-amal yang naik ke Hadlrotillah, pasti diterima, tidak ada kata kemungkinan diterima.

Soal         : Apakah sebabnya “Amal Sholeh” itu pasti diterima oleh “Alloh Ta’ala” ?

Jawab      :  Alloh Ta’ala itu Maha Suci (THOYYIBUN) hanya mau menerima amal-amal yang suci (Thoyyibun).

“Innalloha thoyyibun laa yaqbalu illaa thoyyiban” artinya : “Sesungguhnya Alloh itu Suci (Thoyyib) tidaklah akan menerima amal-amal kecuali yang suci (Thoyyib)”. Abi Hurairah, Ruwan Muslim – Riyadhul Sholihin Bab Al Muntawaarat Halaman 685.

Kalimat Thoyyib adalah kalimat yang suci, kalimat yang mempunyai “daya naik sendiri” ke Hadlrotillah Yang Suci (Thoyyib), dan amal-amal yang berdiri di atasnya kalimat Suci yang naik ke Dzat Yang Maha Suci, pastilah diterima.

Jiwa yang berisi Kalimat Thoyyib adalah jiwa yang suci. Sedangkan Jiwa yang tidak berisi Kalimat Thoyyib adalah adalah jiwa najis.

QS.9:28      “Sesungguhnya orang-orang Musyrik itu najis jiwanya”

Itulah sebabnya seluruh amalnya orang-orang yang musyrik itu pasti hancur lebur, tidaklah akan mampu berhadapan dengan kesuciannya Dzat Yang Maha Suci.

Al An’aam   “Dan apabila kamu musyrik pastilah lebur dari mereka apa-apa adanya yang kamu amalkan”

An Nuur      “Dan orang-orang kafir itu, amal-amal mereka itu laksana fatamorgana”.

Air itu tampak ada dalam pandangan mata kita, akan tetapi hakekatnya air itu tidak ada, yang ada hanyalah panas dan pasir.

Soal      : Bagaimanakah Amal yang di jiwai dengan jiwa Tauhid yang pasti diterima itu ?

Jawab    : Amal Sholeh itu meliputi perkataan / gerak anggota dan hati, yang kesemuanya itu haruslah di jiwai dengan Jiwa Thoyyibah, atau Jiwa Tauhid.

Kita harus menginsyafi :

  1. Bahwa tak akan ada “Amal” Sholat, Puasa, dan lain-lainnya pada kita, apabila pada diri kita tak ada Hayatun (Hidup), Iman, Niat, Qudrat, Ilmu, Amrullah (perintah-perintah Alloh).
  2. Hayatun (Hidup), Iman, Niat, Qudrat, Ilmu, Amrullah, semua ini tak akan ada pada kita apabila tidak bersumber dari Satu Dzat, yaitu Alloh Ta’ala, sumbernya hanya satu : Ahad, Waahid dan Tauhid.
  3. Bila dalam jiwa kita ada keyakinan, bahwa Hayatun (Hidup), Iman, Niat, Qudrat, Ilmu, Amrullah dengan keinsyafan dan kesadaran, semuanya itu bersumber dari Ahad dan Tauhid. Maka itulah Amal kita Naik kepada Dzat Yang Maha Satu pastilah diterima. “Laa haula wa laa quwwata illaa billah” artinya : “Tak ada daya kemampuan melaksanakan perintah-perintah Alloh dan menjauhi larangan-larangan Alloh, kecuali Billah”

Jadi adanya Sholat Billah, Zakat Billah, Puasa Billah, Hajji Billah, Dzikir Billah, Sabar Billah, Khusyu’ Billah, Hayat Billah, dan Maut Billah.

Inilah Jiwa Tauhid bukan Ilmu Tauhid.

Soal      : Apakah kita sekarang di dunia ini sudah bisa tahu bahwa amal kita itu diterima oleh Alloh Ta’ala ?

Jawab    : “Wamangkaana fi hadzihi a’ma fahuwa fil akhiroti a’maa” artinya : “Barang siapa (didunia) buta (tidak tahu), maka di akhirat pun buta (tidak tahu)”

Kita wajib tahu di dunia ini, bahwa Amal kita telah diterima atau tidak oleh Alloh Ta’ala.

Sebab, kepada Alloh Ta’ala kita wajib tahu ada-NYA, mengapa kepada amal-amal kita sendiri kita tidak wajib mengetahuinya ?

Orang tidak tahu, apakah amal kita diterima atau tidak, adalah orang yang ragu-ragu. Dan ragu-ragu adalah orang yang tidak punya kekuatan Iman, orang yang mudah dijerumuskan oleh Syaethon.

Orang ragu-ragu adalah meragukan keterangan Alloh Azza Wajalla di dalam Al Qur’an.

Apakah tidak yakin amal-amal Sholeh itu dibalas dengan kebaikan ?

Orang yang yakin akan balasannya Amal Sholeh mestinya tidak ragu-ragu kalau amalnya itu diterima, sebab sesuatu yang ditolak tidaklah akan dibalas kebaikan. Kalau yakin adanya pembalasan baik Amal Sholeh, wajib yakin amal itu diterima, karena yang dibalas kebaikan itu karena diterimanya amal-amal yang baik. Begitu sebaliknya.

Yang paling aneh, adalah orang mengatakan bahwa, Sholat itu Amal Sholeh, tetapi kita tidak yakin, bahwa sholatnya itu diterima.

Apakah kita mengira bahwa Alloh itu tidak tentu menerima Amal Sholeh ?

Apalah artinya kita beramal dalam keragu-raguan !!!

Perhatikan dalil-dalil dibawah ini:

Kita wajib yakin akan Dzat Alloh, karena bukti-bukti adanya meliputi segala yang ada, termasuk “Wujud Kita Sendiri” merupakan bukti-bukti kesaksian akan adanya Alloh, tidak ada jalan untuk ragu-ragu.

Kita wajib yakin akan kebenarannya Al Qur’an :

QS.2:2         “Sungguh ini kitab yang tidak ada ragu-ragu, sebagai hidayahnya bagi orang-orang yang bertaqwa”

Kita wajib yakin akanadanya alam Akhirat yang akan kita masuki, tempat kita hidup abadi.

QS.2:5         “… dan dengan akhirat itu mereka yakin”

Ibadah kepada Alloh Ta’ala pun wajib yakin diterima:

“Wa’bud robbaka hatta ya’tiyakal yaqiinu” artinya : “dan hendaklah ibadah kepada Alloh sampai datang kepadamu yaqin”

Amal-Amal Sholeh :

QS.2:25       “Gembirakanlah orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, sungguh bagi mereka syurga dari bawahnya mengalir sungai-sungai”

QS.2:81       “Orang-orang beriman dan beramal sholeh, mereka itu penghuni syurga dan didalamnya kekal”

Dan masih banyak puluhan ayat yang menerangkan “orang yang beriman dan beramal sholeh” itu dapat balasan syurga.

Adanya orang-orang yang beramal sholeh mendapat balasannya syurga adalah yakin amalnya diterima. Kalau tidak diterima tidaklah mungkin dapat balasan Jannah, padahal umumnya orang-orang itu mengatakan : Sholat, Zakat, dan Puasa itu semua di katakan Amal Sholeh. Dengan demikian wajiblah yakin Amal itu diterima. Sebab barang yang tidak diterima, tidaklah akan dapat balasan Syurga.

Inilah keterangan-keterangan dari Al Qur’an yang tegas-tegas jelas. Bila masih ragu-ragu diterimanya, berarti masih ragu-ragu, bahwa Amal Sholat, Zakat, itu dikatakan Amal Sholeh.

Demikianlah keberadaan manusia secara singkat, yang dapat dipaparkan semoga dapat menjadi suatu landasan untuk mencari ridha Alloh.

Amin … ya Rabbal alamin …

Keberadaan Manusia

-        Manusia pada dasarnya selalu mencari tuhan, mencari faktor yang mempengaruhi keberadaan manusia tersebut.

-        Kalau kita telah mengetahui Alloh sebagai Tuhan Alam semesta ini, kenapa kita tidak berbakti kepada-NYA.

Contoh:

Kerbau makan rumput. Diberi makan daging tidak mau.

Manusia apa saja dimakan, (nasi, gandum, rumput, ikan, gunung, pasir, lebih sadis makan manusia)

 

Manusia adalah makhluk Alloh yang mempunyai martabat atau derajat paling tinggi dari makhluk yang lain, antara lain:

Makhluk Terbaik

Manusia diciptakan Alloh dengan sebaik-baiknya kejadian, sesuai dengan firman Alloh Ta’ala:

QS.95:4      “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”

Demikian terbaiknya manusia sehingga Alloh menjadikan manusia sebagai Khalifah dimuka bumi ini.

Makhluk Termulia

Manusia diciptakan dengan kelebihan dan kesempurnaannya, dibanding-kan dengan makhluk yang lain. Sesuai dengan Firman Alloh:

QS.17:70    “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka didaratan dan dilautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

Demikian mulianya manusia sehingga Alloh menciptakan segalanya untuk keperluan manusia.

Makhluk terpercaya

Hal ini kita fahami dari surat Al Ahzab ayat 72, Kalau kiranya Alloh tidak mempercayai manusia, tentu Alloh tidak akan memberikan Amanah kepada manusia.

Manusia memikul Amanah dari Alloh, karena manusia sanggup menerima (memahami dan melaksanakan) dan sanggup menyampaikan dan menyebarkan Amanah tersebut. Dan hanya manusia yang diberi kitab untuk disampaikan sesama manusia sebagai suatu kebajikan yang tidak ternilai.

Makhluk Terpintar

Alloh mengajarkan kepada Adam nama-nama, fungsi dan keberadaan benda (asma Kullaha) atau ilmu pengetahuan seluruh alam semesta.

Dan hanya manusia yang diberi kitab untuk diketahui sebagai ilmu pengetahuan. Sesuai dengan firman Alloh: QS.2:30-33 dan QS.27:38-42.

Makhluk Tersayang

Segala fasilitas yang dibutuhkan oleh manusia, Alloh telah siapkan dan pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada manusia itu sendiri.

Demikian sayangnya Alloh kepada manusia,

  • Alloh mengampuni kesalahan-kesalahan manusia kecuali syirik.
  • Alloh menundukan apa yang ada dilangit dan dibumi untuk keperluan manusia.
  • Alloh menyempurnakan nikmat lahir dan bathin
  • Alloh memberikan ilmu pengetahuan melalui kitab yang tersirat dan tersurat.

Sesuai dengan firman Alloh pada QS.2:29; QS.3:133 dan QS.31:20

Makhluk yang suci

Manusia adalah makhluk yang suci, memiliki kecenderungan untuk mensucikan diri, akan tetapi karena godaan syaetan manusia melakukan hal-hal yang kotor dan merugikan manusia itu sendiri.

Hal diatas merupakan Fitrah-nya Manusia.

–o0o–

TAUHID

Berbicara tentang tauhid erat sekali hubungannya dengan ketuhanan, dan dapat menentukan pengenalan diri terhadap Tuhannya.

Secara garis kecil memang banyak macamnya, namun secara garis besar, tauhid dibagi menjadi 2, bagian yaitu:

  1. Tauhid Rububiyyah, artinya Tauhid Ketuhanan
  2. Tauhid Ubudiyyah, artinya Tauhid Ibadah.

Sebelum membahas mengenai kedua hal diatas, kita harus menginsyafi bahwa bukan dari pengetahuan Ilmu Tauhid yang kita miliki, tetapi bagaimana kita mengimplementasi atau melaksanakan pengetahuan dari Ilmu Tauhid itu.

1.      Tauhid Rububiyyah

Dalam pembahasan Tauhid Rubuubiyyah kita tidak mengambil kitab-kitab ilmu tauhid atau kitab-kitab ilmu kalam, akan tetapi kita mengambil dari sumber segala sumber, yakni Wahyu Illahi atau kitab Suci Al Qur’an.

Didalam Al Qur’an ada beberapa ayat yang menerangkan tentang persoalan Tauhid Rubuubiyyah, pada surat Al ‘Ankabuut.

Q.S. 29:61   “Dan seandainya kamu bertanya kepada orang-orang kafir dan musyrik : Siapakah yang telah menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi dan siapakah yang telah menundukkan matahari dan bulan?”

“Maka pastilah mereka menjawab : “Yang menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi serta yang menundukkan matahari dan bulan adalah Alloh”

Q.S. 29:63   “Dan seandainya kamu bertanya kepada orang-orang kafir dan musyrik : Siapakah yang telah menurunkan air dari langit, yang dengan air itu bumi menjadi hidup setelah mati?”

“Maka pastilah mereka menjawab : “Yang telah menurunkan air, dan telah menurunkan hujan dari langit, serta yang telah meng-hidupkan bumi dengan air hujan setelah bumi ini mati, adalah Alloh, tidak ada lainnya ”

“Katakanlah : “Segala puji kepunyaan Alloh”, tetapi kebanyakan  manusia tidak menggunakan aqal”

Q.S. 43:9     “Dan seandainya kamu bertanya kepada orang-orang kafir dan musyrik : Siapakah yang telah menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi?”

“Maka pastilah mereka menjawab : “Yang menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi adalah DZAT Yang Maha Perkasa – Maha Pandai”

Akan tetapi pada Q.S. 29:63, diakhir ayatnya menegaskan : “Qulil Hamdulillah Bal Aktsaruhum la ya’qiluun”, yang artinya : “Katakanlah (Muhammad) : “segala puji kepunyaan Alloh”, tetapi manusia tidak menggunakan aqal”

Berdasarkan keterangan ayat diatas, dengan demikian muncul permasalahan yang perlu kita perhatikan, untuk seluruh manusia.

Siapakah yang menciptakan langit ?

Pasti Jawabnya : “ALLOH”

Siapakah yang menciptakan bintang ?

Pasti Jawabnya : “ALLOH”

Siapakah yang menciptakan matahari ?

Pasti Jawabnya : “ALLOH”

Siapakah yang menciptakan bulan ?

Pasti Jawabnya : “ALLOH”

Siapakah yang menurunkan hujan ?

Pasti Jawabnya : “ALLOH”

Siapakah yang menhidupkan bumi ?

Pasti Jawabnya : “ALLOH”

Kalau tiga ayat tersebut digandengkan, maka “Siapakah yang menciptakan seluruh jagad ini ?”

Wal hasil pasti semuanya menjawab : “Allohul ‘Aziizul ‘Aliim”

(yang menciptakan semua jagad ini adalah Alloh Dzat Yang Maha Perkasa dan Maha Pandai)

Jadi, orang yang menjawab dengan jawaban sebagaimana diatas itu, apakah mereka termasuk ber-tauhid ataukah syirik? Apakah kafir atau syirik ?

Untuk menjawab masalah ini, kita haruslah berhati-hati, karena lafadz “SA-ALTAHUM” dalam tiga ayat diatas adalah ditujukan kepada orang-orang kafir dan musyrik, akan tetapi mereka mengakui bahwa yang menciptakan alam semesta ini adalah Alloh Ta’ala.

 

PEMBAHASAN

  • Kalau itu mereka dikatakan tauhid, lalu mengapakah dalam keterangan ayat itu mereka disebut Kafir / Musyrik?
  • Namun, kalau mereka itu dikatakan tidak bertauhid, padahal jelas ayat diatas menerangkan, bahwa mereka mengakui yang menciptakan seluruh alam semesta adalah Alloh Ta’ala.

Lalu bagaimanakah persoalan ini ?

Fainsya Alloh.

& Seandainya orang yang mengakui Alloh Ta’ala itu disebut “ber-TAUHID”, lalu mengapakah dalam akhir ayat diterangkan “Bal Aktsaruhum laa ya’qiluun” artinya : “Tetapi kebanyakan mereka itu tidak menggunakan aqal

& Padahal orang yang tidal berakal itu didalam surat Al Baqarah 171, disebutkan sebagai orang yang tuli hatinya, bisu hatinya dan buta hatinya.

Q.S. 2:171  “Tuli, Bisu, Buta (hatinya), Maka mereka itu tidak beraqal”.

& Kemudian di surat Al Anfal, diterangkan bahwa orang yang tuli dan bisu, serta tidak menggunakan aqal adalah sejelek daabaah (makhluq yang melata).

Q.S.8:22     “Sesungguhnya sejelek-jeleknya daabaah bagi Alloh ialah orang yang tuli dan bisu, adalah mereka itu tidak beraqal”

Jadi yang disebut orang tidak beraqal adalah orang yang tuli dan bisu hatinya, dan orang yang tuli dan bisu hatinya itu adalah sejelek-jeleknya makhluq yang melata dibumi.

& Kemudian diperjelas lagi dalam surat Al Anfal, bahwa sejelek-jeleknya makhluq yang melata dibumi adalah orang-orang kafir:

Q.S. 8:55    “Sesungguhnya sejelek-jelek hewan (melata) bagi Alloh ialah orang-orang kafir, maka mereka itu tidak beriman”

Jadi kalau menurut ayat-ayat ini; QS. 2:171; QS. 8:22; QS. 8:55, orang yang tidak beraqal berarti orang yang tidak beriman.

Padahal didalam QS.29:63; orang yang mengakui Alloh masih disebut “tidak beraqal”.

Apabila kita jawab: “Mereka itu tauhid”, maka bertentangan dengan beber-apa ayat dalam Al Qur’an, yakni:

ó QS.29:63     “Tetapi kebanyakan mereka itu tidak menggunakan aqal

ó QS.2:171     “Tuli, Bisu, Buta (hatinya), Maka mereka itu tidak beraqal”

ó QS.8:22       “Sesungguhnya sejelek-jeleknya daabaah bagi Alloh ialah orang yang tuli dan bisu, adalah mereka itu tidak beraqal”

ó QS.8:55       “Sesungguhnya sejelek-jelek hewan (melata) bagi Alloh ialah orang-orang kafir, maka mereka itu tidak beriman”

Akan tetapi apabila dijawab: “Mereka tidak bertauhid”, maka akan ber-tentangan dengan QS.29:61, padahal ini firman Alloh sendiri dalam Al Qur’an, dan memang benar bahwa kenyataannya Alloh-lah Szat Yang Menciptakan langit dan bumi. Lihat di Al Qur’an Surat Al A’rof, Surat Yunus, Surat Ibrohim, dan Surat Sajadah, semuanya menerangkan “Allohul ladzii Kholaqos samaawaati wal ardlo” artinya “Alloh adalah Dzat yang menciptakan langit dan bumi”

 

ö  Ketika orang kafir ditanya :

”Man Kholaqos samaawaati wal ardlo”,

mereka menjawab

“Layaquulunnallooh”,

bukankah ini jawaban yang benar?

Seandainya jawaban ini tidak benar, lalu siapakah yang menciptakan langit dan bumi?

 

ö  Ketika ditanya lagi,

“Man Sakhkhorosy syamsa wal qomaro”

maka mereka menjawab

“Layaquulunnallooh”,

Maka ini adalah jawaban yang sesuai dengan Al Qur’an.

QS.35:13     “Dia (Alloh) menundukan matahari dan bulan, masing-masing berjalan sesuai waktu yang ditentukan. Itulah ciptaan Alloh, Tuhanmu”

 

ö  Bila diberi pertanyaan lagi,

“Man nazala minas samaa-i maa-an fa-ahyaa bihil ardlo ba’da mautihaa”

artinya         “Siapakah yang menurunkan air dari langit yang dengan air itu bumi menjadi hidup”.

Maka Mereka menjawab

“Layaquulunnallooh”,

Hal ini adalah jawaban yang juga sesuai dengan Al Qur’an.

Apakah orang yang menjawab dengan benar ini disebut Musyrik ?

Apakah ada jawaban lain yang lebih benar ?

Adakah yang menciptakan langit itu selain Alloh ?

Apabila mereka itu “tauhid”, padahal yang dituju pada ayat tersebut orang kafir dan musyrik. Seandainya mereka disebut “Musyrik”, padahal jawaban mereka sesuai dengan I’tiqod tauhid, yakni mengakui bahwa tidak ada yang menciptakan jagad ini selain Alloh.

I’tiqod Tauhid adalah I’tiqod yang suci. Kebalikannya I’tiqod Tauhid adalah I’tiqod syirik, sedangkan I’tiqod syirik adalah I’tiqod najis. Surat At Taubah menerangkan sesungguhnya orang musyrik adalah najis.

QS.9:…       “Innamal musyrikuuna najasun”

Dan bila orang yang menjawab : “Layaquulunnalloh” itu disebut Tauhid, maka pasti mereka akan aman, karena Rasululloh menjelaskan dalam hadits qudsi “Man athorrolii Bittauhiidi dakhola hisnii, waman dakhola hisnii amina ‘adzaabii”. Artinya “Barang siapa yang mandapatkan Tauhid dalam hatinya, maka orang itu masuk Gedung KU, dan barang siapa yang masuk Gedung KU maka ia aman dari siksa KU”

Menurut hadits qudsi ini kalau ingin aman dari siksa Alloh, maka harus masuk gedung Tauhid. Kalau mereka itu dikatakan Tauhid, berarti mereka itu sudah suci dan tidak terkena ancaman neraka karena sudah masuk gedung Tauhid.

Padahal yang dituju oleh QS.29:61 adalah orang-orang kafir.

Padahal jawaban mereka (orang kafir) “Layaquulunnalloh” itu adalah jawaban yang sesuai dengan beberapa ayat al Qur’an atau sesuai dengan Aqidah Tauhid.

Bagaimana mengenai masalah ini ?

Pilihan jawabannya hanya ada 2, Tauhid atau Syirik.

ö  Kalau jawabannya benar maka pahalanya besar.

ö  Kalau jawabannya keliru maka saya akan disalahkan, guru saya akan disalahkan, dan pembimbing saya juga akan disalahkan,

Memang masalah Tauhid Rububiyyah ini adalah masalah yang tidak mudah.

Maka berhati-hatilah, dalam membahas mengenai masalah ini.

Tauhid Rububiyyah, ialah kepercayaan atau keimanan yang mengimankan bahwa tidak ada yang menciptakan diri kita dan seluruh alam semesta yang kita tempati ini, melainkan satu pencipta yakni Alloh Ta’ala.

Jadi Tauhid Rububiyah itu mengakui, hanya ada satu sang pencipta seluruh alam semesta beserta isinya, yaitu Alloh yan Maha Pencipta.

Tauhid yang demikian itu, apabila sudah diikat atau dibundel dengan kuat didalam hati kita, inilah yang disebut dengan Aqidah atau I’tiqod (ikatan atau bundelan).

Kalau sudah demikian pastilah kena cobaan (ujian). Dan cobaan yang ditimpa kan untuk menguji kekuatan dari ikatan/bundelan dalam ruhani/hati itu ber-macam-macam:

►   Ada yang dicoba dengan sakit.

►   Ada yang dicoba dengan rasa kegembiraan yang meluap-luap

►   Ada yang dicoba dengan kekayaan yang melimpah-ruah.

►   Ada yang dicoba dengan kefakiran.

►   Ada yang dicoba dengan puja dan puji.

►   Ada yang dicoba dengan dibenci oleh orang banyak.

►   Dan lain-lain cobaan, yang bermacam-macam.

Kalau mengalami cobaan yang bermacam-macam itu, I’tiqod-nya tidak berubah bahkan sampai matipun I’tiqodnya tidak dapat bergeser, hal semacam itu namanya kebulatan tekad.

Kenapa dibulatkan ? karena asalnya belum bulat, masih benjol-benjol (berunjul-berunjul). Barulah ketemu dengan yakin.

Jadi yakin itu ialah I’tiqod yang ta’yiidun atau I’tiqod yang kuat.

Rosul diutus ke dunia bukanlah untuk menimbulkan iman manusia kepada Alloh Ta’ala, karena hal ini merupakan pekerjaan yang tahsilul hasil, karena didalam Ruh semua manusia itu telah iman, hanya saja manusia itu menyeleweng atau lupa.

QS. 88:17    “Apakah kamu tidak melihat kepada unta, betapakah unta itu dijadikan ?”

QS. 88:18    “Dan apakah kamu tidak melihat kepada langit, betapakah langit itu ditinggikan?”

QS. 88:19    “Dan apakah kamu tidak melihat kepada bukti-bukit, betapakah bukit-bukit itu ditegakkan?”

QS. 88:20    “Dan apakah tidak melihat kepada bumi, betapakah bumi itu dihamparkan?”

QS. 88:21    “Maka berilah peringatan, sesungguhnya engkau adalah orang yang memberi peringatan”.

Cobalah kita tafakur, setelah menyebut unta kok menyebut langit, gunung, dan bumi. Sedangkan didalam surat Al Ahzab 72, diterangkan : bahwa amanat Alloh itu ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung, lalu siapakah unta-nya ?

Unta yang dipadang pasir adalah saya, dan kita semua yang glinuk-glinuk ini.

Kemudian ayat tersebut diakhiri dengan “maka berilah peringatan, sesung-guhnya engkau adalah orang yang memberi peringatan”

Jadi Nabi Muhammad SAW itu hanya mengingatkan saja, mengapakah diingatkan ? karena manusia membawanya, tetapi tidak tahu (lupa) apa yang dibawa, seperti binatang unta. Dan yang membuat manusia lupa itu banyak sekali sebabnya.

2.      Tauhid Ubudiyyah

Tauhid Ubudiyyah adalah Tauhid Ibadah. Kalau manusia itu sudah percaya bahwa pencipta alam semesta itu hanya satu, yakni Alloh Ta’ala, maka yang wajib disembah adalah hanya satu, yakni menyembah Dzat Alloh Ta’ala yang satu. Dari sinilah manusia yang tidak Tauhid Ubidiyyah, timbullah manusia yang bermacam-macam terhadap sesuatu yang disembah.

Selain yang ada dipenjelasan VERSUS TAUHID, marilah kita memperhatikan penyelewengan dari Tauhid Ubudiyyah.

a.     Penyembah Matahari dan Bulan

Ada orang yang percaya bahwa yang menciptakan jagad ini hanya satu, akan tetapi orang tersebut menyembah matahari, dan juga ada yang menyembah Bulan. Disebutkan didalam al Qur’an, surat Fushshilat ayat 37.

“Janganlah kamu menyembah matahari dan janganlah kamu menyembah rembulan”

Orang yang menyembah matahari atau rembulan, dari segi Ubudiyyah adalah Syirik, tapi dari segi Rububiyyah adalah Tauhid. Maka kalau kita mengatakan: “Wah orang itu syirik !”, syirik dari segi apa ?, kalau tidak tahu seginya, jangan jangan malah bisa salah kita mengatakannya, yang tauhid mungkin akan dikatakan syirik, hal itu yang salah adalah yang mengatakannya, karena mengatakan saja tidak bisa.

b.    Penyembah Jin

Kita harus berhati-hati terhadap orang yang menyembah Jin, karena di dalam Al Qur’an, surat Saba’, ayat 41, diterangkan :

“Tetapi ada mereka itu menyembah Jin, kebanyakan mereka itu percaya kepadanya”

Siapakah yang menyembah Jin? Yang menyembah Jin adalah Tukang Sihir, Tukang Tenung atau Santet.

Jin adalah makhluk halus yang diciptakan dari api. Didalam surat Ar Rahman, ayat 15, dan Al Hijr ayat 27, diterangkan:

“Dan Alloh menciptakan Jin dari nyala Api”.

QS.15:27     “Jin KAMI ciptakan sebelum manusia dari api yang sangat panas”

Begitupun didalam hadits disebutkan:

“Waljaanna Kholaqnaahu min Qoblu min Naaris Samuum”

Jin ada 3 macam, yakni:

a  Jin Yang Pertama

Jin yang pertama yakni Jin yang berbentuk Ular, Kalajengking dan lain-lain yang menyerupai hayawan di bumi. Dalam hadits diterangkan:

“Hayaatun ‘Aqooriib” artinya ada Jin yang berbentuk Ular.

Ada yang berbentuk kelabang, makanya kadang-kadang ada ular yang besar dan kelihatan oleh pandangan mata kita, tapi ketika kita datangi ular besar tersebut menghilang, itu adalah Jin.

Ada juga jin yang berupa hama.

a  Jin Yang Kedua

Jin yang berbentuk angin, dalam hadits disebutkan: “Washinfun Karriihi fil Hawaa” artinya : Dan sebagian seperti angin yang ada di awang-awang”

Jin yang berbentuk angin ini suaranya grubak-grubuk, dan jika seandai-nya angin sampai menerjang satu desa umpamanya, maka hampir merata satu desa terkena penyakit, terkadang ada yang menyatakan Nyai Roro Kidul punya hajat, padahal sebenarnya itu adalah Jin.

a  Jin Yang Ketiga

Jin akan dihisab dan disiksa, dalam hadits disebutkan: “Washinfun ‘Alaihimul Hisaabi wal ‘Iqoob” artinya : Dan sebagian dari Jin akan di Hisab dan di Siksa.

Jin ketiga inilah yang menerima perintah Ibadah, yang sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an, Surat Adz Dzariyat.

Q.S. 51:56 “Dan AKU tidak menciptakan Jin dan Manusia, kecuali untuk menyembah KU”

Jin ketiga ini sejajar dengan tingkatannya manusia, dan jin inilah ada yang sholeh (Islam) dan ada yang tidak sholeh (Kafir).

Di Al Qur’an diterangkan pada surat Jin.

Q.S. 72:11 “Dan diantara kami ada yang sholeh-sholeh dan ada yang kurang dari pada itu”

Q.S. 72:14 “Dan kami sebagian muslim taat, dan kami sebagian menyimpang”

Q.S. 72:6   “Dan sesungguhnya ada orang laki-laki diantara manusia minta perlindungan kepada beberapa jin laki-laki”

Makhluk Jin ada yang pandai dan ada yang bodoh, yang paling pandai namanya Ifrit. Didalam Al Qur’an Surat An Naml diterangkan.

Q.S. 27:39 “Berkata Ifrit (sepandai-pandainya) dari jin kepada Nabi Sulaiman; “Saya sanggup mendatangkan kepadamu pintu kerajaan raja Balqis sebelum baginda berdiri dari tempat duduk-nya, dan saya yang kuat dan dapat dipercaya kekuatannya””

Akan tetapi kesediaan Jin Ifrit ditolak oleh Nabi Sulaiman AS, “Karena itu terlalu lama, yang saya (Nabi Sulaiman AS) maksud itu satu kejap mata”. Tapi Jin Ifrit tidak sanggup.

Jin Ifrit adalah Jin yang paling pandai, digdaya, sakti mandraguna. Kalau jin yang selalu kalah namanya bukan Jin Ifrit atau Jin Nomer 1. dan sangat jarang sekali orang yang kenal dengan Jin Ifrit.

Akan tetapi sepandai-pandainya jin, kita harus tetap berhati-hati akan keingkarannya. Mungkin satu – tiga kali, kalau sudah dituruti, akhirnya dijadikan budaknya jin, memang jin ya begitu itu.

Karena jin diciptakan oleh Alloh dari api, maka kalau orang-orang yang ingin bertemu dengan jin harus menggunakan perantara api. Terkadang setiap hari berpuasa sampai badannya panas, kemudian dengan menggunan api memanggil jin timur, jin barat, jin selatan, jin utara, jin merah, jin hijau, jin kuning semuanya dipanggil untuk dimintai tolong.

Jin dipanggil oleh orang tersebut: “Pangeran Jin”

Jin        : “Apa !”

Orang   : “Ini saya punya potongan keris dan juga rambut, tolong masukan kebadannya si A, alamatnya ini ……”

Jin        : “Ya, jaminannya apa?”

Orang   : “Jaminannya saya ikut kamu”

Jin        : “Benarkah !”

Orang   : “Ya, sungguh”

Jin        : “Kamu tanda tangani (bukti perjanjian)”

Orang seperti ini telah menanda-tangani pernyataan Kafir.

Audzubillahi min Dzaliq….. Astaghfirullohal Adziim ….

c.      Penyembah Setan

Ada juga orang yang percaya kepada Dzat yang menciptakan alam Cuma satu, hanya saja tidak mau menyembah kepada Alloh Ta’ala, tapi menyembah syetan. Ini namanya Syirik Ubudiyyah. Dalam al Qur’an surat Yasin ayat 60.

Q.S. 36:60 “Janganlah kamu menyembah syaitan, maka sesungguhnya syaiton itu bagimu adalah musuh yang nyata”

Q.S. 35:6   “Sesungguhnya syetan itu musuh untuk kamu, maka ambillah dia sebagai musuhmu, sesungguhnya (syetan itu) mengajak-ajak kepadamu supaya kamu itu menjadi temannya (satu grup dengannya) supaya kamu semua diajak masuk ke neraka Sa’ir”

Jadi sebaik-baiknya syetan pasti memusuhi kita dan kitapun berkewajib-an memusuhinya.

Bagaimana kita memusuhinya, sedangkan kita tidak tahu?

Oleh sebab itu wajib tahu akan adanya setan, agar kalau kita dipukul oleh syetan dapat membalasnya.

Bagaimana kita dapat mengetahui syetan, sedangkan syetan itu halus?

Bentuk syetan ada dua macam : Al Qur’an surat Al An’am.

Q.S. 6:112      “… Syetan bentuk manusia dan Jin …”

Syetan berbentuk Manusia

Didalam ayat tersebut diterangkan bahwa syetan yang berbentuk manusia disebut terlebih dahulu. Mengapa demikian? Sebab syetan yang berbentuk manusia itu peranannya penting dan juga paling sulit memusuhinya.

Pentingnya : sebagai faktor penguji ketaqwaan kita, dan sebagai penjelas perbedaan antara yang haq dan yang bathil.

Sulit memusuhinya : karena rupanya manusia, pakaiannya manusia, bisa mengaji dan ibadah. Hal ini secara dhohir kita mengatakan bahwa dia adalah manusia, akan tetapi ternyata syetan.

Sabda Rosululloh :

“Bersyukur kepada Alloh, berarti bersyukur kepada sesama manusia”.

Untuk bisa mengetahui syetan atau bukan, caranya diteliti, dilihat pekerjaannya. Kalau pekerjaannya berani kepada Alloh Ta’ala maka dia itu syetan.

 

Syetan berbentuk Jin

Kalau kita telah mengetahuinya, apabila syetan menggoda kita, maka kita dapat menghancurkannya atau menghindar. Kalau tidak tahu, bagaimana kita akan membalas atau menghindar?

d.      Menyembah Berhala

Ada manusia yang menyembah batu atau semen yang diukir-ukir. Seperti :

Zaman nabi Nuh AS, ada lima berhala yang besar, yaitu: Waddan, Suwaa’an, Yaghuutsa, Ya’uuqo, Nasroo. Inilah nama-nama Jendral berhala, diterangkan didalam Al Qur’an surat Nuh, ayat 23:

“Waddan Walaa Suwaa’an Walaa Yaghuutsa Walaa Ya’uuqo Wanasroo”

Zaman nabi Muhammad SAW, di Ka’bah ada berhala yang sangat besar yang namanya Hubbal, dan ratusan berhala-berhala disekilingnya yang mewakili keturunan atau desanya masing-masing.

Berhala dibentuk sendiri, diukir sendiri, dicat sendiri, diletakkan sendiri, di beri sajen sendiri dan disembah sendiri. Jadi yang menyembah hidup dan yang disembah mati, yang menyembah melihat dan yang disembah buta, yang menyembah mendengar dan yang disembah tuli, bagaimana-kah menurut akal sehat?

Akan tetapi, ketika mereka ditanya mengapa kamu menyembah berhala?

Mereka menjawab. Al Qur’an surat Az Zumar.

Q.S.39:3    “Aku tidak menyembah berhala, melainkan barang yang aku sembah itu untuk mendekatkan aku kepada Alloh”

Orang yang menyembah berhala memberikan alasan:

Jangan dikira aku ini menyembah berhala, aku ini menyembah Alloh, hanya saja melalui perantara berhala, jadi sebenarnya yang aku sembah adalah Alloh. Berhala itu hanya sebagai perantara. Alasannya sama seperti kamu (orang Islam). Kamu sholat menghadap ka’bah, masa itu namanya menyembah Ka’bah, kan tidak! Kamu kan hanya menghadap saja. Begitu juga aku, hanya menghadap saja.

Berhala dari batu, Ka’bah-pun dari batu. Sama saja kan !

Bagaimana ini ?

Untuk menjawab perlu adanya pemikiran yang jernih dibawah bimbingan Alloh SWT. Amiin.

e.      Menyembah Harta Benda

Berhala itu bahasa Arab-nya ialah Ashnaamu, dan didalam al Qur’an memang ada kata-kata Ashnaam. Akan tetapi kalau memaknai Ashnaam mengenai do’a Nabi Ibrohim AS, Surat Ibrohim ayat 35.

Q.S. 14:35 “Ya Tuhan-ku, jadikanlah negeri ini aman sentausa, dan selamatkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala”

Pendapat Imam Ghozali dalam kitabnya “Ihya’ Ulumiddin” jilid 3, beliau memakai nama “Ashnaam” bukan bermakna “berhala yang dijadikan dari batu”. Tetapi “ashnaam” dimaknai dengan “berhala harta benda”.

Pendapat ini ditentang oleh Imam Ibnu Qoyyim, yakni ahli dhohir, dengan mengatakan : “Lihatlah orang tasawuf itu, seenaknya sendiri kalau mentafsirkan. Pentafsirannya tidak pernah ada pentafsir-pentafsir yang memaknai seperti itu, hanya Imam Ghozali saja”.

Sampai akhirnya Imam Ibnu Qoyyim mengarang kitab yang namanya kitan Talbis Iblis, untuk mengkritik dan menghantam ahli-ahli tasawuf.

Menurut pendapat Bapak Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi, mursyid Toriqoh Shiddiqiyyah, bahwa pendapat Imam Ghozali memaknai “Ashnaam” dengan makna berhala harta benda itu tidak keliru, dan hal itu justru menunjukkan berliannya Imam Ghozali. Karena apabila “Ashnaam” dalam do’anya Nabi Ibrohim AS bermakna “Berhala / Tuhan Batu”, alangkah rendanya Iman Nabi Ibrohim AS. (Tafakarun)

Nabi Ibrohim AS, berkata diabadikan didalam Al Qur’an surat Ibrohim:

Q.S. 14:36 “Sesungguhnya berhala-berhala itu banyak yang menyesat-kan manusia”

Hadits Rasululloh :

“Celakalah hamba Dinar, celakalah hamba Dirham”

Jadi masih banyak manusia yang menyembah harta benda, malah diterangkan secara luas di buku / kitab Jayabaya tentang orang yang menyembah Uang.

Fainsya Alloh kita tidak termasuk. Amiin.

f.       Menyembah Huruf

Adalagi manusia yang menyembah huruf, di dalam al Qur’an diterangkan  pada surat Al Haj ayat 11.

Q.S. 22:11 “Dan diantara manusia ada yang menyembah Alloh, atas / dengan hurufnya ….”

Hal ini sangatlah sulit dijelaskan secara gamblang, karena kondisinya sangat tersembunyi dan terlihat secara dhohir benar dan tidak ada penyelewengan dalam ibadah secara Ubudiyyah.

Jadi ada manusia menyembah huruf, menyembah kitab, menyembah lafal, menyembah makna.

Mudah-mudah contoh dibawah ini dapat dijadikan bahan kajian:

u  Ada seorang anak kecil memakai kalung dari kain berwarna, yang isinya bertuliskan ayat al Qur’an dan doa (dalam bahasa arab), orang tuanya percaya dan yakin kalau isim ini dapat menangkal gangguan syetan. Kebetulan berhasil, maka bertambahlah keyakin-annya terhadap isim tersebut.

v  Ada manusia yang memiliki al Qur’an kecil dengan ukuran 2 x 3 Cm, untuk dijadikan pelindung, untuk keselamatannya.

w  Ada manusia yang memiliki keyakinan lafal, bahwa dengan lafal ayat tertentu akan memberikan manfaat tertentu.

x  Ada manusia yang memiliki keyakinan makna, bahwa sesuatu apapun mempunyai makna, maka diambilah benda yang memiliki makna tersebut dengan menggantung harapannya kepada benda tersebut.

Dengan demikian, kita perlu berhati-hati, teliti dan selalu mengobservasi, dengan rasa yang telah diberikan oleh Alloh SWT. Yang mana rasa tersebut harus diliputi oleh keridha’an dari Alloh SWT.

 

PENGERTIAN TAUHID

Pengertian tentang tauhid, erat sekali hubungannya dengan ilmu-ilmu pasti dan fisika, dan akan membuahkan kebahagiaan dan kemerdekaan yang haqiqi.

Kiranya kita dapat menggambarkan keberadaan umat muslim sebagai gunung es di tengah lautan.

Dengan kondisi ini siapapun akan dapat memperkirakan keberadaan dari nilai manusia itu sendiri.

Nilai tauhid harus benar-benar dipertahankan, sebab keterkaitannya sangat erat sekali.

  • Bagaimana perilaku itu sesuai dengan amal shaleh, sementara pemahaman  ikhsan kita tidak benar?
  • Bagaimana kita akan ikhsan, sementara pemahaman  iman kita tidak benar?
  • Bagaimana kita akan beriman, sementara kita tidak memahami tentang tauhid (pengenalan diri kepada Alloh SWT) tidak benar.

Jika kita benar meletakkan nilai tauhid, Insya Alloh iman kita akan baik, Insya Alloh jika iman kita baik maka ikhsan kitapun akan baik, Insya Alloh jika iman kita baik maka perbuatan / amal shaleh kita pun akan baik.

Kenapa demikian, nilai tauhid yang benar minimal akan menimbulkan pendapat atau perasaan bahwa Alloh Maha Melihat dan Maha Mendengar. Dimanapun kita berada selalu diawasi oleh Alloh SWT.

Untuk mentauhidkan Alloh SWT perlu sikap yang consistence (tetap dan terus menerus) memikirkan dan mengingat Alloh SWT, sampai pada akhirnya kita merasa mencintain-NYA. Yaitu selalu ingin mengenang-NYA, dan merindu-kan-NYA. Amin ya rabbal ‘al amin.

Tauhid merupakan ilmu yang mempelajari keberadaan Alloh SWT, melalui pemahaman ilmu pengetahuan, pengenalan diri dan mengacu pada Al Qur’an.

KITAB

PENJELASAN

HAKEKAT

MA’RIFAT

Tidak Diwahyukan Ilmu pengetahuan Alam semesta Mengenal hukum alam Mengenal Alloh SWT melalui sunatullah, penciptaan manusia, dan perilaku makhluk hidup.

Amal shaleh manusia.TersiratDiri Manusia yang ber-hubungan dengan ruh)Mengenal Diri, sebagai makhluk yang dhaib.TersuratPenjelasan (Zabur, Taurat, injil dan Al Qur’an) + HaditsMengenal hidup dan tata kehidup-an dunia dan akhirat.

Tabel-8

Pada tabel-8, merupakan tahapan-tahapan secara global, perlu sikap dan kemauan yang teguh. Agar Alloh memberikan motivasi melalui Hidayah (Ilmu dan Iman). Pada akhirnya akan mengenal Alloh dengan baik. Sesungguhnya pemahaman ke tiga bagian ini harus bersamaan dan didasari oleh Al Qur’an dan Hadits. Dan untuk lebih memahami agar tidak diselewengkan oleh hal-hal yang bersifat negatif (dari syaetan) perlu dilandasi oleh Zikrullah. (setiap saat, setiap waktu, dimanapun kita berada). Insya Alloh.

Zikrullah adalah suatu ibadah yang sangat tinggi nilainya.

Ada tahapan-tahapan yang harus kita pelajari dengan mengharap ridha Alloh SWT, yaitu melaksanakan dengan baik Rukun Iman dan Rukun Islam

Allohu a’lam bishawab … !!!

–oOo–

AMAL SHOLEH

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Tauhid adalah dasar yang pokok dalam ajaran Islam, dan sangat perlu diperhatikan bagi hamba-hambanya yang ingin mendapatkan warisan dari Alloh berupa (Dunia) ini.

QS.21:105. “Kami telah tetapkan (tuliskan) sejak dari kitab Zabur, sesudah peringatan-peringatan (wahyu tak tertulis sebelum Zabur), bahwa sesungguhnya Dunia ini akan DIWARISI oleh hamba-hamba KU yang SHALIH”

Shalih berarti baik atau benar, Bagaimanakah posisi shalih (baik / benar) ?

Menurut para ahli ilmu pengetahuan yang non muslim, Shalih berarti : mengikuti hukum-hukum Alloh (Sunnatullah) yang tidak tertulis dengan baik / benar. Apabila kita tidak dapat mengikuti sunnatullah pasti tidak akan berhasil dengan baik.

Suatu kenyataan lain terlihat pula pada ayat terakhir ini. Di dalam kebanyakan ayat-ayat al Qur’an pernyataan iman selalu dirangkaikan Alloh dengan ‘amal shalih, sehingga kebanyakan orang sering memahami, bahwa amal shalih tidak mungkin dipisahkan dari iman, atau amal shalih tidak ada nilainya (pahala) apabila tidak didasari oleh iman. Didasari iman atau tidak, amal shalih merupakan mutlak sebagai perilaku manusia yang baik / benar sesuai dengan sunnatullah.

Akan tetapi Alloh menginginkan bahwa orang-orang yang beriman kepada Alloh SWT sanggup melakukan amal shalih (melakukan perbuatan yang sesuai dengan hukum-hukum Alloh). Atau sudah seharusnyalah orang yang mengaku beriman mengerti tentang fungsi hidup dan tata kehidupan yang sesuai dengan ketentuan Alloh SWT.

Akan tetapi kenyataannya tidak demikian, maka timbul pertanyaan, mengapa orang-orang Muslim tidak dapat menguasai dunia?

mungkin, ummat muslim belum ber-amal shalih, walaupun barangkali sudah beriman. karena Alloh SWT menginginkan umat muslim melaksanakan hidup dan tata kehidupan yang seimbang.

Keimanan merupakan Verikal keatas, berhubungan langsung dengan Alloh SWT, sedangkan amal shalih horisontal, yang mempunyai hubungan erat dengan alam semesta dan seisinya, termasuk kemaslahatan umat manusia.

Pembuktian keberadaan Alloh SWT dapat difahami melalui pemahaman hukum-hukum Alloh (sunatullah) yang bersifat pasti dan absolut.

Hukum-hukum Alloh SWT (sunnatullah) bersifat sangat objektif. Sebagai contoh banyak manusia (non-muslim) yang diberi kekuasaan dan kekayaan yang berlimpah karena sanggup memahami sunnatullah dengan ilmu pengetahuannya. Sebab kita telah mengetahui bahwa sunnatullah adalah hukum kepastian.

Dibawah ini merupakan Contoh ekstrim, Insya Alloh dapat dijadikan bahan pemikiran pada kajian yang lain:

Kondisi I      :    Umat muslim mendirikan masjid dengan ketinggian 20 meter, tidak memasang penangkal petir (Lightning Arrester).

Kondisi II     :    Non-muslim mendirikan tempat ma’siat dengan ketinggian 20 meter, dengan memasang penangkal petir.

Pertanyaan   :    Pada musim hujan, yang manakah yang akan mengalami kehancuran disambar oleh petir?

Jawaban      :    Insya Alloh pada kondisi I, walaupun untuk kegiatan ibadah, dan didasari dengan iman (keyakinan) kepada Alloh SWT, karena tidak mengikuti sunnatullah, akan hancur disambar oleh petir.

Kata orang non-muslim penangkal petir (Lightning Arrester) ditemukan oleh Benyamin Franklin, akan tetapi bagi kita umat muslim, hal itu merupakan sunnatullah. (hukum ketetapan Alloh)

Jelas hukum Alloh (sunnatullah) bersifat sangat objektif.

Bertauhid kepada Alloh SWT secara istiqamah (Konsisten) terus-menerus dan paripurna, akan membuat ketenangan dan ketentraman bagi setiap manusia yang manjalankannya. Tidak ada sesuatupun yang dapat mempengaruhinya. Dan adanya bisikan-bisikan untuk selalu beramal shalih.

Bertauhid telah dicontohkan oleh Rasulullah (Nabi Muhammad SAW), melalui sikap, watak, ucapan dan tingkah laku Beliau, sebagai rujukan bagi setiap mu’min, sebagai mana difirmankan Alloh pada surat al ahzab:

QS.33:21     “Sesungguhnya kamu dapati pada diri Rasulullah itu teladan yang terpuji bagi mereka, yang menaruh harapan kepada Alloh, dan yakin akan hari akhirat, dan senantiasa terkenang akan Alloh”

Siti Aisyah RA, menjawab:

“Tidakkah kau baca Al Qur’an? Itu gambaran akhlaq (budi pekerti) Rasulullah”

Bagaimana dengan kita sebagai manusia biasa?

Keberadaan Rasulullah adalah manusia biasa layaknya seperti kita.

QS.41:6       “Katakanlah: “Bahwasannya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasannya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada NYA dan mohonlah ampun kepada NYA. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan NYA”

Dari ayat ini maka, kita jangan sekali-kali membedakannya, misal:

“Muhammad-kan Nabi dan Rasul, sedangkan kita hanya manusia biasa”, Pendapat ini merupakan pendapat yang sangat menyesatkan kita (ummat muslim).

kalau kita telah mempunyai pendapat seperti itu, maka kita tidak akan pernah mencapai kemuliaan disisi Alloh.

Jawabannya:

  1. Kita telah mengakui Muhammad SAW, adalah Nabi dan Rasul Alloh.
  2. Kita telah meyakini Alloh SWT sebagai Tuhan kita.
  3. Kita telah memahami Al Qur’an sebagai penjelas (petunjuk dan larangan).

Mengapa kita tidak mencotoh Muhammad SAW, sebagai suri tauladan kita.

 

DZIKIR

Kalau kita ingin menjadi muslim yang sejati, marilah kita melihat sejarah ringkas dibawah ini :

“Sejak kecil, mungkin sebelum aqil baliq, Muhammad SAW selalu termenung (berdiam diri) dan bertanya-tanya tentang ciptaan Alloh dan keberadaan dirinya, sampai pada akhirnya saat usia (±13 tahun) dengan izin Alloh Muhammad dipertemukan dengan seorang ahli kitab yang bertaqwa kepada-NYA, Ahli kitab itu menjawab beberapa pertanyaan Muhammad.

“Ada yang menciptakan diatas penciptaan, yaitu Alloh SWT Yang Maha Pencipta, Alloh yang menciptakan Alam Semesta, dan seisinya termasuk manusia”

Sejak itu beliau, berpendapat bahwa Alloh merupakan pusat segalanya, diatas pusat-pusat yang ada. Dan Beliau selalu, memikirkan keindahan atas penciptaan Alloh yang sangat sempurna. Sampai pada akhirnya beliau merindukan Alloh, dan beliau bertanya kembali kepada Ahli kitab, “bagaimanakah caranya untuk mendekatkan diri dengan Alloh?”

Ahli kitab menjawab: “Sebutlah Alloh setiap saat seperti yang dilakukan Ibrahim kekasih Alloh, untuk mencuci hatimu, dan kamu akan menemui kedamaian dan ketentraman yang tidak dimiliki oleh manusia manapun”

SubhanAlloh …!!

Sejak usia muda belia Nabi Muhammad SAW berzikir dengan menyebut nama Alloh, terus-menerus. Kenapa demikian, karena Beliau telah mengetahui keindahan dan keharmonisan alam semesta sebagai ciptaan Alloh SWT.

Bertauhid secara / istiqamah (consistent) terus menerus dan paripurna, akan memperoleh kesempurnaan yang sejati sebagai fitrah-nya manusia. Oleh karena itu, sikap watak ucapan dan tindak-tanduk Beliau (Rasulullah) Sebagai rujukan bagi setiap mukmin, Sebagaimana Alloh berfirman pada surat Al ahzab ayat 21.

Bagaimanakah cara mengingat Alloh SWT ?

QS.13:28     “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Alloh. Ingatlah dengan mengingat Alloh hati menjadi tentram”

Selalu mengingat Alloh SWT, dengan Zikrullah, yaitu menyebut nama Alloh dan Hu, dengan lemah lembut didalam hati, setiap saat sesuai dan seirama dengan nafas kehidupan kita.

Pada saat kita mengeluarkan udara dari hidung hati kita mengucapkan Alloh, dan saat kita menarik nafas hati kita mengucapkan Hu.

Inilah yang namanya zikir yang dapat menimbulkan kenikmatan. Tidak ada paksaan secara fisik dan tidak ada tekanan (karena seirama dengan nafas kehidupan kita), seakan-akan yang ada hanya Alloh mengalir disekujur tubuh kita, betapa nikmat dan indahnya.

SubhanAlloh … !

Mungkin kondisi ini sangat sulit sekali kita lakukan, karena keberadaan Alloh Ghoib (tidak dapat dilihat dengan mata kita yang dhohir ini), oleh sebab itu banyak diantara manusia yang tergelincir pada ke-Esa-an Alloh, maka berhati-hatilah.

Maka perlu dibantu dengan memikirkan dan memahami ciptaan-NYA.

Mengenal ciptaan Alloh berarti kita menyadari betul akan Kebesaran dan Kekuasaan Alloh. Maka pelajarilah dengan bantuan ilmu pengetahuan (Asma Kullaha) sesuai dengan firman Alloh pada surat Al baqarah.

QS.2:31       “Dan DIA yang mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat, lalu berfiman: “Sebutkanlah kepada KU nama benda-benda itu jika kamu (malaikat) memang oarng-orang yang benar”

Entah seberapa luasnya ilmu pengetahuan (Asma Kullaha) yang diajarkan Alloh kepada Nabi Adam AS, Allohu ‘alam bishawab …!

Akan tetapi kita yang terlahir pada zaman ini tidak menutup kemungkinan untuk mempelajarinya, karena Alloh telah memberikan Amanah kepada kita untuk menjadi khalifah dimuka bumi ini. Dan tidak ada batasan bagi kita untuk mempelajarinya, untuk pemahaman atas penciptaan NYA.

Mentauhidkan Alloh tidak semudah percaya akan wujudnya Alloh semata, akan tetapi dapat merasakan sekecil apapun yang dapat menduakan-NYA. Sebab syirik adalah dosa terbesar dan tak akan terampunkan oleh Alloh.

QS.4:48       “Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni orang-orang yang mensyirikkan NYA, tapi ia akan mengampuni kesalahan lain bagi siapa yang diperkenankan-NYA”.

QS.4:116     “Barang siapa mensyirikkan Alloh, sesungguhnya ia telah berdosa yang sangat besar” 

Dzikir adalah dasar yang pokok untuk Jiwa Tauhid, Jiwa Tauhid adalah dasar yang pokok dalam ajaran Islam. Jadi, apabila kita telah menyatakan diri kita muslim, maka janganlah meninggalkan dzikir sesaatpun.

 

TAUHID SEORANG MUSLIM

Tauhid adalah ajaran pokok yang disampaikan oleh setiap Nabi dan Rasul, yang diutus oleh Alloh sejak awal sejarah kemanusiaan. Namun sejarah kemanusiaan penuh dengan kegagalan dalam menghayati ajaran tauhid. Dengan tauhid kita mengenal kemerdekaan yang sangat haqiqi melekat pada setiap diri manusia. Nilai Kemerdekaan inilah yang dapat membedakan manusia dengan makhluk yang lain. Dan yang lebih penting adalah tanpa kemerdekaan manusia tidak mungkin menjalani hidupnya sebagai manusia.

Tiada tuhan selain Alloh, yang memang mutlak dan benar-benar nyata. Setiap muslim mengarahkan hidup dan kehidupannya hanya kepada Alloh SWT. Jadi apabila setiap muslim itu betul-betul beriman kepada Alloh maka ia menjadi manusia yang paling bebas dari segala macam bentuk keterikatan, kecuali keterikatan yang datang dari Alloh Penciptanya. Ia menghargai kemerdekaan sedemikian tingginya sehingga tanpa ragu-ragu, jika perlu ia siap mengorbankan hidupnya sendiri demi mempertahankan kemerdekaan itu. Jika hal ini terjadi maka ia akan mendapat kehormatan yang paling tinggi dari Alloh sendiri. Demikian tingginya kehormatan itu, sehingga ummat muslim dilarang Alloh mengatakan orang ini mati (wafat), jika ia gugur dalam mempertahankan haknya.

Karena walaupun tubuhnya sudah menjadi mayat, namun dalam penilaian Alloh SWT orang ini tetap hidup. Apanya yang hidup? Tiada lain melainkan kemanusiaan-nya.

Harus selaras antara Tauhid Rububiyyah dengan Tauhid Ubudiyyah.

 

IBADAH ADALAH OBAT

Apakah manusia berbuat ma’siyat, apakah merugikan Alloh ? ya, tidak.

Walaupun seluruh jagad ini ma’siat semua, tidak akan merugikan Alloh.

Atau seandainya seluruh jagad ini taqwa kepada Alloh semua, apakah menguntungkan Alloh ? ya, tidak.

Adapun manfaat dan mudhorotnya itu kembali kepada dirinya masing-masing.

Lalu, kalau memang ibadahnya seluruh manusia sejagad ini tidak ada manfaatnya bagi Alloh, dan ma’siatnya seluruh manusia sejagad ini tidak ada mudhorotnya bagi Alloh, lalu mengapakah kita diperintahkan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan ?

Coba kita tafakur !!

ö  Seandainya tidak ada perintah sama sekali, apakah kita bisa mengetahui mana yang taat dan mana yang tidak taat?

ö  Seandainya tidak ada larangan sama sekali, apakah kita bisa mengetahui mana yang patuh dan mana yang tidak patuh?

Jawabnya, Jelas tidak akan tahu.

Setelah ada perintah melaksanakan sesuatu, kemudian kita tidak mau melaksanakannya, maka barulah kita mengetahui manusia tersebut taat ataukah ma’siat.

Jadi manfaatnya ibadah itu tidak kembali kepada Alloh, tetapi kembali pada dirinya sendiri.

Bila melanggar larangan Alloh, maka mudhorotnya juga kembali pada dirinya sendiri, tidak kembali kepada Alloh.

Karena Alloh Ta’ala itu : “GHONIYYUN” Kaya Muthlaq.

Maka ibadah itu seperti obat untuk menyembuhkan diri kita dari berbagai macam penyakit ruhani.

Wudhu itu obat, Sholat itu adalah Obat, dan begitu juga dengan ibadah-ibadah yang lain.

ö  Sholat adalah seperti pil yang ada dosisnya; shubuh dua raka’at, dhuhur empat raka’at, ‘ashar empat raka’at, maghrib tiga roka’at, dan ‘isya empat raka’at, resepnya sudah baku seperti itu, ini adalah resap dari Malaikat dan jangan sampai dilanggar.

ö  Adalagi obat yang bukan berupa pil tetapi injeksi yaitu seperti ilmu Tauhid, itu merupakan obat injeksi yang disuntikan atau dimasukan ke dalam ruhani.

ö  Ada pula pengobatan memakai operasi yakni seperti ajaran tashawuf.

ö  Ada juga pengobatan dengan cara konsultasi atau dengan anjuran-anjuran, seperti disarankan : kalau ingin sehat harus makan ini dan jangan makan itu.

Dan semua obat-obat itu adalah demi untuk kesehatan ruhani.

 

VERSUS TAUHID

Yang membatalkan kondisi Tauhid kepada Alloh SWT, adalah Syirik, dari kata syaraka yaitu mencampurkan 2 atau lebih benda/hal yang tidak sama menjadi seolah-olah sama. Misalnya: mencampurkan beras kelas 2 dengan beras kelas 1, disebut beras Isyrak. Lawan kata syirik adalah Khalasha (murni/khalish)

Syirik adalah dosa besar yang tidak terampuni, sesuai dengan firman Alloh:

QS.4:48       “Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni orang-orang yang mensyirikan-NYA. Dan DIA mengampuni segala Dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki NYA. Barang siapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”

QS.4:116     “Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan DIA, dan DIA mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki NYA. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Alloh, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”

Jika kita mau mengurutkan pergeseran nilai-nilai tauhid maka kita akan menyadari betapa sulitnya menjadi seorang muslim, apalagi untuk mencari ridha’ Alloh.

Tingkah laku apa sajakah yang termasuk perbuatan syirik?

Banyak hal yang dapat menggeserkan nilai tauhid, tingkah laku apa sajakah yang termasuk Syirik:

  1. Gelar yang kita sandang/pakai, terkadang akan menggeserkan.
  2. Kemampuan yang ada pada kita.
  3. Kelemahan yang ada pada kita.

Terdorong dari sifat Ria/ujub akan membawa kita pada tingkah laku sombong.

Contoh :      Terkadang kita merasa/cenderung minta dihormati (sengaja atau  tidak sengaja), jika kita dipanggil dengan menyebutkan gelar kita, maka kita menyahut, kalau tidak, maka kita tidak menyahut.

Padahal gelar itu Hak Alloh semata.

HR. Muslim       “Duduklah jangan kalian perlakukan (hormati) aku seperti orang-orang musyrik memperlakukan kaisar mereka atau umat nasrani menghormati Isa Almasih”

Ketika Rasulullah dipanggil dengan sebutan Sayidina:

HR. Muslim       “Jangan begitu ! sesungguhnya aku ini hanya manusia biasa, anak seorang perempuan arab yang biasa makan dendeng”

Kalau kita benar – benar mentauhidkan Alloh SWT, maka kita tidak mengenal Gelar bangsawan, Raden, Tengku, Profesor, Doctor, Haji sekalipun, yang kiranya akan mendekatkan diri kepada perbuatan syirik, karena syaitan akan membesar-besarkan gelar kita dan akhirnya kita menjadi sombong (walau hanya sedikit). Sabda Rasullullah:

HR Muslim   “Tidak akan masuk Syurga orang yang didalam hatinya ada kibir (sombong) walaupun sebesar zarah”

Nrimo

Firmaan Alloh pada surat Al Isra

QS. 17:36    “Janganlah ikuti apa yang tiada kamu ketahui. Sungguh, pendengaran, penglihatan dan perasaan hati, masing-masing akan dimintai pertanggung jawaban”

Pada ayat ini Alloh melarang sikap nrimo dan sekaligus termaktub makna untuk belajar agar kita mengetahui terlebih dahulu, sesuai dengan ayat yang pertama yang diturunkan / diwahyukan Alloh melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad SAW yaitu : Iqra, Iqra, Iqra Bismirabbikallazi Khalaq.

Nrimo pada sisi Sosiologi kita telah masuk pada kondisi statis, tidak sesuai dengan Firman Alloh pada surat Al Ahzab, ayat 72.

Jadi sikap nrimo sangat bertentangan dengan ayat ini, langit, bumi, dan gunung-gunung sifatnya nrimo (statis), kalau saja kita insyaf dengan ayat ini sungguh kita dalam kondisi yang baik, sebab kita saling mengingatkan dan saling belajar-mengajar dan yang lebih terpenting lagi adalah menyampaikan dan melaksankan amanah Alloh SWT agar kita tidak termasuk orang-orang yang amat Zalim dan amat bodoh.

Nrimo adalah sesuatu hal yang tidak sesuai kondisi, tetapi tetap diterima.

Secara Sosiologi sifat Nrimo sangat bertentangan dengan kemerdekaan, sedangkan Kemerdekaan adalah cerminan Tauhid. Sifat nrimo mengarahkan manusia pada sifat syirik, Marilah kita renungkan sejenak.

Sifat Nrimo mengarahkan pada kondisi perbudakan, secara langsung atau tidak langsung, membentuk tuan-tuan yang dihormati dan diagungkan. Hal ini jelas akan menggeserkan nilai tauhid pada kondisi Syirik.

Secara langsung/tidak langsung sikap nrimo akan menggadaikan Hak Azasi, sedangkan Alloh telah berjanji akan memberikan kemenangan beserta amanah kepemimpinan dan pewaris kepada mereka yang berjuang untuk merebut kembali Hak Azasi mereka yang merupakan anugrah Alloh SWT.

QS.28:5       “Dan kami hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang tertindas dibumi, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi”

Kelemahan yang ada (pada manusia) kita rasakan adalah suatu ujian yang sangat berat yang terkadang kita pada kondisi Nrimo kalau tidak segera sadar, maka kelemahan akan berkembang pada sifat syirik, yaitu;

  1. Apatis
  2. Ke dukun / mencari kedigjayaan / ilmu pertapa.
  3. Bernaung pada yang kuat / kuasa ( mempertuankan ).

Kemampuan-pun adalah suatu ujian yang tak kalah beratnya diluar kesadaran kita akan melakukan hal-hal yang bersifat kibir (sombong).

Dari hal tersebut diatas jelaslah bahwa apabila kita tidak selalu ingat dengan Alloh maka pada kondisi apapun akan mengarahkan kita pada sifat Syirik.   Astaghfirullah…!

QS.35:27-28      “Orang-orang yang berpengetahuan yang sebenar-benar takut kepada Alloh”.

–o0o–

 

KESELARASAN ASPEK KEHIDUPAN

ISLAM : KESELARASAN ASPEK KEHIDUPAN BERMULA DARI TAUHID

QS.10:19     “Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhan mu dahulu, pastilah telah diberi keputusan diantara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan”

Kita telah mengenal sedikit mengenai tauhid dan kiranya perlu terus dikembangkan untuk menumbuhkan kecintaan kita terhadap Alloh SWT. Alloh yang mengatur seluruh aspek kehidupan, akan tetapi Alloh tidak memaksakan (mengatur) manusia kecuali dengan sunnah (hukum/peraturan)-nya yang sedemikian bagusnya, sehingga kita tidak dapat terlepas darinya.

Telah kita jelaskan diatas pembagian dari sunnatullah yang melekat pada diri manusia secara individu maupun menyeluruh.

Apakah kita akan lari dari sunnatullah?

Sunnatullah

Kata Islam dapat juga diartikan dengan tunduk dan patuh kepada iradah (kehendak) Alloh, maka kiranya kehendak Alloh perlu kita pelajari.

Sunnah (Hukum) Alloh merupakan ketentuan dari Alloh yang besifat pasti, dan memiliki kondisi sebab-akibat. Hal ini juga merupakan faktor keserasian dan keharmonisan alam jagat semesta. Hukum Alloh satu dengan yang lainnya sangat berhubungan erat atau adanya keterkaitan (sinergi). Tidak ada seorang manusiapun yang lepas dari sunnatullah Alloh.

Sunnatullah merupakan kepastian yang memudahkan manusia untuk mengenal ciptaannya dan memahami suatu proses (apabila manusia itu memikirkan apakah manusia itu muslim atau bukan) sebab kita sering mendengar para ilmuwan (manusia non muslim yang suka memikirkan kejadian alam semesta) mengikrarkan diri masuk kedalam agama Islam. Allohu ‘alam bishawab …!

 

Sunnatullah Alam (Universe)

QS.67:3-4    “DIA yang telah menciptakan tujuh susun langit, tidak akan kamu jumpai dalam ciptaan al Rahman ini suatu cacatpun; cobalah selidiki ulang jika kamu menemukan suatu cacat. Kemudian ulangi lagi penyelidikanmu itu kedua kalinya, sampai pandanganmu kabur karena matamu kelelahan (mencari cacatnya)”

Jika kita mau memperhatikan Alam semesta melalui ilmu pengetahuan fisika, matematika, astronomi atau yang lainnya, maka kita akan mengenal 3 kondisi secara umum.

  • Pasti (Exact)

QS.25:2  “DIA-lah penguasa langit dan bumi, DIA tidak memerlukan anak dan tak perlu bagi NYA rekan dalam kerajaan NYA itu, IA menciptakan segalanya, dan DIA Yang MEMASTIKAN setiap KETENTUAN.

QS.65:3  “Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupi (keperluan/kebutuhan)- nya. Sesungguhnya Alloh telah menjadikan segala sesuatu dengan KEPASTIAN bagi tiap-tiap sesuatu”.

  • Tetap (Immutable)

Ketetapan dalam hukum-hukum, baik hukum bagi benda mati maupun hukum bagi benda hidup (makhluk hidup).

QS.6:115    “Telah sempurnalah kalimat Tuhan-mu (Al Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil, tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-NYA, dan DIA-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Ketetapan hasil akhir, dalam kehidupan sosial manusia.

QS.17:77    “(Kami menetapkan yang demikian) sebagai sesuatu ketetapan terhadap Rasul-Rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu, dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan kami”.

  • Obyektif (Objective)

Alloh tidak akan merubah nasib suatu kaum, apabila kaum itu sendiri yang merubahnya. Nilai-nilai obyektifitas Alloh menitik beratkan bagaimana manusia itu sendiri. Dan sesungguhnya Alloh telah menetapkan, akan mewarisi dunia ini kepada manusia yang shaleh. QS.21:105.

 

Sunnatullah Amal Sholeh

Amal = perbuatan, sholeh = baik/benar (sesuai dengan ketetapan Alloh) berdasarkan ilmu pengetahuan (asma kullah).

Pergesaran pengertian dari amal shaleh terkadang cukup membuat kita terkecoh dan membekas (sulit untuk dirubah). Baik secara sadar maupun tidak, apabila kita berbicara mengenai Amal Shaleh, maka kita tidak akan terlepas dari asma kullah (ilmu pengetahuan). Sementara kita mengetahui bahwa yang disebut sebagai Amal Shaleh adalah melaksanakan / melakukan perbuatan baik sesama manusia dan melaksanakan / melakukan syariat islam (misalnya; shalat, zikir, sadaqah dan lain sebagainya). Akan tetapi, ada yang lebih penting dari itu semua adalah, dimana kita (manusia) sebagai pewaris bumi.

Pewaris bumi bukan berarti memiliki bumi, akan tetapi dapat hidup dimuka bumi ini (mencari nafkah) dengan tidak menyusahkan orang lain, atau memakai / berdasarkan ilmu pengetahuan.

Seharusnya kita sebagai umat muslim dapat menghayati kata-kata ini dengan baik dan benar, mengerti dan memahami betapa pentingnya ilmu pengetahuan untuk mengelola hidup dan kehidupan kita (manusia) dimuka bumi ini.

Amal shaleh inipun berhubungan dengan orang-orang non-muslim yang dianggap baik, pada kesempatan mencari nafkah. Kalau kita fahami lebih jauh lagi secara Obyektif, “Bahwa sesungguhnya Dunia ini akan diwarisi oleh hamba-hamba KU yang shaleh” tidak terbatas pada umat muslim saja.

Shaleh disini dapat dikatakan orang yang memiliki ilmu pengetahu-an secara benar dan diterapkan secara benar pula. Sedangkan Dunia dapat diartikan dengan ruang lingkup/gerak kehidupan manusia. Diwarisi dapat diartikan dengan diberi kemudahan dalam segala urusan dunia.

 

Sunnatullah Tidak Diwahyukan

Semua ilmu pengetahuan yang kita kenal dan pelajari merupakan hukum ketetapan dan kepastian Alloh. Baik ilmu pengetahuan eksakta maupun ilmu pengetahuan social. Salah satu gambaran atau ibarat Al Qur’an :

QS.13:17      “Alloh menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air dari lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya, seperti buih arus itu. Demikian alloh membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang Bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya, adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikian Alloh membuat perumpamaan-perumpamaan”.

 

Sunnatullah Diwahyukan

Ketetapan dan hukum-hukum Alloh yang tertulis pada kitab-kitab Alloh (Zabur, Taurat, Injil dan Al Qur’an).

Lihat pada beriman kepada kitab-kitab Alloh Ta’ala.

–o0o–

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s